Dalam menghadapi sebuah relasi dengan orang lain, tanpa sengaja gue menemukan banyak hal yang sangat menarik. Kenapa menarik? Karena dari situ gue ternyata bisa mengenali banyak karakter, sifat, pembawaan, dan berbagai label yang mungkin saja sudah melekat di orang itu sejak dahulu kala…

Dan layaknya sebuah relasi, nggak semua hal yang gue temukan merupakan sebuah bentuk koneksivitas yang lancar. Maksud gue, dalam relasi yang gue bangun itu seringkali ada kesalahpahaman, ketidakcocokan, hingga yang mungkin aja bisa berujung pada hilangnya relasi yang udah gue bina selama jangka waktu yang nggak sebentar.

Memang, selama ini gue selalu berusaha untuk menjaga semua relasi yang gue miliki dengan siapapun itu. Tidak hanya dengan mereka yang masih hitungan keluarga atau saudara, tapi juga teman dan pribadi lain yang gue kenal dimanapun mereka. Kekuatan sebuah relasi memang sangat relatif, tapi juga bisa dengan jelas diukur. Yang pasti dan utama adalah seberapa dekat gue dengan orang-orang yang gue kenal itu. Semakin dekat gue dengan mereka, maka semakin kuat-lah bentuk relasi yang gue miliki. Setidaknya itu ukuran yang gue pakai selama ini.

______________________________________

Nah, tapi kadang, ukuran kekuatan itu seringkali juga jadi masalah buat gue. Karena seperti yang di awal gue bilang, kalo dalam sebuah relasi ada saja hal yang membuat kita ‘uring-uringan’, apapun penyebabnya itu. Banyak yang bilang semakin dekat kita dengan seseorang, maka semakin beresiko-lah relasi yang kita bangun. Karena sebuah ucapan sederhana bisa menjadi sebuah ‘serangan kata’ yang serius ditanggapi oleh orang terdekat kita, ketimbang saat kita mengungkapkannya pada teman-teman biasa yang kita kenal. Makanya gara-gara itu, gue merasa kalo gue sering banget ngecewain orang terdekat gue hanya gara-gara omongan sepele…

Kadang-kadang akhirnya gue memang akan menjelaskan bahwa apa yang gue omongin nggak seperti yang mereka bayangkan. Tapi tetap aja, namanya omongan kan nggak bisa ‘ditarik’ kembali. Apa yang mereka dengar dari gue itulah yang mereka anggap sebagai pemikiran dan isi hati dari gue. Dan itu gak salah…

Gue sendiri juga percaya, kalo gue nggak pernah tahu apa isi hati orang lain, sedekat apapun gue dengan mereka. Bahkan dengan keluarga yang gue anggap paling dekat dan gue sangat mengerti mereka, sebenarnya gue tetap gak bisa tahu isi hati masing-masing pribadi. Gue hanya bisa menerka-nerka. Kedalaman hati orang melebihi samudra, begitu kata orang pinter… hehehe

Gue juga akan tetap berpegang pada satu hal, bahwa dalam sebuah relasi dengan orang lain yang bisa gue pegang memang hanya omongannya saja. Selebihnya gue nggak berhak lagi pingin tahu, karena tiap pribadi memiliki kebebasannya masing-masing. Gue mungkin bisa aja bertanya berulang kali sama seseorang yang misalnya kebetulan bilang, “aku sayang kamu…”. Gue bisa aja mencari kepastian sama dia mengenai ucapannya itu. Tapi tetap aja, hati dia yang sebenarnya gue nggak pernah tahu. Apa dia benar sayang, atau karena hal lain, gak ada yang pernah tahu. Mungkin gue bisa melihat dari apa yang dilakukannya sebagai kelanjutan dari apa yang dikatakan. Apakah perbuatan sesuai dengan omongan, istilahnya. Tapi tetap aja, isi hati dia yang sebenarnya adalah sebuah misteri terbesar yang gue nggak pernah tahu…

Karenanya memang gue nggak perlu lah ingin tahu isi hati orang yang paling terdalam. Yang bisa gue pegang adalah saat dia mengungkapkannya dalam sebuah perkataan. Itu aja. Boleh aja gue bertanya sekali untuk meyakinkan yang dia katakan itu benar, tapi selebihnya, terserah gue mau percaya apa tidak. Karena kebenaran dari omongan; yang berarti juga isi hatinya tetap gak akan bisa gue ketahui.

Gue nggak bermaksud untuk skeptis. Justru gue selalu berpikir positif. Jika ada pernyataan atau perkataan yang terucap buat gue, gue akan selalu menyikapinya dengan hati yang terbuka. Apapun itu. Bahkan jika itu adalah sebuah kalimat paling pedas sekalipun. Karena ya itu tadi. Itu perkataan, tapi isi hati yang sebenarnya?

Atau saat gue menerima ucapan yang manis dan yang bisa membuat gue bahagia, gue juga akan tetap menyikapinya dengan hati yang terbuka, tanpa harus takut gue akan dibohongi, dikecewakan, atau dimanipulasi. Yang gue pegang hanya omonganya aja, titik. Gue nggak akan menugutik-ngutik kedalaman hati sesorang saat mengucapkan sesuatu. Gue sih yakin kalo memang isi hatinya sesuai dengan ucapannya, gue pasti akan bisa ‘melihatnya’ suatu saat, walau dengan cara yang masih juga jadi misteri terbesar buat gue…

Ini mungkin yang bisa menghindari gue dari banyak analisa dan pikiran-pikiran negatif ketika gue mendengar sebuah ucapan yang ditujukan buat gue. Ini juga bisa membuat gue sedikit mengerem untuk menilai orang sembarangan hanya dari sebuah omongan. Gue akan tetap pegang omongan dia, tapi sejauh apa kejujuran isi hati dengan ucapan yang dia lontarkan tetap gak akan gue nilai. Jadi selalu ada ruang untuk tetap berpikir positif dalam menyikapi setiap perkataan dan omongan orang lain.

Itu juga yang mungkin membuat gue bisa menjalani hidup dengan lebih santai… Lidah memang bisa bikin bahaya atau bisa bikin mabuk kepayang. Tapi yang lebih penting sesuatu yang membuat lidah itu bergerak, yaitu suara hati terdalam… Dan itu yang seringkali gak kedengaran sama gue, tetapi menjadi kebenaran dari setiap ucapan…

So, gue akan selalu berusaha untuk berhati-hati dalam berbicara, dan bersikap seobyektif mungkin saat gue harus mendengarkan. Feel free, no hurt felling, dan tanpa prasangka. Dan gue juga nyadar, kalo gue masih butuh banyak berlatih untuk membiasakan diri dengan hal ini…

pemanisbuatan_ant@yahoo.com