Apakah sebuah rasa suka dan ‘anti’ terhadap segala sesuatu merupakan cerminan dari kepribadian dan citra diri gue?

Dalam banyak kesempatan gue seringkali dihadapkan pada satu pertanyaan dimana gue harus memaparkan hal-hal apa yang gue senangi atau yang menjadi hobi gue. Entah itu di berbagai kolom formulir pendaftaran hingga ke bentuk pertanyaan lisan saat interview melamar pekerjaan misalnya…

Gue sih punya banyak list untuk menjawab banyak pertanyaan akan hobi atau hal yang gue senangin. Dan itu mencakup semua hal, dari film sampai olahraga, dari musik hingga ideologi… Dan ini bukan hanya mengenai hal yang ‘sekedar’ suka, melainkan sudah menjadi sesuatu yang menginspirasi hidup gue. Tapi balik lagi ke pertanyaan awal, apakah sesuatu (apapun itu) yang kita suka mencerminkan kepribadian gue sebenarnya? Dan ini nggak gue sadari secara langsung atau atau tidak langsung. Apa iya?

Dan  seandainya hal-hal yang gue benci bisa juga jadi gambaran kepribadian gue, kenapa dalam banyak sesi wawancara atau kolom isian dalam formulir yang selalu ditanyakan adalah ‘Apa saja yang kamu suka?’ atau, ‘Apa hobi dan kesenangan kamu?’ dan bukan, ‘Apa aja hal yang paling kamu benci dalam hidup?’… Yah minimal gue jarang menemukan jenis pertanyaan seperti ini. Lalu apakah sebenarnya korelasi antara hal yang kita suka, benci dan ‘citra diri’ itu ada?

_________________________________________

Well, gue sih nggak gitu ngerti apa ada hubungannya. Cuma menarik juga kalo gue akan coba sedikit aja ngebahas dari sisi awam soal masalah ‘kesukaan’ dengan ‘cerminan kepribadian’ ini. Soale gue seringkali menemukannya dalam kehidupan sehari-hari gue.

Misalnya aja gue suka musik dan film atau suka sama hal lain yang berbau olahraga, keilmuan, sastra atau apapun lah. Nah, misalnya soal film; kan ada banyak genre film atau musik yang pastinya kesukaan gue belum tentu sama dengan orang lain. Lalu apakah ragam jenis kesukaan itu yang akhirnya bisa dijadikan patokan untuk menilai gue secara pribadi?

Misalnya aja gue suka film drama romatis, apakah itu serta nerta dijadikan tolak ukur kalo gue orangnya melankolis? Atau jika gue penikmat bahkan pemerhati film bertema ‘grindhouse’ atau film-film yang sarat dengan muatan sadis, lantas apa gue pun bisa dianggap manusia kejam minimal punya bakat psycho? hiii…

Lalu soal musik. Ini yang sering bikin gue bingung dengan adanya banyak penilaian yang seringkali subyektif terhadap selera musik seseorang. Kenapa juga musik selalu diidentikkan dengan tingkat intelektualitas? Kalo intelektualitasnya bagus, minimal dia penikmat jazz misalnya. Lalu ada lagi anggapan kalo intelektualitas rendah dia penikmat dangdut atau house musik! Wah kalo begini metode apa yang sebenarnya dipakai buat mengukurnya ya?

Gue sendiri jujur, suka semua jenis musik dan  film. Koleksi film gue cukup beragam, mulai dari yang melo abis seperti Only If atau Sleepless In Seatle; yang temanya keluarga seperti Little Miss Sunshine;  yang ‘berbau’ historis seperti Hotel Rwanda atau Saving Private Ryan; sampe yang ‘berdarah-darah’ seperti SAW series… Dan ternyata gue bisa menikmati dan larut dalam ‘situasi’ yang sama meskipun menikmati alur cerita dalam berbagai jenis film. Lalu apa dengan begitu orang bisa menilai dengan mudah pribadi gue?

