Boen Tek Bio, klenteng pertama di Tangerang.

Dari Pasar Lama hingga Cisauk…

Gue paling suka jalan-jalan ke daerah pecinan di pasar lama tangerang. Alasannya apalagi kalo bukan banyak tempat makan yang enak… Kisaran jalan Kisamaun dan sekitarnya memang menjadi tempat yang sangat khas suasana pecinan. Mulai makanan, toko peralatan sembahyang cina, toko obat, semuanya ada. Sayang, bangunan di sana udah nggak banyak yang ‘asli’. Hanya ada beberapa aja yang masih mempertahankan bentuk aslinya.

Dulu, bareng temen, gue sering masuk-masuk ke dalam pasar yang bisa kita temukan setelah kita masuk ke dalam sebuah gang sempit. Pasar itu terletak bersebelahan dengan klenteng Boen Tek Bio, yang didirikan tahun 1684 dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang.* Gang yang sempit dan banyaknya pedagang yang menjual keperluan sembahyang membuat suasana dalam gang ini bener-bener berasa kayak di daerah shanghai di tahun 50an hehehe…

Menurut sejarah, di Pasar Lama inilah komunitas Cina Benteng; masyarakat keturunan Cina yang tinggal di Tangerang mulai bertempat tinggal. Mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gang Gula (Cilangkap). * Kalo pas malam imlek kayak gini, dijamin deh, suasana di daerah gang-gang sempit ini makin bertambah ramai. Dan yang pasti makin banyak pula makanan-makanan dan kue-kue enak yang dijual di sana.

Gue beberapa kali nemenin temen gue belanja di pasar lama. Pagi-pagi kita udah berangkat, dan wah segala ada di pasar itu! Pasar yang identik dengan ‘pasar khas cina’ ini menjual banyak makanan yang biasanya gak ada di pasar biasa. Istilahnya segala jenis daging ada deh… Belum lagi jenis makanan-makanan kecil atau jajanan pasar yang khas bikin kita jadi makin laper mata. Kalo udah pegel muter-muter, biasanya gue mampir ke warung bakmi di tengah pasar atau makan nasi tim di pinggir jalan di ujung gang. Semuanya pokoknya serba enak kalo ngomongin makanan di pasar lama.

Agak bergeser, ada daerah yang namanya Benteng Makasar. Letaknya persis di pinggir sungai Cisadane. Benteng peninggalan VOC ini sekarang udah gak ada lagi. Yang tersisa adalah pemukiman yang rata-rata penduduknya juga keturunan Cina. Ada yang unik di sana, bahwa ada beberapa rumah yang tetap mempertahankan bentuk asli, meskipun di kanan kirinya sudah berdiri rumah dengan desain yang super modern. Bahkan ‘rumah alami’ ini tegelnya pun masih pake model ubin jaduul! Tapi bukan berarti mereka orang gak punya loh! Merkea hanya ingin mempertahankan keaslian bangunan yang mereka anggap banyak nilai sejarahnya. Benteng Makasar sendiri terkenal sebagai kawasan orang Cina yang mampu. Sedangkan orang Cina yang gak mampu biasanya terkosentrasi di kawasan utara seperti Sewan dan Kampung Melayu.

Kalo inget Sewan, gue juga inget banyak makanan enak (lagi!), dari siomay, mie sampai sayur bakut. Dan gue juga seringkali inget film Cau Bau Kan yang disutradrai Nia Dinata, dimana banyak setting maupun tokoh berlatar belakang masyarakat Cina di Sewan jaman dulu.

