Siang tadi gue terima sebuah undangan dari teman lama gue yang akhirnya akan menikah bulan ini. Walau gue nggak begitu dekat, tapi beberapa kali kesempatan kita seringkali ngobrol kesana kemari soal jodoh. Temen gue itu perempuan, dan usianya terpaut beberapa tahun di atas gue. Secara materi, dia sangat berkecukupan. Begitu juga dalam urusan sosial, temen gue itu cukup banyak bergaul lah…

Tapi seringkali yang menjadi pertanyaan yang selalu sulit dijawab adalah mengapa ia sulit menemukan orang yang tepat sebagai pendamping hidupnya. Hmm… pertanyaan yang sampe sekarang mungkin masih menggangu banyak orang di dunia ini yang belum menemukan pasangan jiwanya yang sejati. Hingga hari ini gue menerima undangan darinya, hanya sedikit kalimat terucap dalam hati, “Jadi juga loe married ya… Ikut seneng gue…” Teringat obrolan kita bedua beberapa waktu lalu. Tapi semuanya udah lewat, dan dia sudah menemukan pasangan jiwanya. Langsung deh gue jadi melo… Halah! Trus gue kapan ya? hehehe

____________________________________

Mungkin udah banyak banget buku, tulisan di blog, majalah, sampe artikel yang membahas soal ‘pencarian pasangan hidup’ ini. Banyak teori, gagasan, pendapat yang udah pernah dilontarkan. So nggak perlu lah kalo gue menuliskan kembali itu semua. Yang mau gue tulis yah seperti biasanya, hanya sekedar catatan iseng tentang segala sesuatu. Dan kalo memang kebetulan hari ini gue terima undangan dari teman gue dan ingin menulis, nggak papa lah kalo gue menulis lagi-lagi soal cinta (sejati) yang mungkin gue belum temukan hingga saat ini.

Hmm, cinta sejati? kayaknya berat amat ya… hehe. Gak terasa, udah berjalan hampir dua tahun gue sendiri setelah hubungan gue yang terakhir. Lalu apakah bisa disebut kalo yang ‘sejati’ itu masih bersembunyi atau malah ada tapi gue nggak sadar kehadirannya? Halah! lagi-lagi berteori dan berandai-andai… hehehe

Kalo jaman SMU atau jaman Kuliah dulu, istilah sejati mungkin aja nggak kepikiran. Intinya adalah gue seneng jalan ama dia, seneng berduaan, dan kalo kesepian ada yang nemenin. Mungkin sebatas itu. Kesejatian niscaya menjadi suatu yang sama sekali nggak pernah terlintas dalam pikiran.

Dan jika saat ini kesejatian itu kembali hadir dalam benak gue dan banyak orang lain yang kebetulan sampe umur segini belum juga married; bahkan masih jomblo, apa semua itu ada kaitannya dengan bentuk lain dari sebuah harapan akan sesuaatu yang indah yang ada di depan dan menunggu kita ya? Mungkin aja itu adalah sebuah dunia utopis, atau dunia khayalan, tapi bisa juga akan hadir dalam bentuknya yang paling sederhana… who knows?

Gue sendiri juga nggak mau berandai-andai jika memang sekarang gue masih sendiri. Kadang memang kerinduan itu hadir di saat yang gak tepat. Saat gue melalui banyak kesulitan seringkali gue merasa ‘sendiri’ dan kangen punya cewek lagi (?). Walau memang kadang, guenya juga sih yang terlalu manja. Kehadiran keluarga yang luar biasa, teman yang setia, tetep aja masih dirasa kurang memberikan penghiburan. Padahal yang mereka lakukan kadang seringkali melampaui kebutuhan gue akan kekuatan untuk bisa melewati banyak kesulitan.

So balik lagi ke soal kesejatian tadi, apakah semua proses yang sedang gue jalani ini adalah sebuah tahapan dimana gue akan menemukan sesorang yang pantas untuk diberikan label ‘cinta sejati’ gue? Apakah gue akan menemukan sosok yang akan menjadi jawaban atas doa-doa gue, jadi pilihan terbaik yang pernah gue ambil dalam hidup gue, menjadi sumber kebahagiaan yang besar buat gue, dan menjadi klimaks dari semua pergulatan gue selama ini? Jawabannya ya! kalo loe emang percaya sama rencana Tuhan. Tapi seandainya jawabannya ‘belum tentu’ juga nggak ada yang ngelarang kok… hehehe Biarin aja semua orang mempunyai jawaban yang berbeda dan gak ada sedikitpun dari diri gue untuk mencoba mempermasalahkannya.

Tapi buat gue, sepertinya yang penting bukan sekedar kesejatian itu sendiri. Mungkin, ketika saatnya datang, yang jauh lebih penting adalah gue bisa yakin bahwa dia orang yang tepat buat gue. Mungkin aja dia bukan yang sejati, bukan yang terbaik, atau bukan yang sempurna. Karena dari mana ngukur itu semua? Bukankah semua ungkapan dan istilah itu menjadi sebuah gambaran yang jika ingin diukur dan didefinisikan justru nggak akan pernah bisa?

Dan untuk menemukan orang yang tepat, itu mungkin yang bisa membuat gue bisa membuat sebuah keputusan dan pilihan pada saatnya nanti. Walau memang, ‘ketepatan’ itu pun masih bisa diperdebatkan lebih jauh. Tapi kalo dipikir-pikir lagi, cape amat ya, harus memikirkan dan memperdebatkan segala sesuatu yang sebenarnya kalo menurut gue adalah sebuah misteri hidup yang indah..😛

Kenapa juga harus diperdebatkan ketika gue harus mengenal banyak pribadi dan bisa memahami mereka meski pada akhirnya nggak bisa nemuin sesuatu yang ‘klik’ dan bisa membuat terus bertahan. Kenapa juga harus dipertanyakan kalo gue bisa ajak jalan siapapun yang gue mau tanpa gue harus khawatir gue harus memilih satu diantaranya saat itu juga untuk gue jadiin istri! Atau kenapa juga segala sesuatu harus dipermasalahkan kalo saat ini gue masih mencari sesuatu yang nggak pernah pasti, namun di sisi lain gue juga tetap bisa menikmati kebahagiaan hidup dengan cara gue sendiri.

Jadi mengkahiri masa lajang, sebenarnya bukan masalah yang berat buat gue. Cuma loe tau lah, kalo gue suka ‘mendramatisir’ suasana, hehehe. Jadi boleh  dong kalo gue ingin mengakhirinya dengan cara istimewa; dengan cara yang gue yakini dan ingin lakukan; dan tetap dengan cara yang diijinin sama Sang Empunya kehidupan tentunya…

Jadi pada saatnya nanti ketika akhirnya gue ‘dipertemukan’ sama orang yang bakal menemani gue sepanjang hidup, gue akan berteriak, “Eh ketemu juga akhirnya!! Kemana aja sih buuu?? Memang segala sesuatu indah pada waktunya ya! Buktinya kamu juga beneran cantik pada waktunya!🙂 Kita akhiri masa lajang bareng-bareng yuuukk!!!” And after all, we’re gonna live happily forever… hehehe…..