Menyambung catatan gue sebelumnya mengenai 100 film terbaik sepanjang masa (versi gue), kali ini gue mau sharing aja mengenai film-film Indonesia yang gue anggap terbaik dan jadi favorit gue. Kenapa juga gue mesti bedain list film favorit gue antara film Indonesia dan Film Asing, bukan karena gue menganggap perbedaan kualitas ya. Tapi biar gue bisa lebih fokus aja dalam ‘bercerita’ dan menyusun list ini.

Dan sekali lagi, ini adalah list versi gue yang sangat, sangat subyektif. Nggak ada acuan yang ‘jelas’ pula dari gue dalam membuat list ini selain karena soal selera, dimana gue manganggap film-film ini memiliki kesan tersendiri aja buat gue. Bisa karena ceritanya yang kuat, visualnya yang keren, atau hanya karena film tersebut bisa membuat gue terhibur dan nggak bosan untuk nonton berkali-kali, walau dari segi kualitas nggak ada bagus-bagusnya… hehehe

Tapi apapun, list ini hanya sekedar sharing aja. Mungkin dari loe semua ada yang setuju, tapi ada juga yang menolak habis-habisan. Well, that’s fine. Yang penting adalah gue dan mungkin juga loe pastinya punya harapan dan keinginan yang sama agar film Indonesia makin maju. Film-filmnya makin banyak yang bagus, tema-temanya makin ‘kaya’, dan yang pasti makin berkualitas dari segi teknis, termasuk makin ‘laku’ juga di pasaran. Semua faktor-faktor itu yang nantinya saling bersinergi untuk menghadirkan tontonan film nasional yang bermutu, dan nggak hanya berbicara soal setan, kuntilanak, atau seksualitas belaka.

So, ini beberapa daftar film Indonesia yang gue suka dan beberapa diantaranya gue anggap yang terbaik. (Untuk sinopsis gue sadur dari beberapa sumber tulisan ya. Karena gue nggak jago bikin sinopsis, hehehe)

1. Oeroeg

Sutradara: Hans Hylkema. Pemeran: Jeroen Krabbé, Rik Launspach, Martin Schwab, Joris Putman, Ayu Azhari

Oeoroeg yang pembuatannya merupakan kerjasama dengan pemerintah Belanda diadaptasi dari novel karya Hella S. Haasse dari Belanda. Film ini mengisahkan tentang seorang anak Belanda dan anak pembantunya yang berasal dari Indonesia tumbuh dewasa bersama. Pada akhirnya, alur hidup mereka akhirnya menempuh jalan yang berbeda. Ketika mereka bertemu lagi, di era perang kemerdekaan Indonesia, mereka sudah sangat berbeda dan sangat sulit untuk menemukan kebersamaan mereka lagi.

2. Berbagi Suami

Sutradara: Nia Dinata. Pemeran: Jajang C. Noer, Shanty, Rieke Diah Pitaloka, El Manik, Ira Maya Sopha, Tio Pakusadewo, Wingky Wiryawan, Nungki Kusumastuti, Lukman Sardi dan Dominique Agisca Diyose.

Berbagi Suami (judul rilis internasional: Love For Share) adalah sebuah film drama Indonesia yang dirilis pada 23 Maret 2006. Film ini bercerita tentang tiga wanita dari kebudayaan berbeda namun sama-sama mempunyai suami yang melakukan poligami. Dalam proses pembuatannya, film ini melalui proses observasi dan riset. Film ini adalah kisah poligami dari sudut pandang perempuan.

3. Arisan!

Sutradara: Nia Dinata. Pemeran: Cut Mini, Tora Sudiro, Surya Saputra. Aida Nurmala, Nico Siahaan, Rachel Maryam.

Arisan! adalah sebuah film drama satir mengenai kehidupan kosmopolitan di Jakarta. Film ini dirilis pada 2003. Arisan! menjadi salah satu dari hanya dua film yang berhasil memenangkan kelima penghargaan utama dalam Festival Film Indonesia 2004, yaitu Film Terbaik, Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik, Pemeran Pendukung Pria Terbaik, dan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik, setelah Ibunda ditahun 1986. Arisan! pun menjadi salah satu dari hanya sedikit dari film yang dinominasikan untuk seluruh kategori yang dapat diikuti oleh sebuah film dalam FFI, dan satu-satunya untuk dekade 2000an.

Film ini tampil dalam Festival Film Asean di Washington, DC, yang digelar 30 April – 7 Mei 2005.

