Jika Alice memiliki keyakinan akan 6 hal yang sebenarnya mustahil terjadi di dunia nyata, maka gak salah gue juga kadang boleh memiliki keyakinan akan hal-hal yang sebenarnya kata orang juga mustahil. Gue kayaknya perlu deh masuk dan bermain di wonderland untuk menikmati sebuah dunia dimana segala sesuatunya bisa hadir secara nyata, dimana sebelumnya cuma hadir dalam mimpi-mimpi gue.

Mungkin bukan seperti Alice yang memiliki keyakinan bahwa binatang bisa berbicara, dan ada tempat dimana dia bisa bertemu kelinci bermantel bulu atau kucing yang selalu tersenyum. Tapi setidaknya gue harus memiliki sebuah angan-angan sendiri akan sebuah dunia impian yang bisa aja gue miliki sejak masa kecil, dan yang tidak seorang pun bisa protes…_______________________________________

Bagi gue, Wonderland menjadi sebuah bentuk dunia impian yang bisa memuaskan dahaga. Dunia dimana gue bisa menikmati saat-saat ketika gue bebas bermain dalam sebuah ‘dunia rekaan’, sama seperti yang Alice miliki. Dunia ini akan selalu tetap ada, dan akan tetap menjadi sesuatu yang tetap gue hadirkan dalam keseharian gue. Bagaimanapun impian dan khayalan menjadi milik semua orang, tanpa memandang batas usia.

Bagi Alice sendiri, Wonderland menjadi sebuah tempat dimana akhirnya dia bisa menemukan banyak jawaban atas berbagai pertanyaan yang hadir dalam hidupnya. Sebagai sebuah remaja yang tumbuh dalam lingkungan aristrokat, tentu segala sesuatu ia jalani sebagai sebuah hal yang baku, teratur, resmi dan boleh dibilang tanpa ‘kejutan’. Dan ketika di Wonderland, Alice sungguh menikmati ‘peran’nya sebagai seorang gadis yang bebas, bisa bertemu banyak hal yang seru, serta bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan orang lain…

Asik juga ternyata memiliki dunia sendiri. Jika dalam dunia nyata gue belum bisa mendapatkan ‘peran’ yang gue inginkan, maka biasanya gue cukup bahagia dengan menikmati ‘peran’ yang gue punya dalam dunia khayalan gue. Mungkin tidak seindah, sesuram atau bahkan seaneh dunia Wonderland-nya Alice, tapi ‘dunia lain’ yang gue ciptakan ini juga menjadi tempat yang sangat menyenangkan buat gue bermain peran. Dunia Kahayalan gue itu justru menjadi sebuah dunia dimana gue bisa melihat diri gue secara lebih ‘utuh’, bisa lebih menjadi diri gue sendiri, dan syukur-syukur malah bisa menemukan potensi gue yang sesungguhnya, sama seperti Alice yang pada akhirnya bisa menjadi seorang gadis yang berani mengambil keputusan untuk masa depannya sekembalinya ia dari Wonderland…

Dalam dunia khayalan itu, gue nggak perlu takut lagi kalo gue bakal salah jalan, gak perlu lagi gue peduli sama omongan orang yang nggak enak, atau nggak perlu lagi kuatir akan segala sesuatu. Toh dalam dunia khayalan, segalanya bisa gue ciptakan dengan gampang, termasuk solusi-solusi ajaib yang biasanya susah gue temukan dengan gampang di dunia nyata. Dan sekali lagi nggak ada yang salah dengan semua khayalan dan impian itu. Namanya juga Wonderland, segala sesuatunya yang terjadi sepenuhnya menjadi hak preogratif dari gue sendiri… hehehe

Jadi apapun, gue nggak akan pernah bosan bermain di dunia khayalan gue, membiarkan diri gue berlarian bebas di padang rumput, menjelajahi sebuah istana megah yang di dalamnya gue bebas melakukan apa saja serta untuk menikmati semua hal yang nggak bakal ada di dunia nyata. Setiap benda dan setiap tempat yang ada di dalamnya murni rekaan gue pribadi, dan itu semua bisa dipakai dan bebas untuk gue gunakan untuk apa aja.

Mungkin aja gue akan seperti doraemon yang memiliki banyak koleksi alat. Mungkin aja gue bebas menggunakan barang-barang ‘ciptaan’ gue yang bisa mempermudah hidup gue, walau sebatas di dunia khayalan gue pribadi. Gue bisa berenang di kolam renang virtual jadi gue nggak perlu pusing mikirin lahan luas, gue bebas memilih makanan di dapur karena gue memiliki 100 koki handal dari 5 benua (jadinya gue nggak bakal deh sibuk nyari warung nasi kalo gue mau makan hehehe), atau gue bisa bikin project desain yang nilainya bisa menghidupi gue selama 7 turunan, hehehe (kalo yang ini sih maksa banget ya…)

Tapi bagaimanapun, Wonderland yang gue punya pastinya berbeda dengan yang Alice miliki. Tapi keduanya akan menjadi tempat yang sama; selalu menyenangkan buat dikunjungi. Dan baik Alice maupun gue pun akan tetap sadar, kalo semua itu hanya dunia impian dan rekaan, dan kita pun tetap percaya bahwa suatu saat harus kembali ke dunia yang nyata.

Tapi setidaknya gue bisa kembali hadir dalam dunia nyata dengan visualisasi yang berbeda. Dengan cara pandang berbeda, dan itu semua karena gue sungguh menemukan kabahagiaan kecil yang bisa gue dapetin di dunia impian gue. Dan mungkin loe semua nggak akan bisa ngerti.

Hanya gue dan Alice yang mengerti. Karena kemaren gue sempat ngajak dia main ke dunia Wonderland punya gue, hehehehe

pemanisbuatan_ant@yahoo.com