Seminggu yang lalu gue main ke tempat temen gue di daerah Rawa Kucing, Sewan, Tangerang. Udah lama juga gue gak main ke rumahnya. Temen gue itu keturunan tionghoa, tapi sama sekali nggak keliatan ‘cina’nya dari segi perawakan. Kulitnya sawo matang mirip gue. Matanya juga gak sipit. Bulat malah. Dia tinggal  di sebuah perkampungan yang dihuni oleh beragam golongan masyarakat, tetapi memang sebagian besar merupakan masyarakat keturunan Tionghoa. Namanya Kartika, tapi dia lebih sering dipanggil Fei. Karena nama cinanya adalah Chen Sing Fei.

Udah lama juga pas dia ngajak gue makan pertama kali di daerah Sewan, dimana kita menyusuri jalan setapak di pinggir sawah untuk kemudian singgah di kedai siomay. Pikir gue, di daerah kayak gini, yang jauh dari keramaian, mana laku jualan siomay? Tapi keraguan dan lamunan gue otomatis terhenti setelah gue melihat ternayata kedai cukup ramai oleh pembeli, dan setahu gue juga mereka bukan dari daerah sekitar Sewan, yang berarti sama kayak gue; masuk jauh ke daerah pinggiran cuma buat makan siomay!______________________________

Siang itu gue tertawa panjang lebar dan bercerita banyak bareng Fei. Gue ingat banget dulu ketika pertama kali gue main ke rumahnya, gue terheran-heran melihat bangunan rumahnya yang luasnya berkali-kali dari rumah gue, dan dengan bangunan yang masih asli, bergaya cina kolonial gitu deh. Halaman yang luas dipenuhi banyak pohon rambutan, sayang waktu itu gak lagi musim.

Kartika merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Mereka adalah keluarga yang hidup sederhana walau seperti gue bilang tadi, rumahnya gede banget. Papinya seorang karyawan biasa yang bekerja di salah satu perusahaan keluarga di sekitar Sewan situ. Sedangkan maminya sering membuat kue kering untuk dijual ke tetangga atau orang lain yang memesan.

Mereka merupakan keluarga yang hangat. Melihat bagaimana mereka menjalankan keseharian, sama sekali gue nggak melihat perbedaan dengan orang-orang di kampung itu juga yang kebetulan bukan keturunan Tionghoa. Mereka sama-sama hidup sederhana, tidak berlebihan, dan terkadang hanya mengandalkan pendapatan harian. Ini dialami oleh penduduk keturunan Tionghoa lainnya di kampung itu yang kebetulan berprofesi sebagai kuli panggul, penggarap sawah, atau sebagai tukang becak. Jadi stereotipe yang ada mengenai masyarakat keturunan tionghoa terbantahkan di Sewan.

Gue jadi heran aja kalo masih ada yang bilang kalo masyarakat keturunan tionghoa itu menguasai ekonomi dan sangat kapitalis. Lah buktinya lihat aja di Sewan, atau di Bangka Belitung. Yang ada loe akan menemukan mereka hidup jauh lebih susah dari orang kebanyakan.

Gue sadar, kalo selama ini stereotip-lah yang membuat masyarakat Indonesia seakan terbagi-bagi dalam persepsi yang gak semuanya benar. Coba aja kalo sesama orang jawa ngumpul, bagi mereka orang keturunan Cina gak jauh dari persepsi kaya, eksklusif, gak mau bergaul, sombong, dll. Atau kalo sesama masyarakat keturunan Cina yang ngumpul, persepsi mereka rata-rata kepada orang pribumi adalah: pemalas, penindas, nggak jujur, dsb. Siapa yang salah? Belanda tuh yang harus disalahin! Sejak jaman kolonial pihak Belanda udah mengkotak-kotakan masyarakat dan menebar benih permusuhan lewat politik Devide et Impera.

Jadinya yah sampe sekarang. Kecurigaan kadang masih aja muncul di antara masyarakat pribumi dengan keturunan. Pribumi yang ‘menguasai’ pemerintahan dan kekuasaan, ekuivalent dengan masyarakat keturunan yang menguasai ekonomi. Dan celakanya ini juga berlaku sampe ke masyarakat kelas bawah alias akar rumput. Sehingga, kadang susah banget mengubah persepsi negatif kita terhadap golongan masyarakat tertentu.

Tapi di Sewan, kayaknya stereotip kaku  kayak gitu gak berlaku deh. Gue melihat mereka hidup sangat membaur dengan masyarakat sekitar. Dari gaya hidup, perawakan, hingga status sosial nggak ada yang membedakan. Yang membedakan mungkin hanya di interior rumah mereka yang memiliki meja dupa sebagai tempat persembahan dan berdoa. Selebihnya gak ada yang membedakan secara kasat mata.

Siang itu, seminggu sebelum Sincia, kehidupan di keluarga Fei tampak berjalan biasa aja. Mungkin hanya maminya yang agak sedikit sibuk, karena membuat kue keranjang untuk perayaan tahun baru nanti. Selebihnya, mereka akan merayakan pergantian tahun dengan sederhana. Gak ada baju baru, gak ada makanan mewah, apalagi yang sering disebut sebagai sop sirip ikan hiu. Yang ada hanya hidangan sederhana pas tahun baru nanti. Rencananya mami Fei akan masak pindang bandeng. Dan Fei sendiri cukup antusias menyambut pergantian tahun walau dengan perayaan seadanya.

Bagi Fei, tahun baru nanti mambawa banyak harapan untuk sebuah perubahan bagi dia dan juga keluarga. Tapi yang jauh lebih penting bagi dia adalah bahwa keluarganya akan selalu diberikan kesehatan dan keselamatan sepanjang tahun. Dan dia percaya juga di tahun besok, keluarganya juga akan selalu diberkahi rejeki dan berkah melimpah. Itulah mengapa gue selalu suka melihat wajah Fei yang selalu tersenyum, tanpa harus kuatir akan apa dan bagaimana ia menjalani hidupnya.

Dan sama seperti gue, dia juga nggak peduli akan bentuk-bentuk stereotip yang ada di masyarakat tentang dia, masyarakatnya, atau siapapun. Karena itulah Fei selalu menjadi pribadi yang hangat kepada siapapun. Bagi dia emang udah gak penting dia terlahir sebagai orang apa. Yang tahu dia menjalani ke’cinaan’nya dengan semangat yang sama dengan masyarakat lainnya. Gak ada beda, dan emang gak ada yang perlu dibedakan.

Selamat Tahun Baru, ya Fei! GBU and all family.

pemanisbuatan_ant@yahoo.com