Arisan menjadi ajang mereka berkumpul dan memperlihatkan kemapanan hidup mereka. Padahal di balik itu semua, mereka mempunyai masalah-masalah pribadi yang berusaha mereka tutupi. Seperti Sakti (Tora Sudiro) dari keluarga Batak, yang merupakan seorang gay. Andien (Aida Nurmala) berusaha membalas dendam suaminya yang selingkuh. Meimei (Cut Mini Theo) berusaha keras untuk memenuhi obsesinya yaitu memiliki anak. Sampai pada suatu titik di mana sebuah persahabatan yang sejati dari tiga karakter utama dalam film ini bisa menembus tembok keterasingan mereka.

4. Cau Bau Kan

Sutradara: Nia Dinata. Pemeran: oleh Niniek L. Karim, Ferry Salim dan Lola Amaria

Ca-bau-kan (Internasional: The Courtesan) adalah film drama romantis tahun 2002 dari Indonesia yang diangkat dari novel Ca-Bau-Kan (Hanya Sebuah Dosa) karya penulis Indonesia Remy Sylado. Dengan setting cerita yang mencakup zaman kolonial Belanda pada tahun 1930-an, pendudukan Jepang pada 1940-an, hingga pasca-kemerdekaan tahun 1960. Istilah Ca-bau-kan sendiri adalah Bahasa Hokkian yang berarti “perempuan”, yang saat zaman kolonial diasosiasikan dengan pelacur, gundik, atau perempuan simpanan orang Tionghoa. Pada zaman kolonial Belanda di Indonesia, banyak Ca-bau-kan yang sebelumnya bekerja sebagai wanita penghibur sebelum diperistri oleh orang Tionghoa.

Ca-bau-kan dianggap cukup kontroversial saat pertama kali dirilis, karena beberapa hal, selain karena dibesut sutradara wanita yang masih jarang di perfilman Indonesia pada masa itu. Pertama karena film ini adalah film Indonesia pertama yang menggunakan judul bahasa asing (Hokkian) yang tidak akan boleh digunakan pada era Orde Baru. Dan juga karena film ini adalah film Indonesia pertama yang sarat dengan tema budaya dan bahasa Tionghoa di Indonesia yang kental pada zaman kolonial Belanda. Film ini juga adalah film Indonesia pertama yang diperankan oleh orang berdarah Tionghoa dan menggambarkan peran mereka dalam perang kemerdekaan 1945-1949.

Film ini didistribusikan oleh Kalyana Shira Film dan dirilis 7 Februari 2002 di Jakarta, Indonesia. Ca-bau-kan pertama kali ditayangkan di dunia perfilman internasional dalam Asia Pacific Film Festival tahun 2002 dan kemudian dalam Palm Springs International Film Festival tahun 2003.

5. Benyamin Biang Kerok

Benyamin Biang Kerok adalah film Indonesia yang yang dirilis pada tahun 1972 dengan disutradarai oleh Nawi Ismail. Film ini dibintangi antara lain oleh Benyamin S dan Ida Royani.

Pengki (Benyamin S.) selalu mengerjai majikannya, Johan (A.Hamid Arief), istrinya dan mertuanya. Dengan licik ia menjual bensin mobil, berlagak jadi tuan besar dengan mobil tuannya dan merayu gadis-gadis cantik. Ia selalu lolos dari ulahnya yang merugikan orang lain itu, kecuali terakhir sekali ketika dua gadis cantik yang dikencaninya sama-sama datang ke rumah majikannya yang diaku sebagai rumahnya sendiri. Tamatlah riwayatnya sebagai sopir. Ia dipecat, meski tatap sambil mengejek.

6. Daun di Atas Bantal

Daun di Atas Bantal adalah sebuah film Indonesia tahun 1998 yang disutradarai Garin Nugroho. Film ini menceritakan tentang seorang ibu yang bernama Asih (Christine Hakim) beserta tiga orang anaknya Heru, Sugeng, dan Kancil yang tinggal di jalanan kota Yogyakarta, Indonesia.

Film ini diproduksi oleh Christine Hakim, dan seharusnya selesai pada bulan Oktober 1997, tetapi akibat krisis ekonomi di Indonesia, maka akhirnya diselesaikan di Australia. Dana penyelesaian datang dari beberapa sumber, seperti Hubert Bals Fund, NHK, dan RCTI. Selain itu film ini juga sudah dibuatkan untuk versi TV-nya.

Cerita ini berfokus di mana ketiga anak ini hidup dari menjual ganja dan hidup di jalanan dengan harapan bisa keluar dari kemiskinan mereka. Akar dari permasalahan mereka sebenarnya akibat Asih selalu tidak menghiraukan mereka. Setiap malam ketiga anak ini selalu berkelahi untuk memperebutkan Bantal Daun kepunyaan Asih. tetapi harapan mereka pupus, ketika takdir mereka berakhir tragis.

7. GIE

Gie (2005) adalah sebuah film garapan sutradara Riri Riza. Gie mengisahkan seorang tokoh bernama Soe Hok Gie, mahasiswa Universitas Indonesia yang lebih dikenal sebagai demonstran dan pecinta alam.

