Sebuah analisa kritis (mungkin juga ngawur) tentang kebiasaan makan malam bersama di komplek gue🙂

Kaum pria di komplek gue termasuk pemakan segala. Selama kurang lebih 3 tahunan gue tinggal di Griya Serpong Asri yang terletak di Cisauk- pinggiran kota Tangerang ini, nggak terhitung ada berapa banyak kambing, ayam, bebek, ikan laut maupun air tawar sampai entog yang udah tercatat menjadi menu khas tengah malam…

Kebanyakan yang tinggal di komplek gue ini memang keluarga muda. Mungkin karena itu pula kita masih mamiliki semangat yang lumayan tinggi untuk berkumpul, berbagi dan untuk melakukan segala sesuatunya secara bersama-sama. Dan itu tanpa perlu paksaan atau himbauan dari pengurus RT. Segala sesuatu dijalankan secara bebarengan dan dengan semangat kebersamaan yang tinggi.

Kebiasaan makan tengah malam ini memang yang kelihatan sangat menonjol di komplek gue dibandingkan dengan kegiatan lain yang dilakukan bersama; khususnya di lingkungan RT dimana gue bertempat tinggal. Dan kalo mau dirunut dan dicari tahu, ada banyak alasan yang membuat kebiasaan ini setidaknya masih ‘lestari’ berjalan hingga hari ini sejak tiga tahun yang lalu…

  • 85 persen penduduk adalah keluarga muda. Alasan yang udah gue jelasin di atas memang menjadi salah satu faktor penting. Rata-rata kaum bapak-bapak muda ini masih memiliki selera makan tinggi dan tentunya tanpa pantangan yang ribet dengan alasan kesehatan… Maklum dengan usia rata-rata 30-an, belum banyak dari kami semua yang didiagnosa penyakit hingga harus pantang makanan tertentu… Mudah-mudahan sih kita bisa sehat selalu sampe tua, ya…
  • Banyak juga yang baru memiliki putra atau putri! Maksudnya? Ya, secara tradisi agama, khususnya agama Islam, bentuk ucapan syukur kehadiran si buah hati diungkapkan melalui pemotongan kambing. Walaupun ini sebenarnya faktor kecil aja… Nyatanya ada atau tidak ada ‘syukuran’ selalu saja kita motong kambing atau masak bebek atau buat rica-rica entog untuk dimakan bersama…
  • Letak perumahan kita yang ada di tengah pedesaan juga bisa menjadi faktor penyebabnya. Kok bisa? Iyalah. Di sekeliling perumahan gue, selain terhampar banyak sawah hijau yang luas, juga terhampar banyak peternakan atau boleh disebut banyak yang memelihara kambing, ayam, bebek atau entog… Dan mereka memeliharanya di daerah sekitar rumah yang pasti nggak jauh jaraknya dari komplek gue. Memang, nggak semua mereka memelihara binatang itu dalam sebuah peternakan yang berarti memang sengaja untuk dijual. Tapi nyatanya, sedikit demi sedikit, binatang peliharan masyarakat di sekitar komplek gue mulai berkurang jumlahnya karena setiap kali mulai tumbuh besar selalu aja dibeli untuk dimasak! Sampai ada seorang penduduk desa sekitar yang pernah nyeletuk, “Gimana kambing mau gede dan entog mau nambah banyak, kalo setiap usianya udah besar sedikit pasti dibeli sama orang komplek!…” Lagian siapa suruh boleh ya? hehehe
  • Suasana di lingkungan komplek gue yang memang masih asri dan jauh dari keramaian memang cukup membuat selera makan tinggi. Hamparan sawah, danau bekas galian pasir yang bersih dan membawa angin keteduhan, dan udara yang emang dasarnya masih segar memang seringkali membuat kita semua saat berkumpul tiba-tiba terlontar celetukan, ” Kayaknya bakar ikan enak nih….hehehe “
  • Faktor berikutnya adalah Ketua RT gue emang doyan masak! Kalo pas ada acara makan bareng selalu saja dia; -dibantu dengan seorang rekan yang meracik bumbu, mempersiapkan bahan masakan untuk kemudian diracik hingga siap dihidangkan! Dan untuk yang satu ini, memang ketua RT gue cukup bisa ‘disalahkan’ kalo kemudian banyak dari bapak-bapak di RT gue mengalami obesitas dini, hehehehe
  • Tapi yang pasti faktor kebersamaan dan saling memiliki yang kuat yang menjadikan kebiasana makan bersama di malam atau pagi dinihari ini seringkali kita lakukan. Tanpa perlu di suruh, masing-masing melakukan sesuatu yang mereka bisa untuk membuat acara makan malam bisa dilangsungkan. Yang biasa ‘hunting’ mencari ‘daging’ yang akan dimasak, entah kambing, ayam, atau bebek di pedesaan sekitar akan langsung menyisir daerah menggunakan motor. Yang biasa masak segera mempersiapkan bumbu dan kalo perlu mengambilnya langsung dari pekarangan tetangga yang kebetulan punya pohon cabe atau tomat. Bagian perlengkapan akan langsung menyiapkan wajan raksasa milik inventaris RT beserta kompor serta alat makan. Sedangkan yang lain siap membantu apapun yang bisa dilakukan, agar kebersamaan lewat ‘menu panas’ di tengah malam bisa terlaksana… Semua dilakukan tanpa perhitungan. Semua terwujud murni karena kebersamaan, dan biayanya pun ditanggung bersama. (kesuali kebetulan ada donatur…hehehe)

Jadi memang sekali lagi, sepertinya kebiasaan makan bersama di malam hari ini akan tetap berlangsung dalam waktu yang cukup lama di lingkungan RT gue. Karena selalu saja ada banyak hal yang bisa membuat semuanya itu terwujud…

Dan sebagai orang yang doyan makan, gue sih senang-senang aja… Dan untungnya berat badan gue tetap terjaga, karena di hari-hari yang lain kita  juga rutin berolahraga bersama di sebuah lapangan olahraga RT yang kita miliki. Jadi walau banyak kalori yang diterima tubuh kita, tapi banyak juga kalori yang dibakar lewat kegiatan olahraga. Itu yang namanya keseimbangan hidup, hehehe….

Baca juga: Memilih Seafood yang Aman buat Gue Nikmatin