Kembali ke sekitar tahun 1986.

Komik Mimin pertama kali diterbitkan di Indonesia oleh Penerbit Sinar Harapan yang cerita aslinya berasal dari Meksiko. Kisah yang ditulis oleh Yolanda Vargas Dulche dan digambar oleh Sixto Valencia ini sangat melekat sampe sekarang di benak gue, sebagai sebuah bentuk gambaran nilai-nilai kehidupan dan persahabatan yang cukup lengkap.

____________________

Mimin, sebuah komik bersambung yang mungkin sudah terbit hingga ratusan judul (gue sendiri dah lupa Mimin tamat di edisi keberapa…). Kisah Mimin mengangkat kehidupan dan keseharian dari empat orang sahabat karib yang bersekolah di sekolah Benito Juarez, sebuah sekolah negeri di Mexico City. Mereka adalah:

  • Mimin sang tokoh utama yang digambarkan sebagai anak kecil, hitam, polos, bodoh namun jujur. Anak yang bernama lengkap Pinguin Mimin ini selalu aja melakukan ulah yang aneh-aneh. Mimin tinggal bersama mamanya yang bernama Eufrosina, berprofesi sebagai pencuci baju, yang bisa dipanggil emak oleh Mimin. Walau Mimin sering bikin kacau, para sahabatnya tetep aja sayang sama anak yang satu ini, walaupun kadang-kadang awalnya gara-gara kasian… hehehe
  • Cali Arozamena, yang biasa dipanggil Cali. Anak ini tinggal hanya bersama ibunya, bertemperamen tinggi, tidak bisa diatur, namun sifat kesetiakawanannya nomor satu!
  • Riki Arcaraz: bocah berkacamata yang biasa dipanggil Riki ini datang dari keluarga kaya yang ‘dipaksa’ untuk masuk sekolah negeri. Meski awalnya sempat dibenci, namun ia menunjukkan bahwa ia sebenarnya juga anak baik. Melalui Riki, setidaknya ketiga sahabatnya bisa merasakan mandi di kolam renang atau berendam di bak mandi air hangat…
  • Ernesto Vargaz yang biasa dipanggil Erni. Anak yang paling pintar diantara mereka. Bocah miskin yang harus membantu ayahnya sebagai tukang kayu ini, merupakan sosok yang pendiam namun seorang pekerja keras.

Gue cukup menyesal karena koleksi ratusan komik Mimin jaman gue kecil dulu raib entah kemana. Tapi pas ada pameran buku di JHCC 3 tahun lalu gue nemu lagi! Tapi hanya 10 edisi pertama. Ga papa lah, lumayan untuk mengobati kerinduan gue…

Gue akan fokus ke satu tokoh dalam komik itu yaitu ‘si kecil hitam’ Mimin. Inget kisahnya, gue jadi inget semua keluguannya (menurut gue dia nggak bodoh, hanya lugu) yang selalu membuat hidup dia jadi ribet namun penuh warna. Semua karena memang dia pada dasarnya emang polos dan jujur. Jadi kadang Mimin gak peduli apa yang bakal dialamin kalo dia berbuat sesuatu. Toh pada saat-saat harus mengalami hal sulit, dia selalu ingat 2 hal, yang pertama bahwa emaknya akan selalu mendukung dia, dan yang kedua bahwa ‘malaikat pelindungnya’ juga gak akan ninggalin dia.

Asik juga ya, kadang-kadang kalo kita belajar dari Mimin gimana caranya ‘nikmati’ hidup. Berani untuk mengambil pilihan, nggak ada yang ditakuti selain sama emak tersayang, dan yang pastinya selalu berusaha jujur atas semua perkataan dan perbuatan, walau sekali lagi: teman-temannya seringkali menganggap dia bodoh.

Tapi hidup ala Mimin, kadang bisa jadi pilihan untuk membuat langkah jadi lebih ringan. Apa sih sebenarnya risiko dari hidup yang kita takutin? Toh semua jalan juga mesti dilewatin. Jadi ya, jalanin aja layaknya orang yang ‘berpikiran sederhana’. Dengan begitu kita nggak kelamaan mikir untuk mengambil suatu pilihan dan keputusan.

Yang pastinya Mimin emang pedenya sejuta! Gue selalu kocak melihat tingkah polahnya yang sering sok tahu… Tapi dengan begitu dia jadi mengerti mengenai banyak hal baru dan bagaimana menyikapinya. Yah, karena memang saat itu, hanya emaknya-lah satu-satunya sumber referensi untuk mengetahui mana yang benar mana yang salah.

Tapi justru dengan begitu Mimin jadi anak yang walau sok tahu, selalu bertindak jujur. Karena emaknya selalu mengajarkan untuk mencintai hidup, menjalani hidup dengan sederhana (simple) dengan tentunya tidak meminta lebih dari apa yang sudah dikasih Tuhan setiap hari. Makanya ketika mendapatkan satu hal baru dan berkah dalam hidup, Mimin kadang ‘membela diri’, “Emakku sayang, tadi aku diajak makan malam super mewah di tempat Riki. Tapi tenang saja makku cantik, masakan emak selalu yang paling enak buatku…”

Dengan begitu secara tidak langsung Mimin sadar kalo kelebihan yang dia terima dalam hidup hanyalah ‘bonus’ semata. Dan dia nggak pernah menuntut lebih jika memang belum waktunya…

Saat Mimin tertidur pulas setelah seharian main, wajah emaknya hanya bisa bahagia melihat kepolosan sang buah hati saat terlelap. Dan dalam hati emakknya bilang, “apa jadinya kalo dia tanpa aku ya?… tapi jangan takut anakku sayang. Tetaplah bermain, tetaplah belajar. Biarlah kehidupan yang akan mencukupi semua kebutuhanmu…”

Mimin yang sederhana.

Mimin yang selalu menikmati hidup.

Dan gue sungguh terinspirasi.