Film ini diangkat dari buku Catatan Seorang Demonstran karya Gie sendiri, namun ditambahkan beberapa tokoh fiktif agar ceritanya lebih dramatis. Menurut Riri Riza, hingga Desember 2005, 350.000 orang telah menonton film ini. Pada Festival Film Indonesia 2005, Gie memenangkan tiga penghargaan, masing-masing dalam kategori Film Terbaik, Aktor Terbaik (Nicholas Saputra), dan Penata Sinematografi Terbaik (Yudi Datau).

Soe Hok Gie dibesarkan di sebuah keluarga keturunan Tionghoa yang tidak begitu kaya dan berdomisili di Jakarta. Sejak remaja, Hok Gie sudah mengembangkan minat terhadap konsep-konsep idealis yang dipaparkan oleh intelek-intelek kelas dunia. Semangat pejuangnya, setiakawannya, dan hatinya yang dipenuhi kepedulian sejati akan orang lain dan tanah airnya membaur di dalam diri Hok Gie kecil dan membentuk dirinya menjadi pribadi yang tidak toleran terhadap ketidakadilan dan mengimpikan Indonesia yang didasari oleh keadilan dan kebenaran yang murni. Semangat ini sering salah dimengerti orang lain. Bahkan sahabat-sahabat Hok Gie, Tan Tjin Han dan Herman Lantang bertanya “Untuk apa semua perlawanan ini?”. Pertanyaan ini dengan kalem dijawab Soe dengan penjelasan akan kesadarannya bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati dan hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar, dan memberontaklah caranya. Semboyan Soe Hok Gie yang mengesankan berbunyi, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”

Masa remaja dan kuliah Hok Gie dijalani di bawah rezim pelopor kemerdekaan Indonesia Bung Karno, yang ditandai dengan konflik antara militer dengan PKI. Soe dan teman-temannya bersikeras bahwa mereka tidak memihak golongan manapun. Meskipun Hok Gie menghormati Sukarno sebagai founding father negara Indonesia, Hok Gie begitu membenci pemerintahan Sukarno yang diktator dan menyebabkan hak rakyat yang miskin terinjak-injak. Hok Gie tahu banyak tentang ketidakadilan sosial, penyalahgunaan kedaulatan, dan korupsi di bawah pemerintahan Sukarno, dan dengan tegas bersuara menulis kritikan-kritikan yang tajam di media. Soe juga sangat membenci bagaimana banyak mahasiswa berkedudukan senat janji-janji manisnya hanya omong kosong belaka yang mengedoki usaha mereka memperalat situasi politik untuk memperoleh keuntungan pribadi. Penentangan ini memenangkan banyak simpati bagi Hok Gie, tetapi juga memprovokasikan banyak musuh. Banyak interest group berusaha melobi Soe untuk mendukung kampanyenya, sementara musuh-musuh Hok Gie bersemangat menggunakan setiap kesempatan untuk mengintimidasi dirinya.

Tan Tjin Han, teman kecil Hok Gie, sudah lama mengagumi keuletan dan keberanian Soe Hok Gie, namun dirinya sendiri tidak memiliki semangat pejuang yang sama. Dalam usia berkepala dua, kedua lelaki dipertemukan kembali meski hanya sebentar. Hok Gie menemukan bahwa Tan telah terlibat PKI tetapi tidak tahu konsekuensi apa yang sebenarnya menantinya. Hok Gie mendesak Tan untuk menanggalkan segala ikatan dengan PKI dan bersembunyi, tetapi Tan tidak menerima desakan tersebut.

Hok Gie dan teman-temannya menghabiskan waktu luang mereka naik gunung dan menikmati alam Indonesia yang asri dengan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) UI. Selain itu, mereka juga gemar menonton dan menganalisa film, menikmati kesenian-kesenian tradisional, dan menghadiri pesta-pesta.

Film ini menggambarkan petualangan Soe Hok Gie mencapai tujuannya untuk menggulingkan rezim Sukarno, dan perubahan-perubahan dalam hidupnya setelah tujuan ini tercapai.

8. Perempuan Punya Cerita

Perempuan Punya Cerita merupakan kumpulan 4 film pendek yang dikemas dalam sebuah film drama Indonesia yang dirilis pada tahun 2008. Film ini dibuat dengan mendekati subyek mereka memakai perspektif perempuan.

Film ini terdiri dari empat segmen yang disutradarai oleh empat sutradara dan dua penulis skenario yang berbeda. Segmen pertama dengan judul Cerita Pulau ditulis oleh Vivian Idris dan disutradarai oleh Fatimah Rony. Segmen ke-dua berjudul Cerita Yogyakarta ditulis oleh Vivian Idris dan disutradarai oleh Upi Avianto. Segmen ke-tiga berjudul Cerita Cibinong ditulis oleh Melissa Karim dan disutradarai oleh Nia Dinata. Segmen ke-empat berjudul Cerita Jakarta ditulis oleh Melissa Karim dan disutradarai oleh Lasja Fauzia Susatyo

Perempuan Punya Cerita dibintangi antara lain oleh Fauzi Baadila dan Kirana Larasati. Tayangan perdananya pada pertengahan Januari 2008.

