Selama hidup mereka selalu diberkati setiap hari, berarti juga nggak ada yang salah sama yang mereka yakini.

 

Hari ini gue membaca sebuah berita pendek di Kompas, mengenai pro dan kontra keberadaan UU no.1 Tahun 1965 tentang penodaan agama. Gue bukan ahli agama, bukan politikus, apalagi cendekiawan. Makanya membaca berita itu, yang lantas muncul hanyalah ‘pertanyaan-pertanyaan kecil’ dalam benak gue.

Gue juga nggak bakal mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan gue itu, karena emang gue nggak butuh. Ini hanya sekedar ‘kegalauan’ hati aja kok. Kegalauan atas sikap dan pernyataan dari beberapa kalangan dan tokoh mengenai kasus yang menyangkut penodaan agama ini.


_______________________________

Jujur, iman yang gue yakini juga belum seberapa gue kuasain. Yang gue tahu, gue dibimbing dan diarahkan terus menerus dalam hidup keseharian gue lewat suatu tuntunan dan ajaran baik yang diwariskan ke gue lewat orang tua, para imam, teman, bahkan siapapun yang pernah hadir dalam hidup gue. Secara pribadi, gue juga coba untuk memahami lebih dalam mengenai tuntunan iman yang gue yakini itu. Tapi, tetep aja sampe sekarang, gue merasa kalo keimanan gue itu masih gak seberapa, masih seujung kuku malah…

Tapi gue juga percaya, secara tidak langsung, iman yang menuntun gue selama ini pula yang membentuk pribadi gue seperti adanya gue sekarang. Jadi, yang gue rasakan saat ini adalah, gue gak pernah atau merasa perlu merasa ‘khawatir’ atau ‘takut’ bahwa iman yang gue yakini bakal ternoda hanya karena ada beberapa orang atau kelompok yang memiliki keyakinan iman dan tuntunan yang berseberangan sama gue. Ini dari persepsi gue, loh…

Tapi, mungkin karena posisi gue yang cuma orang biasa, yang membuat gue punya pendapat seperti ini. Seandainya gue pejabat gereja, atau imam yang mengerti betul soal agama, mungkin aja pendapat gue bisa beda. Tapi jauh di lubuk hati gue yang paling dalam, kok gue tetap percaya ya, bahwa semakin kita memahami iman kita lebih dalam, kayaknya bakal membuat kita juga yakin bahwa agama dan iman yang kita yakini gak segampang itu ternoda; atau kita merasakannya ternoda.

Kalo gue sih coba memahami agama dan iman yang gue yakini sebagai jalan hidup yang baik adanya, dan bagaimana cara yang paling tepat untuk memahaminya adalah tergantung ke gue sendiri juga. Jadi seandainya ada yang berpikiran lain atau berbeda dengan yang gue yakini selama ini, itu bukan jadi soal. Soalnya kan cara memahami mereka tentang agama dan iman juga berbeda dengan yang gue jalanin. Dan gue sih gak pernah merasa tuntunan utama yang gue yakini itu bakal ternoda, cuma gara-gara segelintir kelompok yang punya pandangan berbeda seperti yang selama ini udah mengakar di diri gue.

Justru gue seringkali takut, kalo atas nama keyakinan yang gue percaya selama ini, gue mulai menebar benih permusuhan atau setidaknya benih kebenciaan sama orang di sekitar gue. Yang gue takutin, adalah kalo gue justru membawa iman gue itu sebagai alasan untuk membenarkan diri gue dan semua tindakan gue yang mungkin merugikan orang lain, khususnya  adalah mereka yang kebetulan punya pemahaman berbeda soal iman sama gue.

Kalo soal agama dan iman gue bakal ternodai, itu sih masih jauh dari pikiran gue! Gue berusaha berpikir simple aja, gak mau pusing. Selama hidup gue tetap bisa gue jalanin dengan baik sesuai tuntunan iman yang gue percaya, trus hidup gue tiap hari masih dikasih berkah dan rahmat melimpah, berarti gak ada yang salah sama yang gue tuntunan yang gue yakini selama ini. Begitu juga dengan sesama gue yang punya keyakinan yang berbeda. Selama hidup mereka selalu diberkati setiap hari, berarti juga nggak ada yang salah sama yang mereka yakini. Walaupun keyakinan kita berbeda, gue sih menganggap kita dapet rahmat dari sumber yang sama.

Seandainya, masih ada yang tetep keukeuh berpendapat bahwa mereka -yang dianggap- menodai atau menyelewengkan ajaran agama dianggap orang-orang yang (ter)sesat dan perlu ditindak tegas dalam sebuah undang-undang (bahkan kadang harus menerima perlakuan kekerasan dari mereka yang menganggap telah ternoda ajaran agamanya), gue cuma ingin mengutip sedikit tulisan dari seorang Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam website pribadinya:

Saya sendiri tidak mengerti kenapa orang -yang dinyatakan- sesat harus diamuk seperti itu? Ibaratnya, ada orang Semarang bertujuan ke Jakarta, tapi ternyata tersesat ke Surabaya, masak kita -yang tahu bahwa orang itu sesat- menempelenginya. Aneh dan lucu.

Lebih lengkapnya, baca: http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=11&id=831

Jadi memang jika membaca berita seperti yang gue baca hari ini, akan selalu muncul pertanyaan dari benak gue, Segampang itukah agama ternoda? Dan segampang itukah kita menganggap agama kita ‘mengalami’ penodaan? Lalu jika memang (anggaplah) agama kita ‘dinodai’ apakah itu akan mengurangi ‘keputihan’ dan ‘keaslian’ kebenaran yang ada di dalamnya? Gue pikir sih enggak segampang itu.

Jadi semoga selalu ada kedamaian di hati dan di bumi.

Tuhan memberkati kita semua.

pemanisbuatan_ant@yahoo.com