Gue menyadari, dalam segala susah, dalam segala sedih, saat gue jatuh, saat gue kehilangan arah, dan saat gue kehilangan semua yang berharga dari diri gue, hanya loe yang selalu berada di sisi gue; hanya ada loe seorang…

Mata hati gue tertutup selama ini, dan saat ini gue menyadari dengan sepenuh hati, bahwa dengan hadirnya selalu diri loe dalam setiap kesusahan yang gue alami, mungkin loe adalah sosok yang selalu membawa kesialan dalam hidup gue….  hehehehe 

______________________________

Cut off! Teori apaan tuh? Kok tega ya, membuat teori konspirasi yang sedemikian naif tentang cinta? Shakesphere, Gibran, Dalai Lama, Miss Universe, Tagore, Peter Pan, Mira W, atau siapapun deh yang empunya teori dahsyat tentang cinta, jangan diam aja dong!

Tapi, sudahlah, siapapun yang mengatakan hal di atas pastilah orang yang tidak tahu kedalaman cinta yang sesungguhnya… Dia tidak tahu, bahwa kekuatan cinta dapat mengalahkan segala ketakutan, kekhawatiran, kecemasan, dan prasangka. Andai dia memiliki kekuatan itu… Siapa yang bilang???

Buktinya, boleh percaya boleh enggak, Taj Mahal yang menjadi bukti cinta pada sang sang putri hingga kini tetap tegar berdiri megah dan cantik, Candi Prambanan bisa membuktikan kalo cinta bisa aja diraih dalam satu malam (seandainya tidak ada tipu muslihat), kisah Romeo & Juliet atau Romi  & Yuli yang berakhir tragis adalah cermin ketegaran cinta mereka, sampai popularitas Julia Roberts yang diraih justru saat ia selalu bermain-main dengan cinta dalam filmnya. Lalu?

Tapi kontradiksinya, gimana dengan orang yang bunuh diri gara-gara cinta? atau lirik lagu yang bilang: “balikin oh balikin badan gue kayak dulu lagi! gue kurus kering gara-gara mencintai loe!” Atau umpatan yang keluar saat berduaan, “kan udah aku bilang, aku belum siap buat jadi ayah! aborsi aja deh…” Sebegitu kuatkah mereka memiliki kekuatan cinta itu, sampe akhirnya malah mereka tidak mampu menampung lagi kekuatan cinta dalam diri mereka yang makin meluap? Akibatnya, adalah jatuhnya korban atas nama kekuatan cinta. Kalo yang ini salah siapa?

Gue sih yakin, mereka pasti tidak tahu bagaimana caranya memelihara rasa cinta mereka! Harusnya, biarkan cinta itu tumbuh dengan tulus, biarkan cinta menemukan jawabannya sendiri, dan biarkan cinta itu pula yang memberikan harapan hidup, dan memberitahu kata hatimu mengenai langkah apa yang harus dilakukan. That simple. Hanya itu saja?

Memang sih, pandangan orang akan cinta bisa berbeda-beda. Tapi sejujurnya, ga ada tuh dalam kamus gue bahwa cinta itu akan membutakan, menjatuhkan, dan menyeret gue dalam kesia-siaan. Sori, itu bukan gue banget…

Menurut gue, tidak ada tuh korban karena cinta. Cinta itu tidak pernah menuntut, dan semua yang kita lakukan demi cinta gak ada yang terpaksa. Semua mengalir dengan sukacita dan apapun yang cinta berikan adalah karunia yang harus diterima dengan lapang dada!

Terharu gak sih, lihat Jack sengaja berendam di lautan yang dinginnya minta ampun, hanya untuk menjaga agar Rose dapat tetap berada di atas papan kayu yang rapuh? Tenggelamnya Titanic ternyata juga tidak otomatis menenggelamkan cinta mereka berdua. Klise gak sih?