9. Long Road to Heaven

Long Road to Heaven (Indonesia: Makna di balik tragedi) merupakan sebuah film Indonesia yang dirilis pada tahun 2007. Film ini menceritakan kisah tragedi Bom Bali 2002. Pemain utamanya di film ini ialah Raelee Hill, Mirrah Foulkes, Alex Komang, Surya Saputra dan masih banyak lagi.

Hannah Catrelle (Mirrah Foulkes) warga negara Amerika yang tinggal di Bali ketika bom meledak. Di tengah-tengah kekacauan ia bertemu dengan Haji Ismail (Joshua Pandelaki) lelaki muslim warga Bali yang besama-sama menjadi sukarelawan, Liz Thompson (Raelee Hill) wartawan Australia yang datang ke Bali tujuh bulan setelah pemboman dipertemukan dengan Wayan Diya (Alex Komang) sopir taksi asli Bali.

Wayan yang semula sangat tertutup terhadap Liz akhirnya bercerita tentang adiknya menjadi korban dalam tragedi tersebut. Cerita yang berlangsung saat ini itu berselang-seling dengan flash back perencanaan bom bali yang diadakan oleh Imam Samudra, dan kawan-kawan.

10. Laskar Pelangi

Laskar Pelangi (2008) adalah sebuah film garapan sutradara Riri Riza yang dirilis pada Jumat, 26 September 2008 pada saat libur Lebaran. Film Laskar Pelangi merupakan karya adaptasi dari buku Laskar Pelangi yang ditulis oleh Andrea Hirata. Skenarionya ditulis oleh Salman Aristo yang juga menulis naskah film Ayat-Ayat Cinta dibantu oleh Riri Riza dan Mira Lesmana. Hingga Maret 2009, Laskar Pelangi telah ditonton oleh 4,6 juta orang[1], menjadikannya film terbanyak ditonton di Indonesia keempat, setelah Jelangkung dengan 5,7 Juta, Pocong 2 dengan 5,1 Juta, dan Ada Apa Dengan Cinta dengan 4,9 Juta.

Sang Pemimpi merupakan film kedua yang diadaptasi dari novel karya Andrea Hirata. Mira sendiri tak berani memasang target bahwa film ini harus melampaui prestasi yang telah diraih film Laskar Pelangi, yang telah ditonton oleh 4,6 juta orang. “Kita enggak berani memasang target, karena penonton kita memang sulit ditebak. Tapi, tetap kita akan mencoba berbuat yang terbaik,” ujarnya. (EH)

Untuk mencari pemeran tokoh-tokoh anggota Laskar Pelangi, Riri Riza melakukan casting di daerah Belitung dengan menggunakan pemeran-pemeran lokal dalam pembuatan film. Film ini juga diambil di lokasi yang sama, Pulau Belitung. Film ini memadukan 12 aktor Indonesia yang dikenal dengan kemampuan akting mereka dengan 12 anak-anak Belitung asli yang bertalenta akting.

11. Mendadak Dangdut

Mendadak Dangdut adalah film Indonesia tahun 2006 yang disutradarai Rudi Soedjarwo dan dibintangi Titi Kamal, Kinaryosih dan Dwi Sasono. Skenarionya ditulis Monty Tiwa. Film ini berkisah tentang petualangan penyanyi alternative rock bernama Petris (Titi Kamal) yang karena suatu kejadian, tiba-tiba berganti karier menjadi penyanyi dangdut.

Proses pengambilan gambar Mendadak Dangdut hanya mengambil waktu 7 hari. Diproduksi Sinemart, film ini diputar mulai 10 Agustus 2006.

Soundtrack film ini berjudul Jablay dinyanyikan sendiri oleh Titi Kamal sempat menjadi hits di tangga lagu Indonesia.

Petris (Titi Kamal), vokalis wanita alternative rock baru mulai menanjak kariernya. Ia digambarkan sebagai gadis yang egois, pemarah, yang selalu memandang remeh segala sesuatu. Kakak sekaligus manejernya, Yulia (Kinaryosih) kerap dibentak-bentak. Suatu hari mereka tertangkap basah membawa narkoba yang sebenarnya milik kekasih Yulia.

Dalam pelariannya, Petris terpaksa menjadi penyanyi dangdut grup Senandung Citayam di bawah pimpinan Rizal (Dwi Sasono). Pekerjaannya menjadi penyanyi dangdut keliling, interkasi dengan tetangganya, termasuk TKI yang digebuki majikannya, membuat Petris berubah.

