Jam udah menunjukkan pukul 2 dinihari. Udah lewat dari tengah malam.

Gue masih terpaku sama layar freehand di monitor, memberikan sentuhan akhir buat sebuah proyek desain yang lagi gue kerjain. Besok pagi rencana gue akan presentasikan karya gue ini ke klien. Dan pagi ini gue harus merampungkan semuanya agar besok semua bahan racikan siap dihidangkan dan semoga bisa bikin klien gue senang.

Pukul setengah empat akhirnya gue mulai beres-beres meja kerja gue yang penuh dengan kertas-kertas bekas coretan, beberapa referensi buku desain dan alat tulis yang berserakan. Sambil menunggu hasil print outnya keluar, gue iseng ke lemari es mencari makanan, karena dari sore tadi gue baru inget kalo gue belum makan apa-apa!

Jiah!!, selalu begini. Hari-hari terakhir deadline menjadi hari yang sibuk buat gue. Malam yang panjang sekaligus melelahkan. Kenapa ya gue selalu melakukan hal yang sama; -mengerjakan segala sesuatu pada ‘last minute’.  Atau, jangan-jangan gue malah menikmati proses menuju sebuah ‘ejakulasi kreativitas’ justru di menit-menit akhir!…

_________________________________

Sebenarnya setiap gue melakukan sesuatu pekerjaan yang cukup menguras energi dan waktu, gue selalu mempersiapkan jauh-jauh hari. Gue sadar betul kalo gue tipe pekerja yang agak perfeksionis yang sangat mementingkan hasil. Makanya dalam proses berjalan, gue juga pingin segala sesuatu berjalan di jalur yang benar agar nanti hasilnya juga bisa maksimal.

Tapi ya itu tadi, gue akan bisa mengalami ejakulasi kreativitas yang sesungguhnya atau kepuasan yang gue rasakan saat berkarya, justru pada hari terakhir deadline! Mungkin aja kerjaan ini sudah 80 atau 90 persen rampung, jadi tinggal menyelesaikan 10 persen sisanya. Tapi kenapa ya, yang 10 persen justru memakan waktu yang cukup banyak dan energi yang bahkan bisa ‘mengalahkan’ energi yang gue habiskan untuk menyelesaikan yang 90 persen…

Atau memang gue nyaman jika segala sesuatu dikerjakan sampai ‘titik darah penghabisan’? Jadi berasa banget kan kerja keras gue. Dengan begitu gue jadi bisa berharap banyak kalo hasil desain gue akan disukai. Atau alasan lain, gue emang rada kurang percaya diri sama hasil kerjaan gue, sehingga selalu saja muncul ‘ide-ide liar’ baru yang merasa perlu untuk gue tindaklanjuti pada karya desain yang sebenarnya sudah cukup memuaskan secara kualitas… (mungkin).

Kebiasaan jelek gue ini emang sedikit banyak tertanam sejak jaman gue kuliah dulu. Setiap tugas kuliah selalu aja gue kerjakan last minute. Dan rata-rata teman kuliah gue ya kayak gitu. Jadinya pada malam terakhir, sama-sama bersibuk ria lah kita, begadang sampe pagi, untuk mengerjakan pekerjaan yang sebenarnya diberi tenggat waktu 2 minggu untuk diselesaikan sama dosen gue. Dan itu ternyata kebawa sampe sekarang saat gue udah mulai kerja atau melakukan proyek freelance.

Kadang pikiran ‘bodoh’ gue muncul seperti ini: lebih baik gue menyelesaikan pekerjaan gue pada last minute agar saat gue menyelesaikan pekerjaan gue berdekatan dengan saat gue harus persentasi ke klien. Dengan begitu, gak ada waktu lagi dah buat membiarkan ide-ide liar untuk ‘diakomodir’ lagi. Mau tidak mau ya gue harus ‘menyerahkan’ yang sudah gue kerjakan sampai saat itu. Dengan begitu gue juga belajar buat ‘percaya diri’ sama yang gue kerjakan, untuk kemudian mengalihkan fokus gue ke bagaimana besok menyajikan persentasi yang juga bisa memikat hati klien gue. (Didukung karya yang ciamik juga tentunya…)

Tapi memang, yang gue jalani ini sangat sangat melelahkan. Kadang gue memang udah gak memiliki belas kasihan sama otak dan badan gue. Karena malam itu, gue memaksakan diri untuk berlari tanpa henti dalam ‘ruang kreativitas’ yang saat itu gue masuki. Walau kadang sebenarnya tenaga gue udah cukup habis, dan otak kanan gue udah mulai lelah…

Kalo mau melihat sisi lain, ini memang gak melulu soal bagaimana memanajemen waktu. Karena gue cukup bisa melakukan yang satu ini. Bahkan saking detailnya, kadang gue kurang bisa mentolelir adanya perubahan-perubahan yang terjadi di tengah jalan. Tapi, kembali lagi, ini bukan soal manajemen waktu.

Kayanya ini masalah kepercayaan diri gue aja deh. Gue harusnya lebih memupuk yang namanya ‘pikiran positif  untuk selalu menghargai diri kita dan semua yang kita lakukan apapun bentuknya dan bagaimanapun jadinya’. Jadinya gue juga harus tegas terhadap banyak hal-hal serta buah-buah pikiran yang kadang malah membuat gue merasa pekerjaan gue nggak rampung-rampung. (Padahal sebenarnya udah!)

Gue harus percaya diri, kalo gue sudah melakukan proses yang cukup baik dan pastinya apa yang gue kerjakan juga akan baik adanya. Toh segala sesuatu yang kita kerjakan juga bisa saja mengalami perubahan jika besok sudah bertemu klien. Kenapa ya gue gak selalu belajar untuk membiarkan proses kerja berjalan dalam porsi waktu yang ‘sudah selayaknya’. Jadi gak perlu kita memaksakan proses untuk terus berjalan, apabila waktunya belum tiba… Mungkin aja besok, proses ini akan menemukan porsi waktunya sendiri, sehingga pada akhirnya nanti, sebuah susunan rangkaian utuh proses-proses tadi dapat membuat gue mengalami ‘ejakulasi kreativitas’ yang sempurna tanpa harus terburu-buru mendahului sang waktu.