Usai sudah perjalanan Inter sepanjang musim ini. Dan semua harus diakhiri dengan air mata. Air mata kebahagiaan, air mata akhir penantian dan yang pasti adalah air mata sebagai buah dari rangkaian perjuangan yang mungkin saja belum selesai…

Sebuah malam panjang dilewati oleh Inter dan seluruh Interisti di Madrid dan di seluruh dunia. Malam yang sungguh-sungguh dilalui dengan tahapan yang sungguh nggak sederhana. Buat pemain, malam ini adalah milik mereka sepenuhnya. Raihan Piala Liga Champions menjadi hidangan penutup selama semusim yang bukan hanya mengenyangkan, tapi juga membuat tidur mereka malam itu diwarnai mimpi paling indah.

Dan bagi Interisti, tidak ada yang paling membahagiakan selain menjadi saksi dalam sebuah perjalanan panjang sebuah klub sepakbola dimana satu kekuatan hati yang sama menyatukan mereka dalam sebuah kebersamaan; dimana di dalamnya ada ketegangan, nyanyian, teriakan, emosi, doa, dan sukacita yang pada akhirnya berujung pada satu kalimat terindah: ya! akhirnya kamilah juaranya!!!

Dan air mata itu menyatakan semuanya.

_________________________________________________

Ketika Mourinho kembali meneteskan air mata, ia mengungkapkan semua yang dirasakannya tanpa perlu banyak bicara. Ia seakan ingin mengungkapkan bahwa malam itu ia sungguh bahagia setelah harus melewati 365 hari yang melelahkan, kadang membuat marah, sedih, dan juga menguras emosi. Perjalanan ‘the Special One’ bersama Inter sungguh tidak mudah tahun ini. Ia merasa menjadi musuh nomor satu dalam persepakbolaan Italia. Ia selalu merasa dihakimi oleh setiap perkataan dan tindak tanduknya. Kadang ia merasa menjadi pejuang seorang diri. Namun ketika melewati malam-malam yang sulit, ia selalu bisa merasakan kekuatan yang datang dari para anak asuhnya, semua keluarga besar Inter, dan tentu saja dari para Interisti yang akan selalu berada di belakangnya.

Ya, itu yang membuat Maurinho bisa melupakan kesedihannya karena harus ‘berjibaku’ dengan kerasnya iklim sepakbola Italia, kejamnya media, serta banyak suara-suara yang membuatnya selalu merasa menjadi musuh nomor satu. Ketika para pemain menuntaskan setiap pertandingan dengan keringat dan semangat, ketika para jajaran pengurus klub terutama papa Moratti tak henti-hentinya membelanya dalam setiap kesempatan, dan ketika para Interisti selalu menyanyikan lagu-lagu kemenangan untuk dirinya, itu semua membuatnya kuat untuk terus bertahan sampai akhir. Seperti yang pernah diungkapkannya kepada seluruh dunia; “tidak ada yang menyukaiku dan menghormatiku di Italia, tapi di Inter aku mendapatkan semuanya. Cinta, penghormatan, dan kebahagiaan. Di saat banyak kesulitan, aku menemukan keluarga yang sesungguhnya di Inter…”

Dan bagi Interisti, Mourinho bukan hanya dianggap sebagai anggota keluarga biasa. Walau tidak perlu gelar ‘Sir’ atau gelar kebangsawanan seperti keluarga lainnya, namun ia diterima  sebagai anggota keluarga sepenuhnya. Ia layaknya seorang anak sulung keluarga yang hanya ingin berbuat yang terbaik bagi keluarganya, dan kadang emosi membuatnya harus melakukan banyak hal untuk tetap melindungi keluarga. Ia kerap harus melontarkan serangan balik hanya karena ia tidak ingin nama besar keluarganya dicoreng. Ia rela dijadikan target utama serangan media, hanya untuk melindungi para pemainnya. Dan semua itu dilakukan semata-mata karena cinta. Dan saat air mata harus mengalir pada malam di Bernabeu, tidak ada lagi yang perlu dibuktikan, bahwa ia adalah salah seorang anggota keluarga terbaik yang pernah dimiliki Inter.

