Berada dalan sebuah antrian selalu aja gue alamin, dan kadang memang gue nggak punya pilihan lain. Sebabnya hanya satu; gue hidup nggak sendirian di dunia ini. Di RT gue aja ada sekitar 250 orang. Dan menurut sumber yang bisa dipercaya, pada tahun 2006 aja, jumlah orang yang ‘hidup’ dan mendiami kecamatan Suradita tempat gue tinggal adalah 47.794 jiwa. Sedangkan Jumlah penduduk di dua kota dimana gue menjalani kehidupan sehari-hari, yaitu Tangerang penduduknya berjumlah 4.789.431 jiwa, dan Jakarta dihuni 7.512.323.

Makanya nggak heran kalo dalam berbagai kesempatan dan aktivitas, yang namanya antrian akan selalu gue alamin. Dari awal gue mulai beraktivitas di pagi hari sampai malam hari selalu saja gue menemukan yang namanya antrian. Saat gue membeli tiket KRL, saat gue naik ojek, saat gue ke ATM, saat gue mau milih makan siang gue di warung Sunda langganan gue, saat gue menunggu untuk naik ke dalam Kopaja, hingga saat gue membayar karcis parkir, semuanya pasti antri. Belum lagi hal-hal yang gue alamin ‘diluar’ aktivitas gue sehari-hari; saat berobat di klinik or rumah sakit, saat membayar di kasir, hingga saat beli tiket nonton film, semuanya pasti antri.

_____________________________________

Banyak yang bilang kalo antri itu adalah sebuah budaya. Dan jeleknya di Indonesia budaya antri itu seringkali dinilai tidak dijalankan dengan baik. Banyak kasus orang berantem mulut gara-gara antrian. Dan memang gue seringkali mengalami hal itu. Seringkali gue memang kesel banget dengan seseorang yang nggak mau bersusah payah antri. Tiba-tiba aja dia ‘membuka’ barisan sendiri saat antri di loket, sampai menitipkan ke orang yang jaraknya udah dekat di loket hanya untuk mempercepat waktu antrian. Dan bagi gue ini benar-benar nggak adil. Karena semua orang pastinya ingin cepat, tapi gue sadar kalo gue harus berjalan sesuai urutan barisan yang ada.

Antri memang menjadi sebuah bagian dan cara gue untuk menghargai diri gue sendiri dan orang lain. Buat diri gue, atrian menjadi latihan disipilin dan menjalani segala sesuatunya dengan teratur. Sedangkan bagi orang lain, yah pastinya lewat antrian gue belajar menghormati hak yang sama yang juga dimiliki oleh orang lain. Dalam sebuah antrian kita semua berada dalam posisi yang sama, dan nggak ada salah satu yang lebih ‘istimewa’ daripada yang yang lain; kecuali dalam hal urutan antrian aja. Nggak ada yang berhak sebenarnya untuk minta didahulukan hanya gara-gara dia ‘orang penting’ di msyarakat atau seorang pimpinan perusahaan sekalipun. Mana ada yang peduli hal begituan jika kita berada dalam sebuah antrian?

Atau memang yang namanya budaya antri sangat bergantung dari tingkat pendidikan yang dimiliki oleh masyaraat kita? Makanya seringkali kesadaran untuk antri dihubungkan dengan tingkat pendidikan yang masih rendah yang dimiliki masyarakat Indonesia, sehingga budaya antri kadang susah diterapkan? Bagi gue sih nggak begitu juga. Mau dia pendidikan tinggi atau sama sekali nggak pernah makan bangku sekolah, tetap akan bisa menjalani aktivitas antri itu kalo memang ada sikap untuk saling menghargai orang lain. Dan ini bukan soal pernah sekolah apa enggak. Ini soal sikap dan kualitas pribadi tiap orang aja…

Memang mengantri bisa menjadi suatu hal yang sangat menjengkelkan saat dijalani. Terlebih jika jalannya antrian berjalan sangat lambat sedangkan banyak hal yang menunggu untuk gue jalanin. Tapi gue bisa apa? Masak gue harus bilang, “maaf ya semuanya, berhubung gue udah telat nih ke kantor, dan mood bos gue kayaknya lagi nggak bagus, boleh dong kalo gue minta didahulukan? Tau sendiri kan, kalo gue sering telat dan bos gue marah-marah, bisa-bisa ntar gaji gue nggak dinaikin lagi..”  Paling reaksi orang di sekitar gue adalah, “Ih siapa loe????”

Tapi pernah juga loh gue mengalami hal yang cukup enak juga saat gue mengantri. Ceritanya pas gue lagi ngantri membeli tiket KRL di stasiun Sudirman. Ketika gue berada dalam antrian, masih ada beberapa orang di depan gue. Nggak nyana, pengumuman di pengeras suara mengatakan bahwa kereta yang akan gue tumpangin udah jalan menuju stasiun Sudirman yang berarti kalo gue nggak bisa sampe di loket sekarang, gue bakal ketinggalan kereta.

Gue mulai panik dong, tapi di sisi lain gue juga menghargai orang-orang yang udah antri di depan gue. Tapi entah kenapa, di tengah kepanikan bakal ketinggalan kereta, gue beranikan diri aja ngomong, “Maaf, kereta saya udah mau datang nih. Saya mau ke Serpong. Boleh ndak saya didahulukan beli tiket, karena saya takut ketinggalan kereta?” Nggak nyangka, beberapa orang yang kebetulan mengantri kereta yang jadwal keretanya kebetulan setelah kereta gue lalu mempersilahkan gue untuk maju duluan…” Gue pun bersyukur, karena masih banyak orang yang baik hati dan bisa mengerti, kalo gue nggak bermaksud untuk melanggar antrian… Gue hanya mohon didahulukan karena kebetulan kereta gue udah mau datang. Dan bagi mereka, secara logika hal ini bisa diterima. Lain soal kalo gue ngaku-ngaku anak pejabat hanya untuk minta didahulukan, yang ada disorakin orang banyak bisa kali…. hehehe

Berada dalam sebuah antrian memang menjadi sebuah latihan untuk disiplin dan untuk selalu menghargai orang lain. Dan hal sederhana ini bisa menjadi hal yang bisa aja susah gue jalanin kalo gue nggak menyadarinya. Bahkan saat gue bisa menjalaninya pun, gue tetap harus bisa melatih satu hal lagi: kesabaran gue.

Saat melihat ada orang yang tiba-tiba ‘mencuri’ antrian, gue nggak perlu bersumpah serapah, apalagi sampe gue bilang kalo dia nggak pernah makan bangku sekolahan segala… Paling gue hanya akan bilang, “maaf ya bu, silahkan antri di barisan. Karena pada dasarnaya ibu sama saya sama aja. Sama-sama punya tujuan yang sama. Kasihan yang lain juga kalo ibu tiba-tiba masuk ke bagian depan barisan…”  Secara nggak langsung, gue tetap bisa menghargai orang, walaupun dia nggak berusahan untuk antri. Bukan dia nggak mau mungkin, tapi bisa aja dia nggak terbiasa antri…

Mudah-mudahan sih, kalo diomongin begitu jadi ngerti dan besok-besok jadi terbiasa. Karena pada dasarnya mengantri adalah hal sederhana yang (sebenarnya) mudah untuk dilakukan siapa saja, tanpa terkecuali.

pemanisbuatan_ant@yahoo.com