Galilea, dua ribu tahun lalu

Pergulatan sedang terjadi. Yesus malam itu sungguh menjalani perannya sebagai Juru Selamat sekaligus sebagai anak manusia. Kepasrahan sekaligus rasa takut hadir bersamaan. Dan yang lebih berat, ia harus menjalaninya sendirian. 

Serpong, 2010

Hari mulai panas. Pelataran gereja St. Monika BSD mulai dipenuhi kendaraan yang dalam waktu singkat akan segera memenuhi pelataran parkir. Tenda-tenda sudah disiapkan. Bunga-bunga di dalam gereja sudah cantik tersusun. Dan segala sesuatu persiapan untuk misa Jumat Agung sudah lengkap.

Galilea, dua ribu tahun lalu

Yesus menyerah pada kehendak Bapanya di surga. Ia memberanikan diri untuk mengambil cawan itu. Keringat yang menetes seakan menjadi tanda bahwa bagaimanapun ia adalah seorang pribadi manusia yang punya rasa takut. Tapi bagaimanapun karya penyelamatan ini harus terjadi, jika tidak maka sia-sialah kehadirannya di bumi ini sebagai sebuah perwujudan Sang Sabda yang menjelma menjadi manusia.

Serpong, 2010

Jumat itu yang gue rasakan hanya panas. Udara memang cukup terang, sehingga matahari bebas menghadirkan cahayanya. Gue terlambat datang ke gereja. Karenanya gue hanya bisa menempati tempat duduk di tenda yang berdiri di halaman gereja. Gue tercenung, karena hari ini gue nggak bisa melakukan napak tilas atas apa yang Yesus rasakan dua ribu tahun lalu. Udara panas membuat gue nggak bisa sama sekali merasakan kehadiran Tuhan siang itu… Oh God, please have mercy…

Galilea, dua ribu tahun lalu

Genap tiga hari. Waktu yang sebentar tapi juga merupakan saat yang begitu lama. Yesus menggenapi semua yang dikatakannya dengan darah dan luka. Dan tiga hari menjadi sebuah rangkaian perjalanan terberat yang harus dilalui, dan sekali lagi semua itu dilalui seorang diri. Hanya doa dari seorang ibu dan sebagian muridnya yang setia yang mampu membuatnya untuk terus kuat melangkahkan kaki untuk menggenapi proses penyelamatan ini…

Karawaci, 2010

Sabtu malam, di gereja St.Agustinus, Karawaci. Gue sepenuhnya datang dan menyerahkan semua yang gue alami dan rasakan selama ini. Gue ingin diurapi malam itu, dan gue ingin sungguh merasakan kembali gimana gue bisa menjadi pribadi yang kembali bebas; lepas dari hutang dosa…

Tuhan menjawab doa gue malam itu. Tuhan berkenan hadir. Dalam ketidakpantasan, Tuhan menyatakan kalo gue udah disembuhkan! Malam itu hati gue menangis sekaligus berbahagia, karena Tuhan masih mau hadir dan mengurapi gue.

Gue emang bukan siapa-siapa. Udah terlalu laa gue nggak berbicara sama Tuhan, dan udah cukup lama juga gue hanya mengandalkan kekuatan gue sendiri. Dan sejauh ini, gue kepayahan. Gua akuin, gue bisa melewati semua hidup gue, tapi gue yakin ini semua karena belas kasihNya semata. Gue seringkali nggak sadar, kalo berulang kali gue diangkat lagi setelah berulang kali jatuh. Dan Dia melakukannya dengan diam-diam, tanpa sepengetahuan gue…

Galilea, dua ribu tahun lalu

Janji terpenuhi. KebangkitanNya nyata. Seorang Pria Sejati yang selalu menepati kata-kataNya; bahkan hingga akhir hidupNya. Terbukti semua nggak sia-sia. Dan nggak perlu lama untuk membuktikannya. Hanya perlu waktu tiga hari lamanya…

Karawaci, 2010

Malam udah dilewati pagi. Sebuah awal. Sebuah keinginan sederhana, untuk memulai segala sesuatunya dengan riang gembira. Beban sudah hilang, dan berharap untuk selalu bisa menjadi pribadi yang bebas…

Gue jatuh cinta lagi hari ini. Pada hidup gue, pada diri gue. Karena ternyata masih ada yang rela mati buat gue. Dan gue harusnya juga berani mati. Berani membiarkan pribadi lama gue mati, dan bangkit dalam pribadi yang baru.

Gue tahu Tuhan, ini nggak bakal mudah. Dan gue nggak akan mungkin menjalani ini sendirian. Please stay with me…

pemanisbuatan_ant@yahoo.com