12. Mengejar Mas-mas

Mengejar Mas Mas adalah film drama komedi Indonesia yang dirilis pada tahun 2007. Film yang disutradari oleh Rudy Soedjarwo ini dibintangi antara lain oleh Dinna Olivia, Dwi Sasono dan Ira Wibowo.

Alkisah, seorang anak orang kaya di Jakarta, Shanaz (Poppy Sovia), tidak menyetujui ibunya menikah lagi, padahal ayahnya baru meninggal delapan bulan sebelumnya.

Tapi, ketidaksetujuan Shanaz yang sangat frontal dan kurangajar menyebabkan pertengkaran antara dua generasi berbeda tersebut yang berpuncak dengan kaburnya Shanaz ke Yogyakarta menyusul pacarnya yang sedang mendaki gunung di “kota gudeg” tersebut.

Tanpa bekal uang cukup dan pacarnya yang terlanjur naik gunung lebih cepat dari jadwal, Shanaz mendapati dirinya terlunta-lunta di Yogyakarta, hingga saat ia berkeliaran di daerah lokalisasi Pasar Kembang.

Di situ Shanaz mendapat gangguan dari preman hingga ia diselamatkan seorang pelacur jalanan, Ningsih (Dinna Olivia), yang menyelamatkannya, dan bahkan bersedia menampungnya di kamar kosnya selama beberapa hari.

Konflik muncul ketika sosok Mas Parno (Dwi Sasono) muncul di antara kedua perempuan berbeda budaya itu. Shanaz kemudian tertarik dengan Parno yang sebenarnya memendam cinta terhadap Ningsih.

Perbedaan antara anak gaul Jakarta dengan seorang pelacur baik hati dari Yogyakarta itu, kemudian menjadi inti dari film tersebut.

Shanaz yang kerap ceplas-ceplos beberapa kali menghina Ningsih cukup keras, baik disengaja atau tidak, sehingga cukup mengherankan ketika Ningsih tidak pernah terpikir untuk mengusir orang asing yang bahkan merebut Parno, “pacarnya” itu.

Monty Tiwa mengakui bahwa menulis tentang benturan kebudayaan sangat menantang karena menyadari bahwa Indonesia masih terdiri atas ribuan pulau dan adat istiadat berbeda.

13. Mereka Bilang Saya Monyet!

Mereka Bilang, Saya Monyet! adalah film drama Indonesia yang dirilis pada tahun 2007 dan disutradarai oleh Djenar Maesa Ayu. Film ini dibintangi antara lain oleh Henidar Amroe, Ray Sahetapy dan Jajang C. Noer.

Perhatian: Bagian di bawah ini mungkin akan membeberkan isi cerita yang penting atau akhir kisahnya.

Film ini berdasarkan novel yang dikarang oleh Djenar, sang sutradara sendiri, yang menceritakan tentang realitas yang memprihatinkan mengenai tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak-anak, disertai minimnya edukasi masyarakat terhadap hak asasi manusia yang sebenarnya dimiliki secara individu.

Film ini berkisah mengenai kehidupan seorang wanita dewasa bernama Adjeng, yang mencoba bergulat dengan segala aspek kehidupan yang menerpanya. Beranjak dari masa lalu yang kelam, ia memilih profesi sebagai penulis. Segala cara di tempuh Adjeng untuk memuluskan karirnya. Pelecehan yang sering diterima Adjeng semasa kecil dan perlakuan orang tua yang kurang layak membentuk karakter Adjeng dewasa jadi mendua. Di satu sisi, ia bersikap sangat agresif ketika sedang bersama teman–teman dan kekasihnya, namun di sisi lain ia terlihat begitu pasif di depan ibunya.

14. Naga Bonar

Naga Bonar adalah film komedi situasi yang mengambil latar peristiwa perjuangan rakyat Indonesia ketika sedang melawan penjajahan Belanda di daerah Sumatera Utara pada era kemerdekaan.

Naga Bonar (Deddy Mizwar) adalah seorang pencopet di Medan yang sering keluar-masuk penjara Jepang, ia bersahabat dengan seorang pemuda bernama Bujang. Sepulang dari penjara, Bang Pohan (Piet Pagau) mengatakan tentang proklamasi kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan di Jakarta, dan di Medan yang belum sempat dimerdekakan harus memperangi Belanda yang sudah memasuki wilayah Indonesia dengan maksud untuk berkuasa lagi. Lewat narator radio, diceritakan penolong Naga Bonar ketika sakit, Dokter Zulbi yang merupakan teman Bang Pohan diperkirakan sebagai mata-mata Belanda yang ternyata itu hanya isu. Naga Bonarpun menjadi tentara garis depan dalam perlawanan terhadap Belanda. Setelah beberapa perlawanan yang sengit, Naga Bonar dititahkan dari markas untuk mundur karena perundingan dengan Belanda mau dilaksanakan.

