Hari Raya Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap tahun Baru Saka (Penanggal Ping Pisan Sasih Kadasa). Hari Nyepi ini jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari amerta air hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci terhadap mereka.

Makna dari Nyepi adalah membuat suasana hening, tanpa kegiatan (amati karya), tanpa menyalakan api (amati geni), tidak keluar rumah (amati lelungaan), dan tanpa hiburan (amati lelanguan), yang dikenal dengan istilah “Catur Berata Penyepian”. Di hari itu umat Hindu melakukan tapa, berata, yoga, samadhi untuk mengadakan koreksi total pada diri sendiri, serta menilai pelaksanaan trikaya (kayika = perbuatan, wacika = perkataan, manacika = pikiran) di masa lampau, kemudian merencanakan trikaya parisudha (trikaya yang suci) di masa depan.

Beberapa dari teman gue merayakan Nyepi. Dan menurut gue, momentum Nyepi bisa jadi permenungan bersama buat gue dan kita semua untuk sedikit menarik diri sejenak dari segala sesuatu yang kita lalui dan hadapi sehari-hari; khususnya untuk melihat kembali ke dalam diri dan berintropeksi agar ke depannya kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik.

___________________________________

Dalam setiap kehidupan yang berjalan, memang kadang gue juga merasa lelah dan butuh untuk istirahat. Tapi seringkali gue beristirahat karena gue udah nggak mampu lagi. Sejujurnya, gue belum mau berhenti seandainya aja otak dan badan gue masih mau diajak kopromi. Dalam setiap aktivitas keseharian, terkadang segala sesuatu berjalan tanpa ada jeda. Dari satu perhentian ke perhentian lain, dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain, semua terus berputar dan berjalan tanpa henti.

Semuanya itu kadang membuat gue lupa bahwa gue seringkali harus melihat ke dalam sesekali untuk mengetahui bahwa selama ini yang gue lakukan sudah ada di jalur yang benar. Gue harus berhenti sejenak bukan hanya karena gue butuh istirahat, tapi jauh lebih dari itu gue berhenti karena gue harus meluangkan waktu untuk melihat ke dalam diri gue. Intropeksi, re-koleksi, dapat menjadi sebuah bahan permenungan yang bisa gue lakukan untuk mempersiapkan diri dalam menyusun langkah ke depan.

Gue yakin kalo teman-teman gue yang merayakan Nyepi tidak hanya sekedar menjalani ‘Catur Berata Penyepian’ tanpa makna. Di balik kegiatan itu, gue yakin bahwa saat berintropeksi dan melihat ke dalam hati menjadi faktor utama yang mungkin aja nilainya jauh lebih penting dari sekedar berpuasa, atau sekedar menghentikan aktivitas selama satu hari itu…

Di sisi lain, gue juga melihat bahwa Nyepi menjadi sebuah momentum perayaan Tahun Baru yang istimewa. Kenapa istimewa? Karena Tahun Baru Saka dirayakan jauh dari pakem perayaan yang biasa dilalui; dengan berbagai kegiatan hingar bingar, pesta, dan sebagainya. Tahun Baru ternyata bisa juga menjadi sebuah momentum permenungan, re-koleksi (mengumpulkan kembali) setiap hal yang sudah kita lalui untuk kemudian dilakukan intropeksi. Ucapan syukur dan kerendahan hati untuk menjadi pribadi yang lebih baiklah yang menjadi satu-satunya alasan untuk menghayati momen ‘menarik diri’ dalam sebuah bentuk perayaan Tahun Baru…

Ketika sudah terlalu banyak hal yang  dialami dan rasakan, dan ketika segala sesuatunya terlihat begitu ‘melelahkan’, memang yang terbaik yang bisa dilakukan adalah dengan menarik diri sejenak dari berbagai kesibukan, meluangkan waktu, serta untuk membuka mata hati agar di waktu yang ke depan, langkah dan rencana hidup dapat lebih memiliki makna untuk dilaksanakan. Tentunya dengan pribadi dan semangat yang baru.

So, Selamat Hri Raya Nyepi, dan Selamat Tahun Baru, Guys!

pemanisbuatan_ant@yahoo.com