Gue emang nggak bisa terus-terusan memupuk harapan akan datangnya pertolongan.

Gue punya cerita, tentang sang kancil yang terperosok lagi pada sebuah lubang. Tak mampu melepaskan diri, karena buaya yang pandir tak kunjung tiba.

“Ah, kalau sang buaya tak mampu menyelamatkanku, kerbau dungu pun bolehlah…” Hati kecilnya angkat bicara. Dan sang kancil lalu menunggu lagi dalam harap, pada lubang yang masih sama…

________________________________

Setiap kondisi yang gue jalanin kadang memang butuh suatu adaptasi yang gak mudah. Kadang itu membuat gue belajar untuk bertahan, tapi gak jarang justru membuat gue jadi malas berusaha untuk sekedar melanjutkan perjalanan. Akhirnya ketika gue jatuh dalam sebuah lubang, gue biasanya berharap akan datangnya ‘pertolongan’ lewat orang-orang yang bisa gue manfaatkan… Jahat ya gue.

Tapi gue gak seburuk yang loe kira, kok. Gue hanya terkadang males untuk berpikir saat harus menghadapi jalan yang berlubang dan kebetulan ‘lubangnya’ adalah mengenai sesuatu yang gue gak suka. Bawaannya udah males aja gue nyari solusi. Gue berharap, gue bisa mengandalkan orang-orang di sekitar gue untuk nyariin solusi buat gue. Karena dengan begitu gue nggak buang-buang waktu.

Memang dengan begitu, jadinya gue bisa nggak jalan kemana-mana dalam waktu yang lama. Gue selalu aja berharap kalo ada orang yang bisa gue jadikan pijakan dan bisa menarik gue dari dasar lubang. Di satu sisi, bisa aja gue berdalih, gue gak berdaya. Atau, ni bukan bidang yang gue kuasai dan mereka lebih ngerti daripada gue. Tapi, inti yang sebenarnya adalah: gue udah punya bayangan aja dalam otak gue, kalo gue nggak bakalan suka sama jalan yang bakal gue lalui kalo gue mau keluar dari sana!

Gue memang butuh orang lain. Tapi gue sadar nggak begini caranya (kayak lagunya Anang, hehehe). Gue kadang gak menempatkan orang lain sebagai partner yang sejajar. Gue butuh apa yang dia bisa, dan bukan butuh dia sebagai seorang pribadi. Yah layaknya kancil yang menganggap kawan-kawan sepermainanya itu hanya sebagai alat untuk dia meloloskan diri.

Gue emang kurang bersyukur. Udah banyak sebenarnya gue dibantu cuma-cuma oleh orang-orang sekitar gue. Tapi gue hanya menganggapnya sebagai alat bantu tolakan dan pijakan gue untuk kembali muncul ke permukaan setelah gue jatuh ke lubang. Gue kadang gak mau mencoba belajar dari pengalaman. Jadi, kalo ada situasi yang sama, harusnya gue udah mulai bisa mencari jalan sendiri untuk keluar.

Tapi untunglah, gue gak sampe berubah wujud jadi benalu. Ini semua hanya karena gue kadang moody dan malesan. Jadi anggapan ‘males’ gue adalah: lebih baik menyerahkan segala sesuatu ke ‘ahlinya’! Tapi pelan-pelan gue mulai untuk berusaha kok, untuk melakukan sesuatu dan mencari jalan keluar sendiri saat harus keluar dari lubang masalah. Tapi ya, memang, masalah moody-nya gue ini yang harus gue beresin, jadi gue nggak milih-milih ‘jenis masalahnya’.  Mau enak atau nggak enak, ya gue harus berusaha sendiri dulu lah, minimal… (Lagian mana ada sih ‘masalah’ yang enak!?)

Dalam kisah sang Kancil, masih untung selama ini selalu ada aja teman-temannya yang mau melihat dan menanyakan keadaanya saat berada dalam lubang. Gimana jika mereka akhirnya menyadari kalo sang Kancil nggak pernah mau mencoba untuk berusaha dan hanya berharap pada uluran tangan (bahkan kaki!) untuk kembali ke permukaan? Bisa-bisa sang Kancil menghabiskan sisa waktunya di lubang yang tetep sama, kan?

Gue emang nggak bisa terus-terusan memupuk harapan akan datangnya pertolongan. Dengan mencoba melakukan sesuatu, setidaknya gue udah berusaha untuk mengurangi waktu yang harus gue habiskan di dalam lubang. Meskipun jalan dan solusi yang akan gue lalui rada gak enak dan gue nggak suka, tapi daripada gue nunggu di lubang, sementara kebetulan teman-teman gue lagi pada liburan ke Bali, waduh!!! Tungguin dah tuh, ampe kering!

Beneran gak kebayang gue…. Belum lagi kalo hujan. Tenggelamlah gue dalam lubang. Hiii…….

pemanisbuatan_ant@yahoo.com