Kesetiakawanan Asia Afrika

Mei Hwa perawan 16 tahun
Farouk perjaka 16 tahun
Mei Hwa masuk kamar jam 24.00
Farouk masuk kamar jam 24.00
Mei Hwa buka blouse
Farouk buka hemd
Mei Hwa buka rok
Farouk buka celana
Mei hwa buka BH
Farouk buka singlet
Farouk buka celana dalam
Mei Hwa telanjang bulat
Farouk telanjang bulat
Mei Hwa pakai daster
Farouk pakai kamerjas
Mei Hwa naik ranjang
Farouk naik ranjang
Lantas mereka tidurlah
Mei Hwa di Taipeh
Farouk di Kairo

-Remy Sylado-

 

Menggelitik, apa adanya, nggak jelas, bebas, semaunya, tanpa arah, merupakan sebagian ciri khas dari ‘puisi mbeling’. Puisi? masak tulisan ‘seperti di atas’ disebut ‘puisi’? Bukannya puisi itu merupakan kumpulan kata-kata indah, penuh makna, penuh permainan bahasa yang memikat dan sebagainya? Maka dari itu, tulisan di atas disebut sebagi puisi ‘mbeling’. ‘Mbeling’ dalam bahasa jawa yang berarti ‘nakal/susah diatur’.

Puisi Mbeling dicetuskan sebagai salah satu bentuk dari gerakan ‘mbeling’ yang dicetuskan oleh Remy Sylado pada 1971. Suatu gerakan yang dimaksudkan untuk mendobrak sikap rezim orde baru yang feodal dan munafik saat itu. Tapi dalam perkembangannya, gue lebih tertarik untuk membaca penuturan dari Sapardi Djoko Damono, seorang penyair besar Indonesia mengenai puisi mbeling ini:

“Puisi rupanya telah menjadi bentuk sastra yang menarik minat orang-orang muda, terutama dalam masa perkembangannya sebagai sastrawan. Sajak-sajak yang dikirimkan ke majalah-majalah yang berprestasi tidak dapat segera dimuat… Sementara beberapa penyair mendapatkan tempat yang semakin kukuh dalam perkembangan puisi Indonesia, kaum muda yang baru mulai menulis itu merasakan semacam tekanan. Mereka merasa tidak bisa cepat tampil karena terhalang oleh tokoh-tokoh yang sudah ‘mapan’… Tambahan lagi kebanyakan mereka menetapkan kepenyairan berdasarkan dimuat atau tidaknya sajak-sajaknya dalam majalah sastra satu-satunya, Horison.”

Puisi mbeling bagi gue menjadi sebuah bentuk cara untuk sebebasnya berekspresi sekaligus untuk melawan segala bentuk kemapanan teknis. Siapapun boleh menulis puisi, sajak, tanpa harus mengindahkan aturan bahasa atau rima yang berlaku. Tema maupun bahasan bisa dituturkan dengan bebas. Dan semua sah-sah aja, karena sedari awal mereka udah mengkategorikan karya mereka sebagai karya ‘mbeling’ yang nakal dan nggak berpatokan pada aturan…

_________________________________________

Gue sih berada dalam posisi yang jelas mendukung. Jika berbicara ekspresi, memang harusnya ada sebuah bentuk kebebasan yang membuat gue bisa berkarya dengan cinta. Lalu bagaimana dengan etika dan nilai-nilai yang harusnya ada juga dalam sebuah bentuk karya; apapun itu? Bagi gue, karya yang diciptakan dengan cinta pastinya akan menghasilkan sebuah bentuk cinta juga, yang positifnya bisa menghasilkan nilai yang baik. Beda dengan karya yang sengaja diciptakan sebagai bentuk ‘perlawanan’ yang mungkin aja pesannya memang sengaja dibuat provokatif. Tapi gue sih tetap menganggap, apapun itu, kebebasan berekspresi merupakan sebuah bentuk hak asasi manusia.

Gue suka menulis, termasuk puisi. Dan mungkin juga puisi-puisi gue termasuk kategori mbeling, karena memang puisi gue jauh dari bentuk karya yang berkualitas, apalagi jika melihatnya dari kacamata teknis penulisan yang baik dan benar. Tapi bagi gue, menulis adalah sebuah bentuk hiburan sekaligus terapi. Gue menulis karena gue ingin bahagia dan dibahagiakan lewat tulisan gue. Makanya gue juga rajin menulis dalam blog ini🙂 Karena ya itu tadi, gue ingin menghibur diri gue setiap saat.