Perpindahan pasukan dari desa ke markas menjadi saat Naga Bonar mulai tertarik dengan anak Dokter Zulbi, Kirana (Nurul Arifin). Pada perundingan Belanda dengan Indonesia, Naga Bonar yang menjadi wakil Indonesia justru menunjuk Parit Buntar sebagai tempat wilayah tentaranya (karena Naga Bonar tidak bisa membaca peta). Juru tulis pasukan, Lukman, mengatakan bahwa Parit Buntar adalah tempat yang sudah diduduki oleh Belanda. Setelah itu, Naga Bonar mulai mendekati Kirana dengan hasil yang memuaskan. Sehari setelah itu, Bujang mengambil baju jenderal Naga Bonar dan pergi ke Parit Buntar untuk melawan Belanda, naas, ia tewas. Akhirnya bersama dengan Kirana, dan pasukannya pergi ke Parit Buntar untuk memusnahkan markas Belanda dan berhasil. Film diakhiri dengan orasi Naga Bonar dan Kirana kepada pemuda indonesia.

15. Catatan Si Boy

Catatan si Boy adalah film Indonesia yang dirilis pada tahun 1987 dan disutradarai oleh Nasri Cheppy. Film ini dibintangi antara lain oleh Onky Alexander, Didi Petet dan Meriam Bellina. Film ini menghasilkan empat sekuel pada tahun 1988, 1989, 1990 dan 1991.

Karena alasan tidak suka pada Boy (Onky Alexander), ayah Nuke segera ingin mengirim anaknya ke London untuk menyelesaikan kuliah. Sekarang Boy jadi rebutan antara Vera (Meriam Bellina) yang anak diplomat dan Ocha yang memang sudah lama menyayanginya. Apalagi sekarang saingan utamanya Nuke (Ayu Azhari) telah pergi jauh. Vera memang lebih agresif ketimbang Ocha. Boy pun mulai tertarik pada Vera. Tapi pergaulan mereka diketahui Jefri pacar Vera yang baru pulang dari Los Angeles. Karena cemburu itulah keduanya berkelahi. Boy jadi kesal sehingga dia sering main di pub. Kebetulan bertemu dengan Reny, wanita yang pernah ditolong dari penodongan. Tapi perkenalan itu tidak berlangsung lama karena Reny adalah pecandu narkotik. Ketka sedang asyik memotret Ina dalam suatu pertandingan softball Boy bertemu kembali dengan Nuke. Ternyata keduanya masih saling mencinta. Tapi sayang Ayah Nuke masih belum mau menerima Boy. Itulah sebabnya Nuke harus segera kembali ke London.

16. Pertaruhan

PERTARUHAN, sebuah dokumenter kolektif yang berkisah tentang berbagai kontroversi seputar tubuh perempuan yang telah lama menjadi perdebatan di sekitar kita. Di Indonesia, praktek sunat pada perempuan diterima secara luas oleh berbagai kalangan dengan alasan untuk “membersihkan” anak perempuan dari spirit setan yang akan mengarahkannya menjadi liar.

Meski demikian, sampai sekarang masih banyak orang yang tidak sadar akan adanya praktek ini. “UNTUK APA?” membawa penonton pada semrawutnya kepercayaan dan konteks dibalik praktek sunat perempuan. Orang Tionghoa percaya semakin tinggi tanah kuburan, mereka yang telah mati akan semakin dekat dengan nirwana. Gunung Bolo adalah kompleks kuburan Cina berbentuk bukit yang terletak di Tulungaggung. Selepas senja, kompleks kuburan yang tenang dan sunyi ini berganti fungsi menjadi lokasi prostitusi liar.

Nur dan Mira adalah pemecah batu yang malamnya menjadi pekerja seks di Gunung Bolo. Sepanjang hari mereka bekerja keras namun pendapatan mereka tidak pernah mencukupi. “RAGAT‘E ANAK” menggambarkan betapa kerasnya perjuangan Ibu untuk membiayai anaknya.

Di Indonesia, persepsi perempuan lajang adalah mereka yang tidak berhubungan seksual. Status “tidak menikah” ini menjadi kendala ketika mereka berusaha memeriksakan kesehatan reproduksinya. Mereka kerap kali terbentur dengan persepsi moral yang dituduhkan oleh pihak obstetri dan ginekologi / SpOG (Kebidanan dan Kandungan). Dengan mengikuti usaha para “Nona” dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan, “NONA NYONYA?” mempertanyakan pentingnya kesehatan versus penilaian moral.