Begitu juga dengan musik. Seandainya di saat bersamaan gue mengoleksi banyak CD musik Jazz dan saat bersamaan juga gue punya beberapa album tembang jawa Manthous, lalu apakah gue bisa dinilai sebagai seorang dengan kepribadian ganda?

Memang sih, ini mugkin hanya sebatas selera akan segala sesuatu. Dan masih banyak faktor lain untuk menilai pribadi seseorang, seperti mengetahui pola pikir, bagaimana dia bertindak, serta bagaimana dia mengungkapkan ide atau ideologinya. Tapi kadang, soal selera ini seringkali dijadikan ‘faktor’ satu-satunya untuk melaklukan sebuah penilaian akan pribadi seseorang.

Lalu jika gue membenci sesuatu pun juga seringkali dijadikan patokan satu-satunya untuk menilai gue seperti apa. Misal aja gue benci banget sama kecoak. Bisa aja orang menilai gue orangnya sangat mengutamakan kebersihan, kesehatan dan higienitas. Walau mungkin ada benarnya, tapi bisa aja gue nggak gitu-gitu amat. Bisa aja gue benci kecoak karena trauma masa kecil ketika gue pernah nonton fim yang temanya ‘hantu kecoak’! hehehe

Itu yang positif penilaiannya. Tapi kalu gue benci sama ‘game komputer’ trus gue dinilai sebagai orang yang nggak gaul, gaptek, nggak ngikutin trend, ini baru yang agak ‘menyebalkan’. Jika gue benci atau nggak suka akan segala sesuatu pasti ada alasannya. Dan selama gue nggak ngasih tau kenapa, yah mending jangan menilai gue sembarangan dulu kali ya….🙂

Gue nggak pernah sih ‘sakit hati’ gara-gara dicap sebagai pribadi yang ini atau pribadi yang itu hanya karena sesuatu yang gue suka dan gue benci. Gue sih enjoy aja. Karena di sekitar gue banyak sebenarnya kejadian serupa yang lebih parah menimpa banyak orang; dicap terlalu kiri lah, dicap aneh, dicap komunis atau dianggap atheis gara-gara sesuatu yang dia sukai dan gemari… Hmmm

Jadi memang susah ya, menilai seseorang dan dengan melihat apa aja yang ia suka dan tidak suka dijadikan satu-satunya cara dan ‘patokan’ untuk menilai kepribadiannya. Menurut gue sih, metode ini efektivitasnya hanya sekitar 30% aja…

Kita bisa menyukai dan membensi apapun di dunia ini. Dan itu juga enjadi hak gue sepenuhnya. Persepsi apapun bisa hadir dengan apa yang kita suka dan kita lakukan. Just like a tatoo, yang ‘tertanam’ selamanya di tubuh, walau alasan utama dari pembuatannya bisa sangat beragam. Karena alasan ideologi, sekedar suka, karena nilai estetis, sampai hanya sebatas ‘gaya hidup’. Tapi selama hasil karya yang dihasilkan bagus, dan kita yang melihatnya senang, berarti nggak ada masalah kan?

Jadi daripada saling memberikan penilaian yang salah sama seseorang karena mengetahui hal-hal yang dia suka atau benci; mending kita berusaha untuk memahami. Sekali-kali malah bisa sharing, siapa tahu, hal-hal yang mereka suka justru gue belum pernah denger atau coba sebelumnya. Kan malah bisa nambah referensi baru… 

Lalu hal apa aja yang gue suka dan gue benci sebenarnya dalam hidup ini? Tanpa bermaksud ‘mengkotak-kotakkan’ segala sesuatu dan ingin ‘mencari alasan atau pembenaran’ akan segala sesuatu yang gue suka atau benci, gue akan memaparkannya di blog ini.

Tapi gue akan ceritain di catatan gue selanjutnya ya…🙂