Teman bisa datang darimana saja. Dan pertemanan merupakan sebuah bentuk interaksi paling sederhana yang dapat terjalin tanpa harus diminta; di luar ruang lingkup relasi antar anggota keluarga tentunya. Nggak perlu ‘syarat’ susah, asal kita mengenal sesorang walau tidak secara pribadi, kita sudah bisa dilabeli sebagai ‘teman’ oleh siapapun di manapun mereka berada.

Gue memang nggak membuat dan mencoba mendefinisikan kata ‘teman’ terlalu jauh yang mungkin aja bisa berbeda-beda jenisnya untuk setiap orang. Ada teman baik, teman kantor, teman main, teman biasa, teman tapi mesra, atau apapun istilahnya. Gue hanya ingin menyebutnya dalam satu makna sekaligus dalam satu istilah: ‘teman’. Tanpa embel-embel lain.

Dan kalo emang teman gampang dicari, bahkan nggak perlu dicari malah, kenapa juga ya gue sering dapat banyak pengajuan diri untuk berteman dalam facebook? atau di sisi lain pun gue harus menunggu konfirmasi dari orang lain ketika gue ‘meminta’ mereka untuk mau jadi temen gue… ? Tapi  itu kan di facebook; atau di friendster, twiter dan sebagainya, dalam sebuah jejaring sosial di internet yang punya aturan mainnya sendiri. Tapi, bagaimana seandainya hal ini terjadi di dunia nyata?

___________________________________________

Gue seringkali bangga kalo gue dianggap temennya si anu atau temennya si dia yang kebetulan orang beken. Atau nggak mesti beken lah, yang penting dia punya sesuatu yang memang membuat dia dikenal lebih banyak orang. Dengan begitu sebagai temannya gue seakan-akan merasa sama terkenallnya dengan dia. padahal lucunya, label pertemaan kita seperti yang udah gue ungkapkan di atas, adalah sebatas kenal aja, tanpa adanya interaksi yang intens diantara kita berdua dalam keseharian. Jadi kalo ditanya sberpa jauh gue kenal, yah, pokoknya kenal lah… hehehe

Atau pernah ada yang bilang ke gue kalo sebuah jaringan bisnis pun harus diawali dari sebuah pertemanan. Gimana mau ngomongin bisnis atau ingin menawarkan sebuah rencana bisnis kalo gue nggak mengenalnya? Memang hal itu mungkin aja, tapi menurut teori marketing yang gue tahu sih, semakin kita mengenali teman, eh calon klien atau customer kita, pastinya akan membuat peluang untuk bisnis semakin terbuka lebar. Dan emang sih kadang-kadang gue juga melakukan hal ini. Gue berusaha kenal dan akrab dengan calon klien gue jadi pada saatnya nanti setiap hal yang berhubungan sama project bisa gue omongin dengan enak, termasuk saat menagih pembayaran, hehehe

Jadi bisa jadi memang ada kepentingan lain dalam sebuah pertemanan, walau bukan berarti juga selamanya kita memanfaatkan pertemanan itu. Seandainya kita gak jadi bisnis bareng pun, gue tetap bisa berteman dengan dia bukan? Tapi seandainya gak ada kepentingan, apakah gue juga akan selalu berharap kalo tiap hari gue bisa menambah teman baru? Adakah teman yang gue ‘add’ hari ini?

Pingin juga sih kalo dalam setiap harinya gue bisa menambah satu teman baru. Dan sebenarnya emang nggak ada ruginya! Semakin banyak teman sebenarnya gue bisa bikin hidup gue makin menyenangkan… Memang kadang semua itu gue rasakan secara tidak langsung, tapi banyak juga yang bisa gue rasakan langsung sehari-harianya. Dengan punya banyak teman, maka semakin banyak kesempatan untuk saling berbagi, buat saling menguatkan, dan yang pasti juga untuk saling menghibur…

Emang gue nggak akan kebayang kalo gue hidup tanpa kehadiran sosok-sosok teman yang ada di sekitar gue. Gue emang bukan tipe orang yang ingin selalu eksis dimanapun, tapi jujur gue sungguh merasakan banyak asiknya jika memiliki banyak teman. Kehadiran teman bisa menjadi sebuah kekuatan yang mungkin khasiatnya ampuh ketika gue harus menghadapi banyak tantangan dalam keseharian gue.

Dan harusnya memang gue nggak perlu meminta mereka untuk menjadi temen gue jika hanya untuk gue bisa terlihat kuat, keren dan ingin dilihat sebagai pribadi yang eksis. Gue nggak perlu menjadi pribadi yang dilihat hanya karena gue temennya anu atau temennya si itu. Gue adalah gue dan walau temen gue adalah orang yang penting buat gue, namun sekali lagi semua adalah anugerah ‘gratis’ yang nggak perlu gue cari kesana-kemari…

Bagi gue keberadaan temen bukan suatu bentuk pengakuan akan eksistensi gue. Sosok teman adalah penyeimbang buat hidup gue; langsung atau tidak langsung pengaruhnya. Dan harusnya gue nggak perlu kuatir akan kehilangan teman atau nggak nambah teman baru, karena pada dasarnya semua berjalan apa adanya, tanpa proses yang ribet.

Ketika gue mengenal pribadi orang lain, gue menghargainya, itu udah cukup untuk membuatnya menjadi teman gue. Dan walau gue jarang berkomunikasi secara rutin, status teman itu gak akan berubah sedikitpun…

Jadi kapanpun, kemungkinan untuk menambah teman akan selalu ada, tanpa harus gue khawatir kehilangan beberapa diantaranya, meskipun gue udah nggak pernah tau rimbanya… Dan mungkin kehadiran facebook bisa menjadi jembatan penghubung yang bisa efektif tapi bisa juga nggak berarti apa-apa. bisa aja di facebook, jumlah teman gue udah mendekati 2000 orang. Tapi tetap aja, justru dengan jumlah sebanyak itu gue malah nggak pernah bisa punya waktu cukup untuk berinteraksi, bahkan untuk sekedar membaca status terbaru mereka. Tapi sekali lagi, itu nggak akan mengurangi kadar pertemanan gue. Bagaimanapun teman adalah teman, dan suatu saat, di suatu masa teman-teman gue bisa aja hadir dengan banyak cara dan kesempatan yang bisa membuat hidup gue jadi berwarna…

So, we are still friend, right?🙂 iya lah emang ada ‘mantan teman’? hehehe Jadi suka nggak suka ya, tetep aja loe temen gue! Mau dimanapun loe berada dan bagaimana status loe sekarang, itu gak akan merubah apa-apa. Karena loe udah ‘terlanjur’ masuk list sebagai teman gue, dan loe nggak bisa keluar, bahkan sekalipun loe mengajukan diri untuk: ‘please remove me from your friend list’! hehehe

GBU all my friend….