Dulu gue selalu menganggap arti dari kata ammonito dan espulso adalah ‘kartu kuning’ dan ‘kartu merah’. Istilah yang pastinya gue dapet dari setiap gue menonton pertandingan sepakbola Liga Italia. Tapi baru aja gue cek di Google Translate, ternyata arti dari ‘ammonito’ adalah ‘memperingatkan’ dan ‘espulso’ adalah ‘diusir’. Well artinya secara harfiah memang nggak jauh seperti apa yang gue anggap selama ini ternyata…

Ammonito dan Espulso adalah dua hal yang ingin dihindari oleh setiap pemain sepakbola diantara hal lain sperti: cedera, dijual ke klub lain padahal masih ingin bertahan, menjadi pemain cadangan, dan mengalami sebuah kekalahan dalam pertandingan tentunya. Dan kalo berandai-andai, jika gue adalah seorang pemain sepakbola dalam sebuah lapangan kehidupan, tentunya gue juga pingin kalo bisa sih jarang mendapat kartu kuning dan kartu merah dalam setiap perjalanan hidup gue. Walau kadangkala,tetep aja keputusan ada di tangan ‘wasit’, Sang Pengadil, yang dalam lapangan kehidupan tetap memiliki kewenangan penuh atas apa yang diputuskan dalam hidup gue.

________________________________________________

Dalam banyak sisi kehidupan yang udah gue lewatin, gue merasa udah banyak banget gue dapet ‘ammonito’ alias peringatan dalam hidup gue. Dan seperti kebanyakan pemain, saat gue mendapat ammonito, seringkali adalah gue nggak terima, marah bahkan membela diri. Gue selalu aja mencari pembenaran atas hal yang gue lakukan, dan gue selalu aja berpendapat kalo gue nggak layak untuk ‘dihadiahi’ kartu kuning.

Dalam sebuah pertandingan sepakbola, hadiah kartu kuning dari wasit memang nggak mengenakkan. Selain menambah daftar panjang catatan indisipliner, juga bisa membawa akibat buat dirinya dan mungkin juga buat tim kesluruhan hingga klub atau negara dimana dia bermain. Dengan mendapat kartu kuning, setiap pemain bisa saja membuka kesempatan untuk sebuah larangan bertanding, jika kartu kuning yang didapat terakumulasi dalam beberapa pertandingan. Bahkan jika dalam satu pertandingan ia mendapat dua kali kartu kuning, dia langsung diusir dari lapangan alias mendapat ‘espulso’. Dan ini jelas merugikan buat tim, karena keseimbangan permainan akan sangat terganggu. Dan efeknya bagi klub atau negara dimana pemain itu terdaftar, mereka harus mengeluarkan ‘cost lebih’ karena harus membayar uang denda kepada pihak ‘Komisi Disiplin’ dari penyelenggara Liga atau kejuaraan yang sedang diadakan.

Ammonito memang membawa banyak efek yang nggak enak. Begitu juga kalo gue harus mendapatkannya dalam hidup gue. Ketika gue harus mendapat ‘peringatan’ dalam hidup, gue kadang merasa susah, sedih, dan seringkali nggak bisa lagi melihat segala sesuatu dengan ‘kepala dingin’. Gue seringkali emosi dan cenderung nggak menerima keputusan ini. Memang gue bisa aja melayangkan protes pada sang Wasit Kehidupan, tapi seringkali yang ada adalah gue nggak sadar kalo dari sebuah ammonito yang harus gue terima justru gue sedang dijaga jalan hidup gue untuk lebih hati-hati lagi. Gue diperingatkan karena memang gue salah, walau kadang kala kesalahan itu nggak gue sadari. Ammonito adalah sebuah tanda langsung yang sebenarnya diberikan buat gue untuk gue mengerti dan ‘ngeh’.

Dampak dari sebuah ammonito memang bisa besar atau kecil buat gue. Peringatan yang gue terima bisa aja gue alamin dalam banyak bentuk. Misalnya aja gue menemui kendala, kegagalan, hingga peristiwa yang tidak menyenangkan. Dan baik langsung atau tidak langsung, selain berpengaruh ke diri gue sendiri, hal itu juga mungkin aja bisa berdampak ke orang-orang di sekitar gue, terutama keluarga.