Sebagian besar pekerjaan orang Cina Benteng di Sewan bukan dalam bidang ekonomi, tetapi sebagai petani di pedesaan. Yang unik dari masyarakat Cina Benteng di sini adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, mereka sudah tidak dapat lagi berbahasa Cina. Logat mereka bahkan sudah sangat Sunda pinggiran bercampur Betawi. Ini sangat berbeda dengan masyarakat Cina Singkawang, Kalimantan Barat, yang berbahasa cina meskipun hidup kesehariannya juga banyak yang petani miskin.*

Selain itu ada ‘sebutan’ lain buat masyarakat Cina Benteng di daerah Sewan ini, yaitu ‘Cina Item’ karena memang dari perawakan, kulit mereka hampir mirip dengan masyarakat lokal; sama hitam dan gak bermata sipit. Ini mungkin salah satu akibat dari inkulturasi yang terjadi, yang di dalamnya juga terdapat banyak perkawinan campur antara pemuda Cina dengan perempuan pribumi.

Di saerah Sewan yang termasuk pinggiran ini, gue menemukan banyak makanan enak yang letaknya cukup ‘tersembunyi’. Walau berada di pinggiran sawah, namun kedai-kedai dan warung makan nggak ketinggalan menyajikan makanan yang enak dan cukup beragam. Gak heran kalo banyak juga konsumen dari luar Sewan yang sengaja datang ke sini hanya sekedar untuk menikmati menu khas dengan harga yang lumayan miring jika dibandingkan dengan yang ada di mall.

Sejarah juga menulis bahwa tahun 1740 terjadi pemberontakan orang Cina menyusul keputusan Gubernur Jenderal Valkenier untuk menangkapi orang-orang Cina yang dicurigai. Mereka akan dikirim ke Sri Lanka untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan milik VOC. Pemberontakan itu dibalas serangan serdadu kompeni ke perkampungan-perkampungan Cina di Batavia (Jakarta). Sedikitnya 10.000 orang tewas dan sejak itu banyak orang Cina mengungsi untuk mencari tempat baru di daerah Tangerang, seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, dan bahkan sampai Parung di daerah Bogor.*

Itu sebabnya setelah gue menempati rumah gue di Cisauk – deket Serpong yang gue anggap masih di desa banget dan berjarak sekitar 25 km dari daerah kota Tangerang-, awalnya gue kaget mendapati sebuah bangunan klenteng yang berdiri di sebuah desa serta adanya perkampungan Cina yang dihuni beberapa puluh keluarga asli Cina Benteng. Gue sempet takjub juga ketika suatu hari gue melihat seorang ‘tauke’; sebutan bos bagi orang Cina, mengadakan pesta pernikahan putrinya. Mereka menggelar gambang kromong dan cokek! Ternyata warisan budaya masih sangat kental, dan mereka begitu bangga untuk tetap mempertahankannya walaupun di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka sudah menjamur perumahan-perumahan yang modern. Serasa berada di tahun 1950an deh pokoknya!

Di daerah-daerah lain di Indonesia pastinya banyak juga kawasan yang ditinggali oleh masyarakat keturunan Cina, seperti yang terkenal di daerah Glodok Kota, Lasem, Semarang, Singkawang atau Bangka Belitung. Tapi menurut gue, komunitas Cina Benteng yang ada di Tangerang tetaplah yang paling unik. Mereka sudah benar-benar berhasil berakulturisasi dengan budaya lokal, tapi dengan tetap memegang kebudayaan dan warisan leluhur mereka. Ini membuat terjadinya ‘benturan kebudayaan’ yang ternyata berhasil dijalani selama berabad-abad.

Jadi kalo ada orang Cina di yang tiba-tiba berseloroh, “Aih romannya, panen tahun ini bakal gagal neh. Atuh mah kita punya sawah kagak ada aernya! Biasana mah jarang gagal kita!” Gak salah lagi deh, dia pasti orang Cina Benteng asli! Perpaduan budaya Cina, Betawi dan Sunda yang menyatu diantaranya lewat tutur kata bahasa mampu membawa keindahan lain dari sebuah potret salah satu kelompok masyarakat keturunan Cina yang ada di Indonesia. Dan gue, juga gak akan bosan menyusuri daerah Cina Benteng yang ada di Tangerang…

Selamat Tahun Baru Imlek!

* sumber informasi sejarah diambil dari http://indocina.wordpress.com/