Kembali ke masa kuliah dulu. Saat perut mulai lapar, gue biasa melangkahkan kaki menuju angkringan di pinggir jalan deket patangpuluhan. Sekedar untuk melepas lelah, mengisi perut sambil mengisi malam yang kadang sering bikin jenuh.

Angkringan bagi gue menjadi semacam tempat relaksasi, tempat pelarian dari segala kepenatan gue waktu itu sama tugas kampus yang kayaknya nggak ada habis-habisnya. Di sini gue bisa ketemu temen-temen sekampus, bisa makan minum bareng, bisa ngobrol ngalor ngidul, yang membuat otak gue jadi seger lagi…
___________________________________

Jika ingin melihat sejarahnya, angkringan berasal dari kata bahasa Jawa “angkring” yang artinya duduk santai, biasanya dengan melipat satu kaki ke kursi. Angkringan adalah semacam warung makan yang berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan kain terpal plastik dengan warna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli, angkringan beroperasi mulai sore hari sampai dini hari. Namun kini ada juga yang mulai buka siang hari. Pada malam hari, angkringan mengandalkan penerangan tradisional senthir dibantu terangnya lampu jalan.

Makanan khas yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telor puyuh, kripik dan lain-lain. Nasi kucing (dalam bahasa Jawa disebut “sega kucing“) bukanlah suatu menu tertentu, tetapi lebih pada cara penyajian nasi bungkus yang banyak ditemukan pada angkringan. Dinamakan “nasi kucing” karena disajikan dalam porsi yang (sangat) sedikit, seperti menu untuk pakan kucing. Bagi kaum laki-laki mungkin bisa menghabiskan 3-5 bungkus. Minuman yang dijual pun beraneka macam seperti teh, es jeruk, kopi, wedang tape, wedang jahe, susu, atau campuran beberapa yang anda suka. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Tapi sekarang kalau dirasa-rasa, harga hidangan angkringan udah lumayan ‘mengikuti pasar’. Tetapi tetap saja angkringan banyak penggemar.

Beberapa menu yang tersedia di angkringan...

Sejarah angkringan di Jogja merupakan sebuah romantisme perjuangan menaklukan kemiskinan. Angkringan di Jogjakarta dipelopori oleh seorang pendatang dari Cawas, Klaten bernama Mbah Pairo pada tahun 1950-an. Cawas yang secara adminstratif termasuk wilayah Klaten Jawa Tengah merupakan daerah tandus terutama di musim kemarau. Tidak adanya lahan subur yang bisa diandalkan untuk menyambung hidup, membuat Mbah Pairo mengadu nasib ke kota. Ya, ke sini, ke Jogjakarta.

Mbah Pairo bisa disebut pionir angkringan di Jogjakarta. Usaha angkringan Mbah Pairo ini kemudian diwarisi oleh Lik Man, putra Mbah Pairo sekitar tahun 1969. Lik Man yang kini menempati sebelah utara Stasiun Tugu sempat beberapa kali berpindah lokasi. Seiring bergulirnya waktu, lambat laun bisnis ini kemudian menjamur hingga pada saat ini sangat mudah menemukan angkringan di setiap sudut Kota Jogja. Angkringan Lik Man pun konon menjadi yang paling dikenal di seluruh Jogja, bahkan di luar Jogja.

Berbeda dengan angkringan saat ini yang memakai gerobak, diawal kemunculannya angkringan menggunakan pikulan sebagai alat sekaligus center of interest. Bertempat di emplasemen Stasiun Tugu Mbah Pairo menggelar dagangannya. Pada masa Mbah Pairo berjualan, angkringan dikenal dengan sebutan ting-ting hik (baca: hek). Hal ini disebabkan karena penjualnya berteriak “Hiiik…iyeek” ketika menjajakan dagangan mereka. Istilah hik sering diartikan sebagai Hidangan Istimewa Kampung. Sebutan hik sendiri masih ditemui di Solo hingga saat ini, tetapi untuk di Jogja istilah angkringan lebih populer. Demikian sejarah angkringan di Jogjakarta bermula.

'nasi kucing' plus lauk 'ala kadarnya'

Kadang, gue suka nongkrong semaleman di angkringan karena bisa ngobrol dengan banyak orang. Di angkringan siapa pun kita udah nggak penting. Dari mahasiswa, karyawan, bakul sayur, tukang becak, semua ngumpul dan saling berbagi kisah walaupun sebelumnya tidak saling mengenal satu sama lain. Itu yang membuat angkringan tidak hanya menjadi sebuah tempat makan, tapi sudah menjadi wadah yang mempertemukan kalangan marjinal (sebagian besar) beserta semua obrolan yang ada di dalamnya.

Beberapa tahun setelah gue hijrah dan bekerja di Jakarta, ternyata gue kembali menemukan angkringan di sini. Ada beberapa orang yang berinisiatif membuka gerobak tenda khas Jogja itu untuk kemudian berjualan di pinggiran kota Jakarta. Memang, dari segi tempat sepertinya kurang pas, karena tau sendiri, jalan di Jakarta beda sama Jogja. Rame, bising, penuh asap knalpot, dan bahkan nggak nyaman sama sekali untuk dijadikan tempat ‘kongkow-kongkow’. Tapi ya itulah, daya tarik ‘nostalgia’ membuat angkringan luar kota ini tumbuh makin menjamur, bahkan bisa ditemui di seputar Jabodetabek.

Salah satu angkringan di sudut kota Jakarta

Ada kerinduan bagi sebagian kalangan yang merantau di ibukota untuk sekedar menikmati ‘sego kucing’ dan segelas wedang jahe, beserta obrolan yang ramah bersama pengunjung lain tentunya… Dan ternyata, kerinduan itu cukup bisa terobati, walau suasana malam Jogja tetap memiliki kekhasan sendiri dan agak sulit untuk dicari padanannya.

Angkringan memang bukan seperti gudeg atau soto, dimana keduanya sengaja ‘dibawa’ ke kota untuk diperkenalkan ke masyarakat yang lebih luas. Tidak ada yang istimewa dari apa yang disajikan di angkringan dari jenis makanan atau minuman. Karena semua yang tersaji adalah makanan ‘wong cilik’ yang apa adanya. Tapi memang, keunikan, keramahan, dan kehangatan yang ada di angkringan yang coba ditawarkan di kota seperti Jakarta, dan kadang itu yang tidak didapatkan di restoran gudeg di hotel atau di mal-mal besar seantero kota.

Dan pastinya, selama tungku masih menyala, dan selama minuman hangat siap selalu untuk disajikan, maka selama itu pula keramahan dan keakraban suasana malam akan kita dapatkan. Walau sekarang tidak dengan harga yang nggak murah juga, karena kadang kalo gue keasikan nongkrong, pastinya gue akan banyak ngemil, makan, nambah minum, yang akhirnya bisa keluar duit banyak juga,🙂

Jadi, sekarang emang udah gak penting, angkringan aseli Jogja atau tidak, asal bisa menawarkan keramahan dan makanan serta minuman yang tetep bisa bikin kenyang, ya sama aja….  Sego kucing ya tetep aja sego kucing. ‘Seemprit’ tapi tetep aja bikin kangen, hehehe

pemanisbuatan_ant@yahoo.com