Beberapa waktu yang lalu gue sengaja ingin menghabiskan waktu libur 4 hari gue (termasuk cuti sehari) untuk membereskan semua barang yang ada di rumah gue. Kebetulan momentumnya juga tepat lah. Dapur gue baru aja selesai dibangun. Yah walau nggak terlalu besar, tapi cukup untuk sedikit menjadi ruang tambahan sehingga gue bisa mengatur lagi peletakan barang yang ada di rumah gue.

Rumah gue emang gak besar. Dengan tambahan dapur berarti luasnya kurang lebih sekitar tipe 45-an lah. Ada 2 kamar tidur, 1 kamar tamu, 1 kamar mandi, plus satu dapur beserta ruang cuci. Tapi biar begitu, barang gue lumayan banyak. Dan yang membuatnya jadi begitu, nggak lain adalah kebiasaan jelek gue untuk selalu menyimpan barang-barang lama yang mungkin aja udah nggak dipakai lagi.

______________________________

Kalau buku atau koleksi film dan CD mungkin memang jadi barang yang gak akan gue buang. Tapi banyak banget barang-barang lain yang sebenarnya udah gak secara langsung gue perlukan, tapi tetap aja sayang untuk gue buang. Alasan gue sih, ‘yah ini buat arsip aja’, atau ‘siapa tahu aja suatu saat gue akan butuh’. Tapi jujur aja, selama ini barang yang gue anggap bahwa ‘suatu saat akan berguna lagi’ mungkin hanya sekitar 10% yang benar-benar gue gunakan lagi. Sisanya yang 90% murni hanya menjadi arsip yang memenuhi setiap rak, lemari, dan ruang yang ada di rumah gue.

Atau, karena gue orangnya yang terlalu sentimentil kali ya, makanya gue sayang banget buat ngebuang barang-barang lama seperti: kumpulan tugas2 gue jaman kuliah, arsip-arsip saat gue menjalankan usaha event organizer dulu, kumpulan diktat-diktat lama yang mungkin isinya udah nggak up to date lagi, sampai barang ‘perintilan-perintilan’ dan hiasan yang bagi gue punya ‘sejarah’ sendiri, sehingga gue ogah memasukkannya dalam daftar buang.

Tapi, jadinya isi rumah gue makin bertambah banyak dan membuat ruang kelihatan makin sempit aja. Memang semuanya gue atur dengan rapi. Gue susun di rak buku, di lemari, atau di kardus-kardus yang gue simpan rapi. Tapi tetap aja, hal ini membuat gue kadang-kadang pusing juga, melihat sekeliling gue banyak barang, sedangkan ruangan nggak nambah-nambah, hehe

Makanya pada 2 hari kemarin itu, gue berniat untuk sungguh-sungguh bisa memilih mana barang yang masih benar-benar bisa dan akan gunakan dengan barang yang beneran udah nggak bakal gue pakai. Gue mulai memilah-milah semuanya, dan jujur aja, ini bukan pekerjaan yang gampang buat gue. Begitu deh… Setiap gue memilah barang mana yang akan gue buang, selalu aja gue menyertakan banyak alasan dan pertimbangan. Dan memang kebanyakan sih pada akhirnya barang gue banyak  juga yang gak jadi gue buang hanya karena satu dua alasan yang mungkin bagi orang lain bukan sesuatu yang penting.

Tapi gue memang harus melihat dan sadar sama keadaan yang sebenarnya. Gue nggak akan punya ruang lagi untuk menaruh semua barang-barang gue jika gue nggak ‘tega’ dalam memilah-milah. Dan yang bisa membuat gue cukup bisa melakukan itu adalah alasan lain bahwa barang ini masih bisa dipergunakan sama orang lain, yang berarti nggak akan kebuang percuma. Jadi ini cuma dipindahkan ke tempat lain aja, dan bukan lari ke tong sampah.

Ada pengalaman teman cewek gue yang punya banyak barang juga seperti gue. Dari mulai baju-baju bekas yang lumayan banyak, perabotan dan alat-alat rumah tangga, barang hiasan, dan banyak lagi. Dia juga memiliki ‘masalah’ yang sama. Selalu sayang untuk membuang sesuatu, walau sebenarnya udah nggak diperlukan lagi. Tapi untungnya, temen gue itu punya cukup akal. Dia sengaja membuka ‘garage sale’ di depan rumahnya, dalam upayanya mengurangi isi rumahnya. Dan memang ini hanya bisa berhasil kalo emang koleksi barangnya masih cukup layak pakai, dan yah secara estetika banyak yang bagus. Jadi orang masih bersedia membeli dengan harga yang gak mahal untuk barang bekas yang kita miliki. Tapi kalo gue? Mana ada yang mau beli kumpulan diktat atau barang-barang hiasan gue yang nggak jelas nilai estetikanya itu?

Jadi memang yang harus gue lakukan adalah gue harus ‘tega’ untuk membuat daftar mana barang yang akan gue pertahankan dan yang akan gue buang. Tapi gue tetap akan mengumpulkannya. Siapa tahu masih ada orang lain yang mau menggunakan. Seandainya nggak ada pun, berarti ini jadi rejekinya pemulung.

Memang barang apapun selalu memiliki kenangan buat gue. Hanya memang takarannya yang berbeda. Ada yang ‘special banget’ sampai yang ‘cukup berharga’. Dan satu alasan yang membuat barang-barang itu masih bertahan di rumah gue adalah ‘dibuang sayang’. Seringkali gue sayang aja membuang barang-barang itu, karena gue kadang ngerasa harus ngebuang juga kenangan-kenangan yang ada bersama barang itu. (buset deh segitunya…)

Tapi karena pelan-pelan gue mulai menyadari bahwa setiap barang yang baru akan juga membawa kenangan-kenangan yang baru, makanya gue membulatkan tekad untuk membuang barang-barang yang memang nggak efektif lagi gue gunakan tanpa lagi melihat seberapa besar kenangan yang ada di barang itu. Paling gue hanya bisa pesan sama orang yang mau ambil barang itu, “Disimpan baik-baik ya. Barang ini pernah menjadi sesuatu yang berharga loh buat gue…” hehehe

Yah akhirnya 2 hari yang gue habiskan untuk beres-beres cukup membuahkan hasil. Kebulatan tekad dan keteguhan hati gue berhasil mengurangi sekitar 30 persen barang yang ada di rumah gue. Sebagian besar memang barang-barang ‘perintilan’ yang nggak terlalu penting. Tapi yang jauh lebih penting adalah ternyata gue bisa juga untuk merelakan barang-barang gue yang penuh kenangan itu untuk dibuang. Tapi bukan berarti kenangan itu gue buang loh… Gue hanya akan menyimpannya dalam hati aja…(tetep!…) hehehe

peanisbuatan_ant@yahoo.com