Tapi kalo mau berandai-andai, jika ada papan lain yang terapung dan tidak jauh dari tempat mereka berada, Jack akan akan tetap membiarkan dirinya mati tenggelam demi Rose gak ya? Atau kalau seandainya dulu Romeo tahu kalo Juliet tidak sungguh-sungguh bunuh diri, apa dia masih nekat minum racun itu? Sepetinya tidak, karena masih ada pilihan yang bisa diambil. Tapi biasanya kekuatan cinta akan tampak saat benar-benar tidak ada pilihan dalam hidup.

Atau mungkin itu yang membuat makna cinta sejati makin kuat?  Lebih mengharu biru kalau salah satu memberikan semuanya untuk seseorang yang dicintainya, termasuk hidupnya sendiri… Masak sih?

Contoh gampang deh, Julia roberts akhirnya bisa bahagia kan, walau dia harus menghadapai kenyataan bahwa teman lamanya menikah dengan gadis pilihannya dalam My Best Friend Wedding. Lihat deh tawanya yang lepas di akhir cerita, walau sebagian orang menganggapnya Julia itu tertawa dalam duka! Waduh, susah sekali ya membuat mereka mengerti bahwa cinta sejati itu bisa membuat kekecewaan menjadi kebahagiaan. Sebegitu gampangnya?

Kalo mau jujur, sebenarnya gue memang gak pernah tahu sih apa yang Julia rasakan, mungkin dia bahagia (bisa nerima), kecewa luar biasa, atau malah punya rencana tersembunyi untuk merebut kembali teman lamanya lewat kekuatan cinta baru sehingga akan ada sekuelnya dalam My Best Friend Wedding II! Itu semua mungkin aja, kan hati orang siapa yang tahu…

Jadi keefektifan sebuah penyelesaian masalah yang bersandar pada kekuatan cinta masih dapat diperdebatkan dong? Hehe.. kok jadi complicated, ya? Pernah sih, suatu ketika ngebayangin jadi Jack di Titanic, atau Julia Roberts di My Best Friend Wedding, atau kisah film di If Only, Sleepless in Seatle, Sweet November, Fly Me to Polaris, atau di Meteor Garden terjadi dalam kehidupan nyata kita. Jadi kita bisa juga ngerasain gitu loh, yang namanya hidup dengan kekuatan cinta… Bukannya itu hanya ada di film aja?

Tapi kalo berhadapan dengan wajah sang realita, yang jelas ada di depan mata; saat banyak hambatan dalam hubungan, keributan yang jadi hobi, komunikasi nggak jalan, adanya selingkuhan, kekuatan cinta akan muncul dalam sosok seperti apa ya? Aku gak tahu deh, Mungkin aku akan jumawa memaki, mengumpat, menangisi dan menyalahkan keadaan, atau bisa juga, “apapun hal buruk yang kau lakukan, aku tetap cinta kamu kok…” makin runyam juga kan? hehe… Ini perasaan atau logika yang jalan?

So, Kekuatan Cinta, kamu sebenarnya benar-benar eksis ga sih? Bagaimana gue bisa merasakan kehadirannya?

Atau karena terlalu sibuk dengan berbagai teori cinta, saat kekuatan cinta itu sungguh datang gue malah nggak sadar ya?

Jadi mari berhenti bertanya tentang (kekuatan) cinta.

Barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang! (Yoh 3:21).

Jatuh cinta sebagai kejadian spiritual, yang dituju adalah bergabungnya diri kita dengan “Diri” yang sejati. Ada yang menyebut Diri sejati terakhir dengan sebutan Tuhan, ada yang memberinya sebutan kebenaran, ada yang menyebutnya dengan inner life, dan masih banyak lagi sebutan lainnya. Apapun nama dan sebutannya, ketika Anda menemukannya, kata manapun tidak bisa mewakilinya. Yang ada hanya: ahhhhh ! (Gede Prama)

 And  what next?

pemanisbuatan_ant@yahoo.com