Air mata itu bukanlah sebuah air mata perpisahan; meskipun ia mungkin saja tidak bersama Inter lagi. Karena ia telanjur sudah menjadi bagian dari keluarga, dimana tidak ada yang bisa menghapusnya meskipun ia tidak lagi menjalani kebersamaan bersama pemain, pengurus klub dan seluruh Interisti di seluruh dunia. Layaknya seorang putra terbaik yang telah membuat harum nama keluarga, ada kalanya semua anggota keluarga yang lain harus merelakannya pergi untuk melakukan yang terbaik untuk hidupnya. Seperti ada sebuah ungkapan. ‘tidak ada yang bisa berkuasa atas hidup seseorang kecuali Tuhan dan dirinya sendiri…’

Air mata itu akan selalu menjadi hal terbaik yang pernah diberikan bagi keluarganya. Dan para Interisti akan selalu mengakui bahwa saat ini, kesedihan dan kebahagiaan adalah dua kekuatan yang sama-sama mewarnai hidup. Dan semua diekspresikan lewat banyak nada kemenangan terindah dan peristiwa-peristiwa penting yang akan tercatat dalam sejarah besar keluarga; dan mungkin akan menjadi pembicaraan dalam puluhan tahun waktu ke depan! Sekali menjadi keluarga akan selamanya menjadi keluarga. Dan tidak perlu catatan kependudukan atau kartu keluarga tervalid sekalipun untuk menegaskan hal ini. Jose Mourinho; satu nama ini akan tetap menjadi bagian keluarga Inter, dimanapun ia akan melangkah dan melanjutkan hidupnya.

Seluruh Interisti akan selalu menyanyikan lagu-lagu pujian dan kemenangan bagi anggota keluarga yang satu ini. Karena Jose layaknya sebuah sosok anak yang walau seringkali melakukan banyak hal yang membuat seluruh anggota keluarga khawatir, namun ia tidak pernah sekalipun mengurangi cintanya dan selalu menjaga nama besar dan nama baik keluarga besar Inter sejak 102 tahun lalu hingga saat ini.

Keputusannya untuk tetap bersama Inter di ‘rumah’ yang nyaman atau untuk melangkah ke dunia luar dan melanjutkan hidup di ‘negeri orang’ merupakan sebuah pilihan. Dan bagi Interisti, pilihan ini adalah sebuah bagian panjang dari catatan keluarga yang memang harus terjadi, layaknya banyak anggota keluarga yang seringkali datang dan pergi. Namun cinta pada keluarga akan selalu dibawa kemanapun mereka melangkah. Di belahan dunia manapun, darah keluarga tidak akan pernah hilang, dan ketika harus melalui banyak hal baru, doa dan cinta dari anggota keluarga yang lain akan menghantarkannya untuk membuatnya kuat melangkah di tahapan kehidupannya yang baru.

Jose, menangislah. Nggak usah ditahan. Karena gue dan semua Interisti, serta semua keluarga besar Inter sadar bahwa loe sungguh mencintai keluarga ini. Dan Jose, terima kasih buat semua kekuatan, kebersamaan dan kebahagiaan yang loe udah bagi. Dimanapun loe berada, Internazionale akan selalu menjadi rumah buat loe. Karena di sini loe mengalami banyak hal yang membahagiakan sekaligus melalui hal-hal yang terberat yang pernah loe jumpai sepanjang hidup. Bahkan, air mata itu akhirnya menetes saat loe melalui banyak hal itu bersama kita semua. Air mata yang sama sekali nggak pernah loe ‘berikan’ di klub-klub sebelumnya yang mungkin pernah juga merasakan juga kekuatan yang loe miliki.

Dan gue yakin Jose, loe nggak punya pilihan lain, selain untuk tetap mencintai Inter dengan cara yang paling istimewa. Karena di sini loe akhirnya bisa mendapatkan semuanya. Prestasi yang mengagumkan dan cinta yang penuh. Walau gue juga tahu Jose, loe nggak punya banyak cara untuk mengungkapkan itu semua.

Jadi, tetaplah menangis Jose. Karena kadang cinta memang nggak perlu diungkapkan dengan banyak kata.

Dedicated for Jose Mourinho and all Inter Club Indonesia Family.

Baca juga: Catatan-catatan lain tentang Internazionale!