Ketika menulis gue bisa mengekspresikan semua yang gue rasakan dan lihat dengan bebas. Dan ini bisa juga jadi bahan permenungan buat gue sendiri. Cara ini seringkali efektif saat gue harus menghadapi berbagi situasi yang sulit. Siapa tahu justru saat gue menumpahkannya lewat pena, ada banyak solusi yang secara sadar nggak sadar bisa gue dapetin… eureka! gitu lah istilahnya…

Dan memang saat gue menulis, gue bisa merasa ‘bebas’ tanpa perlu takut tulisan gue bakal disukai apa enggak, atau bakal ‘bunyi’ atau enggak. Gue menulis karena hanya ingin mengungkapkan apa yang gue rasakan, bisa berkespresi dan bisa menjadi diri sendiri. Jika saat gue melakukan banyak pekerjaan di kantor ataupun saat mengerjakan proyek desain mungkin gue nggak bisa merasa bebas sepenuhnya karna banyak tuntutan, justru saat menulis gue bisa menemukan diri gue yang sebenarnya. Sesederhana itu sih alasannya.

Memang, secara nggak langsung saat gue menulis dan gue mempublikasikannya; seperti di blog ini, gue juga merasa kalo gue juga punya tanggung jawab moral atas semua tulisan gue. Karena bagaimanapun gue nggak menulis diary atau catatan yang gue konsumsi sendiri. Tulisan gue bisa aja dibaca orang lain. Dan karena itu, memang tulisan gue pun bisa aja disalahartikan dan disalahpahami. Di situlah letak tanggung jawab yang gue maksud.

Memang hal ini nggak sampai gue merasa ‘terkebiri’ dalam hal eksplorasi ide, tapi justru bisa jadi pemicu semangat gue untuk berekspresi secara bebas dan juga bertanggung jawab. Tapi dibalik itu semua, gue tetap berpatokan sama satu hal sederhana; gue menulis sekali lagi karena rasa cinta. Dan mudah-mudahan segala sesuatu yang diawali oleh rasa cinta, bisa dilakukan dengan penuh cinta juga sehingga hasilnya bisa dimaknai dalam cinta juga. Walau gue sadar kalo kadang-kadang cinta bisa juga nyakitin…

Sekali lagi, gue hanya ingin menulis. Gue hanya ingin bertutur dengan cara yang gue inginkan. Gue memang nggak paham betul dengan teknis penulisan yang baik, atau mungkin banyak etika dari sebuah tulisan yang sama sekali gue nggak ngerti aturannya. Jadi apa dan bagaimana gue menulis sepenuhnya murni menjadi sebuah bentuk ekspresi semata. Dan seringkali segala sesuatunya muncul spontan dan apa adanya.

Gue hanya ingin jujur. Apa yang gue tulis, ya itulah yang gue rasakan. Dan mungkin memang sebatas itu referensi dan pengetahuan yang gue pahami ketika gue membuat sebuah tulisan. Jadi, memang gue nggak berpatokan pada sebuah nilai idealisme saat menulis. Yang paling utama buat gue, adalah bagaimana gue bisa menghadirkan ide-ide dan pemikiran gue dalam sebuah bentuk tulisan yang mungkin suatu saat bisa gue baca-baca lagi sebagai sebuah bentuk referensi dan permenungan pribadi. Dan karena itu, tulisan gue akan selalu menjadi bentuk tulisan yang ‘mbeling’.

Gue sih berharap, walau tulisan gue menjadi sesuatu yang nakal dan nggak punya aturan, tapi semoga aja bisa tetap berada dalam koridor ‘kenakalan yang wajar’, karena ketidak tahuan, atau sebagai sebuah bentuk kenakalan berkespresi dalam dunia kata semata, dan bukan sebagai sebuah bentuk intimidasi apalagi sampe nyakitin orang lain… Semoga.

* Beberapa sumber tulisan diambil dari buku Puisi Mbeling karya Remy Sylado terbitan Kepustakaan Populer Gramedia, 2004.

pemanisbuatan_ant@yahoo.com