Layaknya pemain bola yang bisa membawa kerugian buat tim secara umum, begitu juga mungkin aja keluarga gue pun mengalami dampak dari peringatan yang gue alamin. Tapi sebagaimana juga tim sepakbola yang meskipun dirugikan namun tetap bisa menerima katika salah seorang pemainnya di kartu kuning, keluarga gue pun sepertinya bisa memahami kalau di suatu masa gue harus mengalami peringatan ini. Bahkan mereka yang pada akhirnya selalu berada di belakang gue untuk selalu memberi dukungan.

Ammonito yang menjadi peringatan harus gue anggap sebagai sebuah pembelajaran. Agar gue nggak mendapatkan kartu kuning kedua dengan kata lain gue akan menerima espulso alias kartu merah. Gue juga harus berusaha agar ammonito yang nggak gue terima tidak terakumulasi; dengan kata lain gue sering mendapat peringatan; jadinya gue bisa lebih memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk memainkan peranan gue di sebuah permainan dalam lapangan kehidupan yang gue jalanin.

Mudah-mudahan sih gue nggak harus mendapatkan Espulso alias kartu merah dalam hidup gue, apapun bentuknya itu. Karena kartu merah merupakan sebuah bentuk hukuman dan bukan lagi sebuah peringatan. Espulso membuat pemain sepakbola tidak lagi mempunyai pilihan selain harus meninggalkan lapangan pertandingan, yang berarti adalah kehilangan haknya walau hanya sementara. Dan bahkan, di pertandingan berikutnya pemain yang bersangkutan masih mendapatkan sangsi tambahan untuk tidak boleh bermain. Belum lagi kerugian untuk tim dan uang denda yang tentu jumlahnya lebih besar yang harus dibayarkan oleh klub. Banyak bener ya kerugiannya…

Keindahan sebuah permainan memang bisa agak sedikit berkurang dengan adanya kartu kuning dan kartu merah. Tapi apapun ammonito dan espulso tetap dibutuhkan agar permainan tetap bisa berjalan dengan nila-nilai sportivitas. Dan dalam hidup gue, peringatan maupun hukuman memang tetap gue perlukan agar hidup gue tetap bisa gue jalanin dengan baik; walau sekali lagi gue kadang nggak lagi merasakan ‘keindahan’nya sementara waktu ketika gue harus mendapatkan ammonito ataupun espulso.

Tapi bagaimanapun permainana sepakbola harus tetap diselesaikan selama 90 menit. Begitu juga hidup gue. Seberapa pun banyaknya ammonito ataupun espulso yang gue terima nggak akan membuat kehidupan gue berhenti sebelum waktunya. Mungkin aja gue harus terusir dalam sebuah babak permainan, namun toh masih akan ada babak-babak permainan yang lain yang akan gue jalanin. Syukur-syukur sih, setelah mendapatkan ammonito atau espulso gue jadi lebih bisa hati-hati. Nggak asal main ‘jegal’ pemain lain, nggak lagi berbuat curang dan bertingkah laku nggak sportif, dan yang pastinya gue lebih bisa menerima kesalahan hingga kekalahan dalam sebuah permainan sekalipun.

Karena bagaimanapun, sang Pengadil yang akan menentukan keputusan dalam sebuah pertandingan, baik itu dalam konteks sepakbola maupun kehidupan gue. Bedanya, kalo dalam hidup gue sang Pengadil ini udah pasti nggak akan salah mengambil keputusan deh… Dan meskipun gue marah-marah sekalipun, Dia akan tetap tegas dengan keputusan itu. Dan mungkin aja Dia akan berujar, “Come on, lad! Loe akan ngerti kenapa kamu harus terima kartu ini. Dan yakin deh, loe akan bisa ‘bermain’ lebih cantik di pertandingan berikutnya. So, let’s go back to the game, ok!’

Dan bola-bola itu pastinya akan kembali bergulir di lapangan; begitu juga hidup gue.

Baca juga: Kenapa Gue Suka Sepakbola