Gue baru kembali tadi dari nengok seorang teman yang mengalami musibah. Dia mengalami kecelakaan motor, dan berakibat pada patah kaki kanan dan retak pada tangan kanannya. Sebenarnya penyebabnya hanya sepele. Teman gue itu menghindari motor yang ugal-ugalan, tapi malah terpeleset dan jatuh ke arah truk yang sedang melaju.

Gue kenal banget teman gue itu. Kalo bawa motor nggak pernah kebut. Lagian juga motornya udah gak enak dibawa (hehehe maaf, bro!) jadinya ya jelas gak asik buat dibawa kebut. Dia juga selalu hati-hati kalo berkendara. Bahkan kadang dia mengingatkan kalo kebetulan gue boncengin, “Santai aja, gak usah buru-buru. Hati-hati…”

Tapi dibalik kehati-hatiaan, ada sebuah ketidaberdayaan yang harus dia alami, ketika dia harus jatuh, mengalami patah kaki, justru saat menghindar dari sebuah bahaya. Hasilnya adalah operasi selama 6 jam harus dia lalui. Kadang gue berpikir, segala sesuatu memang harus terjadi. Ada hal yang harus bisa dijadikan pelajaran. Cuma, kadang seringkali kita nggak berdaya, dan harus menerima satu hal bukan karena mutlak sepenuhnya akibat dari yang kita lakukan, tapi bagian dari sistem sebab akibat yang lebih luas.

Kelihatannya memang gak adil ya.
______________________________

Gue orangnya rada perfeksionis. Gue suka segala sesuatu dipersiapkan dengan baik dan dilakukan dengan baik juga. Gue gak bicara hasil ya. Gue hanya bicara proses, bahwa segala sesuatu harus gue lakukan dengan sebaik mungkin. Makanya gue seringkali agak gak ‘bersahabat’ dengan yang namanya ‘kejutan’ atau ‘di luar perkiraan’ dalam setiap proses perjalanan yang gue lalui.

Gue sadar, kalau kita gak bakal pernah tau apa yang akan terjadi. Makanya bisanya gue akan selalu ‘menambahkan’ poin ‘hal tak terduga’ dalam setiap perencanaan sesuatu yang gue lakukan. Jadi gue mau, seandainya ada ‘kejutan’, udah gue prediksi sebelumnya. Dan bukan ‘kejutan yang di luar perkiraan sama sekali’. Maksa banget ya gue!…🙂

Jika seandainya ada ‘hal yang gak diperkirakan’ terjadi, biasanya gue bakal langsung intropeksi. Apa yang salah dalam persiapan yang gue lakukan selama ini. Apa ada hal yang kurang atau terlewat, hingga masih terbuka ‘celah’ untuk sebuah ‘kejutan’ yang nggak gue harapkan. Kadang, gue bisa menemukan kekurangan dalam persiapan yang gue lakukan, jadinya gue bisa ngerti kalo harus terjadi sesuatu yang menyenangkan. Tapi kadang gue nggak bisa nemuin, sehingga gue merasa gak berdaya aja menghadapi hal yang tak terduga.

Kalo udah begitu, biasanya gue banyak diemnya. Gue berharap untuk mendapatkan jawaban suatu saat. Tapi saat itu, gue hanya menerima begitu aja. Gue nggak mungkin marah, karena gue percaya ada Tuhan yang ngatur jalan hidup gue. Dan emang gue cenderung gak mau bawa-bawa Tuhan dulu sama hal yang gak mengenakkan yang gue alamin. Gue sih maunya bisa instropeksi dulu. Jadi gue yang harus dipersalahkan terlebih dahulu atas sebuah hal yang ga enak tadi. Bisa aja kan, ini karena gue kurang baik dalam persiapan, kurang menjalani sepenuh hati, kurang jujur, kurang tulus, dll. Hemm… gue terlalu keras sama diri gue gak ya…

Tapi, maksudnya, gue hanya ingin mempersiapkan segala sesuatu dan menjalani segala sesuatu dengan sebaik mungkin aja. Gue juga tidak memaksakan diri. Yang gue maksud ‘sebaik mungkin’ adalah yang pastinya sesuai dengan kemampuan gue. Jadi gue gak akan memaksakan diri kalo memang gue merasa gue belum mampu menjalani dan menerima segala sesuatu.

Jadi balik lagi ke kasus teman gue itu, gue pun seringkali harus menghadapi sebuah ‘ketidakberdayaan’ seperti itu. Gue harus menghadapi sesuatu yang hadir diluar ekspetasi. Di luar dugaan. Dan memang gue harus belajar memahami hal ini. Gak perlu memaksakan untuk mengerti, karena mungkin pada saat itu mungkin aja gue belum dapat jawabannya kenapa.

Tapi memang gak adil ya, kalo gue ‘mengeluh’ hanya di satu sisi saja. Karena gue sepenuhnya sadar, dan seringkalipun gue juga mengalami sebuah ‘ketidakberdayaan’ yang bikin seneng…

Yah sebut aja, pas gue sedang menjalani sebuah proyek desain. Gue mempersiapkan segala sesuatunya, dan menjalani segala sesuatunya sesuai sama teori, pengalaman, dan niat yang baik. Yah, pastinya gue punya tujuan yang baik pula. Gue bisa kasih desain yang terbaik, bisa memuaskan klien gue, dan pastinya mendapatkan bayaran yang memuaskan. Tapi kadang ada sesuatu juga yang terjadi di luar ekspetasi dan perkiraan gue. Ternyata dia suka sama kerjaan gue. Dan gue diminta untuk menangani seluruh proyek desain promosi di perusahan dia selama setahun! Tuh kan, gue gak berdaya juga kan menghadapinya, hehehehe….

Jadi, sepertinya gue memang harus bisa adil sama hidup gue dan sama diri gue.

Gue harus bisa melihat segala sesuatu dari dua atau banyak sisi malah. Kadang ketidakberdayaan itu menjadi sebuah pengalaman yang ingin segera gue lewati, tapi kadang ketidakberdayaan itu merupakan ‘special gift’ dari yang Empunya Kehidupan’.

Dan memang kadang-kadang, untuk itu semua kita gak memerlukan sebuah jawaban…

pemanisbuatan_ant@yahoo.com