Ternyata hal yang semula gue anggap kecil bisa juga punya makna yang ‘cukup besar’ bagi gue...

Ini ceritanya pas lagi ada sale. Gue baru aja beli celana jeans, harganya 199.000. Mata gue lebih tertarik sama celana itu daripada sama susunan angka yang tertera di papan harga yang digantung di atas display. Bagi gue harga itu tetap aja dua ratus ribu perak, walaupun jumlahnya masih kurang seribu. Tapi ada juga temen gue yang berpendapat beda, “eh lumayan lagi… kalo kita beli sepuluh item, kan berarti kita bisa dapat sepuluh ribu. Lumayan kan bisa dapet 2 roti di breadtalk!” Gue cuma menimpali, “Halah! Emang gue mau belanja celana sepuluh buat apaan!?”

Adalagi kejadian yang lain di sebuah mini market. Gue lagi ngantri di kasir dan di depan gue ada seorang ibu yang belanjaannya hampir 3 plastik banyaknya. Setelah membayar, dan si ibu menerima kembalian, ia lantas ngedumel pelan… “selalu deh, kembalian 500 perak dikasihnya permen! Kalo gak punya recehan mending gak usah buka toko aja…” Dalam hati, gue cuma bergumam, “Yah bu, cuma gopek ini… begitu aja kok itung-itungan banget sih…”


__________________________________

Gue bukannya sok banyak duit. Cuma terkadang gue emang suka males aja itung-itungan soal yang kecil kayak gitu. Toh apa artinya nominal seribu dibandingkan dengan seratus sembilan puluh sembilan ribu harga celana gue, atau nominal lima ratus perak dibandingkan dengan (mungkin) seratus lima puluh ribu belanjaan ibu tadi?

“Emang gak ada harganya. Tapi ini bukan soal nilai dan jumlahnya, bro! Ini soal bagaimana kita memberikan sesuatu yang kecil tapi bisa punya makna yang gede buat yang nerima.” temen gue pernah ngasih wejangan soal hal ini.

“Yah misalnya kayak gue, bagi gue 1000 perak itu bisa bikin gue senang. Karena bagi gue nilai itu berarti. Yah kayak berbagai potongan harga di hypermarket, nilainya mungkin gak seberapa, tapi lumayan bikin hati ibu-ibu senang loh… Gak salah kan kalo loe bisa bikin senang hati orang? Masalah harganya udah dinaikin dulu, atau loe ‘diboongin’ itu sih biarin aja urusan dia sama Tuhan!” hahaha bisa aja temen gue… emang dasar doyan belanja juga kali ya, makanya ‘setiap potongan kecil’ selalu berharga buat dia… hehehe

Tapi bener juga sih. Gue pernah membaca sebuah buku teori marketing soal bagaimana kita melihat perilaku dan menilai kepuasan konsumen. Dalam kasus ibu yang belanja di minimarket tadi, gue jadi berpikiran, kayaknya memang pihak minimarket udah melakukan suatu kesalahan besar walau lewat sebuah hal yang kecil! Secara ibu tadi belanja hampir tiga kantong plastik, berarti dia adalah pembeli setia di situ. Dan Tiga kantong plastik itu adalah indikasi dari kalo dia sudah ‘percaya’ untuk soal pemenuhan kebutuhan sama minimarket itu. Bukan berarti dia tipe pembeli yang ‘kaya raya’. Bisa aja dia belanja seratus lima puluh ribu, tapi emang segitu jumlah tiap bulan yang dia habiskan untuk belanja kebutuhan sehari-hari. Jadi emang budgetnya yah segitu itu.

Dengan membuat ibu tadi ngedumel karena menukarkan kembalian 500 rupiahnya dengan permen, minimarket tadi berpotensi kehilangan satu konsumen setia. Apalagi kadang-kadang mereka langsung aja memberikan permen sebagai pengganti uang kembalian recehan tanpa terlebih dahulu minta maaf karena kebetulan uang kecil sedang habis. Dan jika hal yang sama dilakukan kepada semua konsumen yang datang hari itu, ada kemungkinan 50% (atau bisa lebih) konsumen yang datang hari itu gak bakal balik lagi.

Hanya karena uang kembalian yang sedikit jumlahnya, mereka bisa kehilangan banyak pelanggan yang bisa menghabiskan jutaan tiap bulannya. Ya iyalah. Karena bisa aja mereka beranggapan, pihak minimarket gak peduli sama hal-hal kecil yang mungkin penting bagi konsumen. Jadi kalo hal yang kecil aja gak diperhatiin, gimana mau komplain terhadap layanan atau soal kualitas barang… Udah keburu males!

Dan sejak saat itu, gue jadi mulai peduli sama uang recehan! Mau berapa aja, seratus, dua ratus, lima ratus, setiap gue pulang kerja gue selalu masukin ke kotak bekas. Uang itu bisa hasil kembalian makan, uang kembalian ongkos, atau apapun. Dan percaya atau enggak, hampir enam bulan gue ngumpulin uang koin secara iseng itu, ternyata jumlahnya mencapai 200.000 lebih! Emang jumlahnya gak banyak, tapi sekali lagi itu semua uang yang seringkali gue ‘buang-buang’ loh…

Dan tau uang itu kepake buat apa? Buat lomba agustusan di komplek gue! Koin-koin itu terpakai buat beli kebutuhan lomba, sekaligus jadi ‘perlengkapan’ untuk lomba mengambil koin. (ditempel di buah yang digantung dan sudah dilumuri coklat. Tau dong?…). Dan asiknya, anak-anak juga boleh membawa pulang koin yang mereka dapat.

Ternyata hal yang semula gue anggap kecil bisa juga punya makna yang  ‘cukup besar’ bagi gue… Berbagi kebahagiaan ternyata bisa juga lewat uang recehan… Bener juga ungkapan yang mengatakan, kalo ga ada duit 100 perak gak bakalan jadi nominal sejuta. Dan memang kalo gak ada recehan yang gue kumpulin, mungkin belum tentu ada kebahagiaan seperti yang waktu itu dirasakan sama anak-anak komplek gue. Kebahagiaan koin recehan!

pemanisbuatan_ant@yahoo.com