Limit berarti sebuah batasan. Dan batasan di sini bisa juga berarti daya tahan dan kesanggupan yang dimiliki setiap orang termasuk ya gue sendiri tentunya.  Saat gue dihadapkan pada sebuah pilihan atau tawaran untuk menikmati sesuatu apapun itu, tentunya secara bijak gue harus sadar akan kemampuan dan limit yang gue punya. Terutama jika keadaan yang akan gue masukin itu erat kaitannya dengan hal yang menyenangkan yang kadang susah buat mengerem setiap keinginan dan godaan yang terus muncul.

Misal aja gue diajak hang out untuk bersenang-senang. Dan biasalah, selama bersenang-senang pasti gue dan teman-teman akan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Disinilah saatnya gue harus benar-benar memperhitungkan limit gue, baik soal keuangan maupun soal daya tahan tubuh gue. jangan sampai aja, gue pulang hang out malah ‘bokek total’ gara nggak bisa ngontrol pengeluaran, atau gue malah sakit gara-gara kebanyakan ‘makan angin’ dan kebanyakan dapet asupan yang gak sehat ke perut gue! hehehe

______________________________________

Memang, saat berada pada keadaan yang menyenangkan yang sifatnya hiburan alias relaksasi alias sesuatu yang sebenarnya bukan suatu kebutuhan utama; sebuah kontrol diri menjadi penting. Bukan bermaksud sok serius atau sok pinter ngendalikan diri. Ini justru karena gue ngerasa sering kebablasan, makanya gue ngerasa penting untuk gimana caranya ngejagain diri gue sendiri… Yah, setidaknya gue harus bener-bener mengetahui limit gue sebelum akhirnya gue nggak mampu bertahan dan malah membuat segalanya nggak asik lagi buat dijalanin…

Saat gue menceburkan diri pada sebuah aktivias dimana kesenangan menjadi satu-satunya alasan, memang paling susah untuk ‘diingatkan’ kalo gue punya limit terntentu yang kalo nggak gue sadari bakal bikin kesulitan nantinya. Dan memang soal yang satu ini murni sepenuhnya adalah tanggung jawab gue pribadi; karena memang hanya gue sendiri yang tahu seberapa limit yang gue punya. Orang lain nggak akan tahu seberapa pastinya batas limit gue. Kadang mereka mungkin melihat gue baik-baik aja, padahal gue udah mulai mau muntah!

Kenapa gue bilang susah, karena alasan kesenangan ini seakan menutupi setiap keadaan logis yang justru bisa menghindarkan gue dari sesuatu yang nggak enak. Tapi memang.  gue aja yang memang kadang nggak mau ‘diganggu’ jika sedang menikmati kesenangan itu. Ini yang membuat gue rada butuh perjuangan khusus untuk  sungguh bisa memahami batasan limit yang gue punya. Jadi nggak perlu memaksakan diri untuk terus bersenang-senang kalo badan mulai cape, dan gue nggak perlu terus menuruti emosi gue kalo sisa budget gue udah tinggal buat biaya hidup seminggu di bulan ini. Kadang sesuatu yang menyenangkan selama semalam bisa membawa akibat mingguan! Dan ini yang membuat gue ngeri kalo gue kebablasan…

Kehadiran teman yang baik (dalam artian nggak menjerumuskan, dan sungguh ngerti keadaan gue) bisa menjadi satu faktor yang membuat gue terhindar dari faktor kebablasan tadi walau mungkin pengaruhnya nggak seberapa banyak… Ya, walau tetap kendali sepenuhnya ada diri gue, namun temen2 baik itu akan selalu melihat sesuatu dengan jujur dan berusaha mengingatkan kalo memang keadaan udah mulai nggak terkontrol. Karena semakin gue bilag gue nggak apa-apa, jusru semakin susah gue mengendalikan diri gue sendiri. Teman yang baik akan selalu mencegah sesuatu yang lebih buruk menimpa kawannya, dan bukan malah semakin membuat si kawan terkulai nggak berdaya, apalagi sampai memanfaatkannya… Sialnya, kadang ‘kartu mati’ alias kelemahan gue bisa aja dijadikan senjata untuk meraih kesenangan yang lebih besar walaupun di saat yang bersamaan gue udah nggak bisa berpikir dengan akal sehat lagi dan butuh pertolongan segera! Tapi kadang mereka nggak peduli…

Pada akhirnya gue memang nggak bisa berharap semua teman akan bersikap baik, walau teman-teman yang sungguh peduli pun juga banyak. Tapi, gue akan selalu menghadapi banyak situasi yang berbeda dengan orang yang berbeda-beda pula. maka nggak ada cara lain selain gue sendiri yang harus berlatih untuk menyadari limit-limit dan daya tahan kemampuan yang gue punya.

Itu yang akan menyelamatkan gue sesungguhnya saat gue mulai nggak bisa mengendalikan diri gue sepenuhnya saat berada di dalam dunia penuh kesenangan yang bikin lupa… Karena gue sadar masih ada besok, dan gue nggak akan menghabiskan hidup gue untuk malam ini aja. Jadi udahan deh ya… Gue udah kenyang nih… Besok-besok kita lanjut lagi aja yak, hehehe