Lokasi foto: Sekolah Menengah Seni Rupa Indonesia, Yogyakarta

 

Pagi Masih Gelap

Kursi reyot pinggir jalan tersenyumsenyum simpul.

Merekareka, berterbangan bersama cerita lucu, obrolan tengah pagi, satu dua motor berboncengan mesra yang lewat, nada lagu sayup dari radio usang, kang Giman dan sampah angkringan yang makin menggunung-seperti juga utang akhir bulan-, motormotor parkiran yang mati bosan menunggu sang tuan yang sedang diskusi cabul.

Masih gelap, saat trotoar meredam bising, berkuasa atas malam, menyapa tiap pantat yang setia mendekap sampai keduanya merasa bosan sendiri.

Wirobrajan masih gelap, saat kesepian masih harus mengambil alih malam dari tangan yang belum juga kenyang, padahal ribuan daun pisang dan pecahan tepung sudah jadi bangkai. Saat bibir makin hitam, tembakau yang tak henti berjejal masuk, bersama ceritacerita yang juga berjejal keluar.

Aku melacurkan malam, hingga saat terang lalu pulang.

 

 

Sebuah Festival Gamelan

Kami di sini berkumpul

merayakan lontar kemenangan

terpuaskan dahaga

atas segala perputaran kitiran budaya

 

Kami ada melata waktu

menerabas tiap dimensi

tuk temukan pasangan tiap sukma

dari setiap komposisi yang mengalir

 

Mengetuk panjang sejarah

menabuh titian perjalanan

menghenak lompatan setiap jiwa

kolaborasi kami adalah kidung bumi

yang sesat beristirahat di kursi malas

 

Kami tidak mencari

kami seling berbagi

dan lihat jutaan mata terbuka berpendar di udara

saat langgam bumi meretas satusatu

 

 

Taman Sari

Dahulu adalah pemandian

sekarang adalah reruntuhan

dan mungkin tiap rumah dan toko di tapak kaki

adalah bulirbulir penyangga sang raja

saat tiap istri berangkat menjadi selir

dalam setiap basah malam

 

Taman Sari adalah karat

yang menetakkan panjang aubade sakral

hingga runtuhnya masih belum terlepas

dari onggok sepi keagungan

 

Runtuhmu sisakan banyak legenda

“Hanya10 menit dari alun-alun utara jika ingin membuka salah satu tabirnya…”

tawar putra juru kunci yang mencoba jajakan sejarah,

entah versi keberapa…

 

 

Mancasan Sebuah Juli

Sibuknya aku

padahal salam ini masih terlantun

dalam setiap kelokan

kenapa selalu tak tertangkap

senyum mereka

nikmati keseharian.

 

Dalam petak ruang

kampung bahagia

mereka menunggangi tiap peluh

dan mencandainya hingga habis

katup terang berganti

mimpi di nampan malam.

 

Satu diantara yang lain

bilangan ke sekian

tiap hari mencapai puncaknya

yang tertunda dalam otak

puluhan kertas

dan literatur yang menyangga tidurku.

 

Mancasan masih di sini

aku menikmati sarapan di sebuah pincuk

di sebelahku,

beberapa bab yang belum juga kuajukan menemani lapar.

 

 

Never Ending Asia

Ini waktunya

memenuhi saku dengan rencana

memenuhi malioboro

alunalun dan kraton

gembira loka

borobudur

taman sari

prambanan

ngasem

agen dagadu palsu…

 

Siapkan jalan kita

karena kota sedang memagut diri

menyapu pundipundi lewat

hotel, losmen,

lesehan ayam,

biro perjalanan,

rumah makan sejak tahun sekian…

 

Siapkan bekalmu

dan segala yang kau tenteng

dalam setiap rencana dari lor hingga kidul

kapan lagi, mumpung kota masih awet muda

 

Kami mengemban titah raja

dalam sebuah epik Never Ending Asia

layaknya Mahabaratha dan Ramayana

tercetak dalam brosur

dengan tinta emas.