Mungkin aja teman gue itu sudah mulai bosan mendengarkan setiap cerita cinta gue yang begitu-begitu aja. Gimana yang kemarin jalan sama si anu, kenal sama si ini, deket sama si itu, tapi ujung-ujungnya enggak pernah berhasil, karena banyaknya perbedaan prinsip yang gak mungkin disatukan (yaelah, kayak artis aja…)

Atau gue yang butuh waktu bulanan untuk menyelesaikan proyek design sebuah perusahaan farmasi. Kalo itu gue berkelit, kliennya aja yang susah. Maunya berubah mulu, hari ini bilang begini, hari ini bilang begitu… (mirip lagunya bang Ben… :))

Karena itu teman gue yang sering menelan unek-unek dan cerita gue mungkin saja akhirnya kekeyangan, trus ‘memuntahkan’ satu kalimat yang bikin gue mikir’ “ribet banget sih hidup loe!” Apa iya?

__________________________

Gue selalu bersyukur sama hidup gue. Setiap pagi, setiap hari, setiap saat. Dan gue selalu menjalani segala sesuatunya dengan enjoy!

Makanya aneh aja ya, kalo gue dibilang ribet. Tapi gue sadar, ribet gak ada hubungannya sama hidup gue. Tapi ini hubungannya sama bagaimana kita menikmati hidup. Ini udah masuk ranah action, tindakan, dan bukan lagi perasaan. Misalnya adalah bagaimana kita harus mencari cara keluar dari kemacetan panjang padahal 10 menit lagi sudah ada meeting, bagaimana posisi kita saat mengambil pijakan pertama pada bebatuan yang berserakan untuk menyeberangi sebuah sungai biar nggak tercebur, atau apa yang akan kita lakukan saat harus berada dalam hutan belantara seluas ribuan hektar, sendirian dan tanpa makanan pula!

Tapi untungnya, berhubung gue bukan petualang ala Indiana Jones, atau seorang penyidik macam Sherlock Holmes, makanya kondisi dan permasalahan yang gue punya nggak sampe sedramatis seperti sebagian contoh di atas. Kondisi yang gue alamin hampir sama lah sama yang sering dihadapi sama orang kebanyakan. Paling banter soal kerjaan, hubungan sosial, hubungan cinta, atau soal keluarga. Gue belum sampe harus dihadapkan sama masalah yang berat banget  seperti yag mengancam nyawa gue, atau masalah keuangan yang akan membuat gue jadi jatuh bangkrut! Mudah-mudahan jangan sampe lah.

Lalu kenapa gue sampe dibilang ribet? Apa emang iya hidup gue ribet?

Gue nggak setuju ah. Menurut gue, hidup gue so far so great! Cuma memang seringkali tindakan gue aja yang sering bikin ribet saat menjalani tiap perhentian dalam perjalanan hidup gue. (Einstein aja bisa nyantai, masak gue enggak?)

Gue sedikit lega, karena jujur, selama ini gue merasa udah dikasih hidup yang luar biasa sama Tuhan. Dan gue mau tetap percaya hal itu. Tapi kalo soal tindakan-tindakan gue, ini analisa yang menarik juga… Ternyata memang ada benarnya kalo tindakan gue kadang-kadang bikin hidup gue dan mungkin juga hidup orang lain yang ada di sekeliling gue jadi ribet! (Jadi inget Mr.Bean… hehehe)

Mungkin ini ada hubungannya sama tipe melankolis yang melekat di diri gue kali ya! Melankolis sempurna malah. Tapi jangan dihubung-hubungin ah. Gue selalu inget kata temen gue yang pernah bilang untuk gak usah merasa ‘bangga’ kalo kita termasuk tipe orang yang melankolis, sanguis, korelis, atau apalah! Justru kebanggaan atau ‘pengakuan’ yang terlalu sering kita berikan ke diri kita, akan membentuk gambaran dan stereotip diri yang kadang nggak sehat. Maksudnya ketika sedang menghadapi suatu keadaan, kita cenderung berpikir defensive, seperti pembelaan yang sering muncul dari diri gue, “yah namanya orang melankolis, jadi berasa berat banget deh ngejalaninnya…”

Karena itu, jika bagaimana gue mengambil tindakan masih seringkali ribet, gue anggap aja kalo itu merupakan proses belajar yang belum selesai. Gue harus bisa dan terus mencoba untuk berpikir positif, dan berani mengambil keputusan. Jujur, gue emang terkadang suka paranoid sendiri jika menghadapi segala sesuatu. Pikiran jelek seringkali menguasai diri dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Pernyataan seperti, “Bagaimana kalau…” , “Seandainya nanti…”, atau “Jangan-jangan…” seringkali hadir bergantian aja di otak gue, yang secara langsung maupun gak langsung menghalangi sel motorik tangan dan kaki gue  untuk melakukan sebuah tindakan…

Tapi pelan-pelan, ungkapan rasa syukur yang tulus buat hidup gue, buat hari baru, buat sarapan yang enak, buat perjalanan ke kantor yang lancar, dan pada setiap hal kecil yang gue lewati dalam hidup bisa membuat gue berpikiran lebih tenang, santai, dan yang pastinya selalu positif. Kalo hidup gue selama ini baik-baik aja, jadi selama inipun sebagian besar tindakan yang gue lakukan dalam hidup ya gue anggap sudah benar dong!… (bukan mau takabur, tapi dengan beranggapan begini setidaknya secara tidak langsung gue memberi kepercayaan lebih buat diri gue).

Gue senang. Kalimat yang dilontarkan temen gue benar-benar ‘menyentil’ gue. Gue diingetin. Sayang kalo gue membuat hidup jadi ribet, karena pada dasarnya hidup emang nggak ribet. Hidup itu sederhana, cuma memang tingkat kesulitannya aja yang berbeda-beda buat dilewatin.

Makasih, sob! Ternyata perjalanan pembentukan diri gue masih terus berlangsung, sadar atau nggak sadar. What you think is what you get, ya toh?

So, gue akan nyiapin mental lagi buat membereskan simpul-simpul yang bikin aura positif mengalir nggak lancar di dalam otak. Dengan begitu, tiap malem gue tetep bisa tidur pulas tanpa harus khawatir soal hari besok yang emang jelas-jelas gue gak tau bakal kayak gimana. Bunga bakung yang tumbuh liar di jalan aja tetep bisa hidup ya sob! Apalagi gue, ya kan?…

(dan tiba-tiba pagi itu gue merasakan sinar matahari bersinar lebih cerah dari biasanya… :))