Dalam “MENGUSAHAKAN CINTA”, Ruwati dan Riantini memilih menjadi buruh migran di Hongkong karena pendapatan yang lebih memadai daripada di Indonesia. Selain itu, di Hongkong mereka juga mendapatkan kebebasan dalam otonomi terhadap tubuh. Rian yang seorang lesbian, takut membawa hubungan cintanya saat ia kembali ke Indonesia. Adapun Ru, kerap gamang karena keperawanannya dipertanyakan oleh calon suami yang menunggunya. Dapatkah kedua perempuan ini memutuskan apa yang penting dalam hidup dan cinta?

17. Quickie Express

Quickie Express adalah sebuah film Indonesia yang ditayangkan pertama kali pada tanggal 22 November 2007 yang dibintangi Tora Sudiro, Amink, Lukman Sardi dan disutradarai Dimas Djayadiningrat. Sebuah film komedi dewasa yang menceritakan tentang tiga orang pemuda bernama Jojo (Tora Sudiro), Marley (Amink), dan Piktor (Lukman Sardi) yang berprofesi sebagai seorang gigolo.

Film ini juga memperkenalkan aktris pendatang baru Sandra Dewi. Juga melibatkan aktor dan aktris kawakan lainnya seperti Rudy Wowor, Tio Pakusadewo, Ira Maya Sopha, Ria Irawan, Tino Saroenggalo, serta pemeran pembantu lainnya seperti Melissa Karim, Reuben Elishama dan Imelda Therinne.

Perhatian: Bagian di bawah ini mungkin akan membeberkan isi cerita yang penting atau akhir kisahnya.

Jojo, seorang anak muda yang selalu bergonta-ganti pekerjaan yang hidup di Jakarta. Ia sadar bahwa dirinya bodoh dan tak berarti. Namun Jojo tidak pernah lelah berusaha untuk memulai dari nol, sampai akhirnya ia terpuruk menjadi pegawai di tukang tambal ban. Disinilah Jojo bertemu dengan seorang lelaki tua kaya raya yang menawarkannya pekerjaan di perusahaan “layanan escort” miliknya.

Untuk menghindari serangan protes dari kelompok religius di Jakarta, lelaki ini menjalankan bisnisnya dengan kedok pizza delivery service bernama Quickie Express.

Jojo bergabung bersama dua orang teman yang juga “anak baru” di Quickie Express, yaitu Marley dan Piktor. Dengan tampang dan keunikan mereka, tak lama kemudian mereka langsung menduduki posisi tinggi di perusahaan “escort” ini. Hidup mereka jauh lebih baik dan ternyata mereka menikmati pekerjaan mudah dan berkelas ini yang juga menghasilkan cukup banyak uang.

Namun, kebahagiaan mereka justru terusik saat Jojo bertemu dengan seorang gadis mahasiswi kedokteran dan jatuh cinta padanya, dan menemukan hubungan antara sang gadis dengan salah satu tante pelanggan dan mafia Jan Pieter Gunarto.

Quickie Express adalah sebuah film dark comedy yang penuh sindiran, bagaikan menggigit sepotong pizza yang terlihat lezat, tetapi ternyata alot bagaikan ban karet.

18. Radit dan Jani

Radit dan Jani merupakan sebuah film Indonesia yang dirilis pada tahun 2008. Film yang disutradarai oleh Upi Avianto ini dibintangi antara lain oleh Vino Bastian dan Fahrani. Tayangan perdananya pada 24 Januari 2008. Radit dan Jani menerima sambutan yang sangat meriah dari para kritikus dan dipasaran. Film ini mendapatkan 6 nominasi dalam FFI 2008, memenangkan dua diantaranya, Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Vino G. Bastian dan Pemeran Utama Wanita Terbaik untuk Fahrani. Film ini juga mendapatkan 7 nominasi dalam Indonesian Movie Awards 2008, memenangkan tiga diantaranya, Pemeran Utama Pria Terfavorit untuk Vino G. Bastian, Pasangan Terbaik dan Pasangan Terfavorit untuk Vino G. Bastian dan Fahrani.

Radit dan Jani (panggilan Anjani) adalah pasangan muda yang nekat menikah walau mendapat tentangan dari orang tua Jani. Tanpa bekal uang dan pekerjaan tetap, kehidupan yang keras harus mereka jalani. Apalagi ketergantungan Radit terhadap obat-obatan terlarang membuat langkah mereka semakin berat. Namun, kekuatan cinta mereka membuat semua kepahitan hidup tidak terasa.

Pada suatu hari, Jani mendapati dirinya hamil. Mereka pun terbangunkan oleh kenyataan, bahwa hidup mereka harus berubah. Radit berusaha keras untuk mendapatkan penghasilan tetap dan berhenti menggunakan narkoba, agar ia bisa membahagiakan Jani dan memberi masa depan kepada anak mereka.

