Di tengah kegaduhan dan gemerlap penyajian teknologi yang mungkin saat ini tidak ada duanya dalam dunia film, Avatar secara lantang berbicara mengenai pentingnya menjaga keseimbangan hidup serta untuk bersahabat dengan alam sekitar. Gue bilang, cara Avatar jauh lebih efektif daripada yang harus dilakukan para relawan WWF atau Greenpeace ketika harus berjibaku (lawan petugas keamanan) sambil berteriak dan berdemo pada setiap konggres pemimpin dunia yang membahas tentang lingkungan global!

_____________________________

Bicara tentang kebenaran akan pentingnya penyelamatan alam dan kehidupan(seharusnya) nggak perlu pake kekerasan atau dengan cara yang membuang-buang energi. Justru pendakatan yang bisa bikin otak kita ‘melanglang buana’ dalam daya khayal dan imaji bisa membuat pesan lebih sampai.

Siapa yang udah nonton Avatar dan kecewa sama film tersebut? Dipastikan bakalan susah nemuin orangnya. Kecuali dia emang beneran anti dan geli kalo ngelihat mahluk yang aneh, ijo, berbuntut dan bertelinga lancip!..🙂

Tapi menurut gue, film yang sekarang udah ada di urutan kedua setelah Titanic yang mampu meraih pendapatan terbesar sepanjang masa ini, sangat-sangat berhasil menyampaikan pesan penting dalam kemasan yang ruaaar biasa!!! Kombinasi teknologi CGI (Computer Generated imagery) yang sebesar 60% dengan 40% Live Action, membuat film ini tampil cukup mencengangkan secara visual. Gak percuma ya, James Cameron menunggu selama 12 tahun setelah membuat Titanic untuk membuat Avatar, dan selama itu pula dia tidak menyutradarai satu film pun (kesannya serius banget nyiapin film ini ya!).

Bicara teknis dan teknologi yang ada dalam Avatar emang gak ada habisnya, terlebih kalo kita mau mengupas versi 3D-nya. Tapi di sisi lain, gue melihat kalo film ini membawa pesan yang sebenarnya ‘biasa’ (perjuangan masyarakat pribumi untuk melawan ekspansi bangsa asing yang akan mengeksplorasi alam) menjadi luar biasa. Karena yang itu tadi, imaji dan daya khayal kita dibiarkan berlarian sebebas-bebasnya! (Bahkan menurut gue, imajinasi yang melatarbelakangi film ini mampu melewati imajinasi yang ditawarkan dalam Lord of The Rings trilogy).

Imajinasi ini yang akhirnya mampu membawa pesan ‘cinta lingkungan’ ini bisa sampai ke semua segmen dari penikmat film ini. Intinya jelas. Bicara tentang kelestarian lingkungan akan lebih ‘terdengar’ jika ada hubungannya dengan upaya ‘mempertahankan hidup’. Jadi gak sekedar untuk berhemat, untuk hidup yang lebih indah, atau demi anak cucu. Pilihannya yang ditawarkan dalam Avatar hanya dua, loe harus mempertahankan lingkungan atau loe akan musnah!

Emang kita belum sampai keadaan yang dialami bangsa Na’vi yang berusaha mempertahankan tanah kehidupan mereka. Kita kadang masih terbawa santai dengan asumsi dan teori dari Al Gore yang mengatakan: dalam waktu 100 tahun  permukaan laut naik sekian centimeter”, atau “dalam 10 tahun lagi suhu bumi naik 2 derajat celcius”. Bagi kita yang awam, kita mungkin beranggapan, ngaruhnya dikit kok… jadi santai lah… (walau kita nggak tahu efek lain yang bisa ditimbulkan).

Tapi maksud gue, pesan lingkungan yang selama ini muncul jadi lebih terasa sebagai muatan teori analisa yang bikin males! Gue sendiri dan mungkin juga orang kebanyakan pasti suka segala sesuatu yang bener-bener bisa gue rasakan, gue lihat, gue sentuh kalo perlu, dalam setiap memahami persoalan khususnya mengenai pesan tentang lingkungan. Makanya event yang seperti waktu itu diadakan di Jakarta mengenai global warming, justru menurut gue jauh lebih efektif dalam penyampaian pesan karena gak cuma teori aja yang diberikan ke kita, tapi experinces; pengalaman langsung, yang membuat kita bisa lebih aware…

Jadi menurut gue, Avatar juga bisa berperan sebagai media audio visual yang efektif dalam menyampaikan pesan lingkungan itu tadi. Jadi mungkin seperti film Laskar Pelangi yang pernah diusulkan untuk dijadikan ‘film resmi pendidikan nasional’, menurut gue Avatar pun perlu juga tuh untuk dijadikan ‘film resmi penyelamatan lingkungan’.

Pesan lingkungan sampai ke setiap orang, dan mereka harus senang, tanpa perlu harus mengerutkan dahi karena kebanyakan teori. Pesan yang diampaikan menarik, atraktif dan menghibur bahkan bisa menimbulkan efek yang jauh lebih dramatis. Seperti diberitakan di beberapa situs berita, bahwa terdapat banyak kasus orang depresi setelah menonton film ini. Bukan kenapa-kenapa. Mereka hanya terlalu terbawa alur cerita, sehingga sungguh-sungguh memimpikan tinggal di Pandora, planet dimana bangsa Na’vi bertempat tinggal. (Terbukti mereka mendambakan lingkungan alam yang  alami, indah, dan cantik seperti yang digambarkan di Pandora!)

Bicara tentang pelestarian dan penyelamatan lingkungan ternyata bisa juga dengan cara yang asik!

Yang belum nonton Avatar, jangan sampe terlewat. Tonton 3D-nya juga direkomendasikan! Two thumbs up lah… Empat jempol malah kalo perlu!🙂

pemanisbuatan_ant@yahoo.com