19. Susahnya Jadi Perawan

Susahnya Jadi Perawan merupakan sebuah film Indonesia yang dirilis pada tahun 2008. Film yang disutradarai oleh Mirwan Suwarso ini dibintangi antara lain oleh Nova Eliza, Restu Sinaga, Al Fathir Muchtar, Andra Junaidi, Tio Pakusadewo, dan Julia Perez. Tayangan perdananya pada 2 Januari 2008.

Film ini bercerita tentang Halle (Nova Eliza), seorang musisi berbakat yang terpaksa bekerja sebagai pramusaji di sebuah bar untuk menghidupi dirinya. Halle memiliki cita-cita untuk memiliki pasangan yang sesuai dengan prinsip hidupnya. Selain itu, ia juga mempunyai mimpi untuk menjadi seorang penyanyi yang sukses. Sayangnya kehidupan pribadi Halle tidak seperti harapannya.

Dia kerap patah hati, ditipu, ditinggal, disakiti, yang membuatnya sangsi atas ketulusan laki-laki yang mendekatinya. Untuk menghibur diri, ia mengisi acara di tempatnya bekerja, menyanyi dan membawakan lagu lagu ciptaannya. Suatu hari, aksi Halle menyanyi menarik perhatian Andra (Dewa 19) dan Kevin Purba (Restu Sinaga) seorang produser musik dan langsung mengajaknya untuk bergabung di labelnya.

20. Romeo & Juliet

Film Romeo and Juliet garapan Andibachtiar Yusuf yang satu ini beda dengan film-film adaptasi klasik William Shakespeare lainnya. Ketika film-film sebelumnya berkisah soal peseteruan keluarga Capulet dan Monteque, film ini menampilkan kisah cinta dua suporter dari tim sepakbola yang berbeda. Yaitu antara Rangga (Edo Borne) dari the Jak dan Dessy (Sissy Priscilia) yang mati dan hidupnya akan terus mendukung Persib.

Begitu menonton ‘Romeo and Juliet‘ Anda langsung disuguhkan adegan kejar-kejaran antara suporter Persija dan Persib. Bentrokan pun tidak dapat dihindarkan. Di situlah, Rangga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Dessy.

Suatu saat Rangga yang keseharian menjual pernak-pernik the Jak mengunjungi Bandung untuk mencari kostum bola yang murah. Secara tidak sengaja ia pun bertemu dengan Dessy gadis idamannya. Dari situ hubungan mereka pun berlanjut.

Sayangnya, hubungan cinta terlarang Rangga-Dessy mulai tercium oleh suporter lain. Rangga mulai dicaci oleh Jak Mania lainnya, begitu juga Dessy. Dessy dilarang untuk menemui Rangga lagi oleh sang kakak (Alex Komang). Hingga akhirnya konflik demi konflik hadir di antara mereka.

Meskipun sudah berulang-ulang kali diadaptasi ke layar lebar, kisah ‘Romeo and Juliet’ tidak pernah membosankan. Apalagi jika temanya dimodifikasi menjadi lebih segar. Dengan menyaksikan ‘Romeo and Juliet’ ini, Anda tidak hanya disuguhan dengan sebuah drama percintaan. Tapi Anda akan diajak melihat lebih dekat apa yang ada di pikiran para suporter hingga mereka mati-matian membela klub sepakbolanya. Hal yang mungkin Anda anggap sepele sebelumnya.

Berdurasi 104 menit, alur ‘Romeo and Juliet’ terasa lambat awalnya. Namun di pertengahan film, alurnya membuat para penonton semakin penasaran untuk menebak akhir filmnya. Jika Anda sudah punya pengalaman menonton atau membaca karya William Shakespeare itu, Anda pasti sedikit terkaget dengan ending film ini.

Nuansa lokal sangat kental pun di film ini. Dialog-dialog yang digunakan adalah bahasa Sunda sehari-hari dan bahasa anak muda Jakarta yang lumayan kasar. Kata “anjing”, “tai” dan “Ngensbrai” (bersetubuh) tumpah ruah di dialognya.

Salah satu yang unik dari film ini yaitu gradasi warnanya. Untuk menguatkan aksen Persib, Yusuf memberikan gradasi kebiruan, dan ketika adegan bersetting Jakarta ia menampilkan gradasi oranye khas Persija.

Di jajaran aktor dan aktrisnya, Ramon T Yungka yang patut mendapat sorotan. Berperan sebagai Agus, akting Ramon yang ciamik seperti menenggelamkan Edo Borne, sang bintang utama. Aktingnya di film ini patut mendapat dua acungan jempol. Bahkan bintang ‘Ekskul‘ itu harus menaikkan berat badannya 10 kilogram supaya tampak tambun.

Lalu, apa film Indonesia favorit loe??

Baca juga: 100 Film Terbaik Sepanjang Masa (Versi Gue)