Naik KRL (Kereta Rel Listrik) yuk!

Stasiun Serpong.

Buru-buru gue langsung markirin motor di penitipan motor deket pintu masuk stasiun. “Bro! jaket gue tolong beresin yak! Gak sempet gue…” sambil berlari gue ninggalin pesan yang nggak tau didenger apa enggak sama kang Udin, si penjaga penitipan motor.

Anjriiitttt!!! Gak sopan!! Baru aja dua langkah gue menaiki anak tangga untuk beli tiket di lantai atas, keretanya jalan! Dengan setengah hati, akhirnya gue tetap jalan menuju loket, dan gue akan beli kereta jadwal berikutnya. Hal ini udah sering gue alamin. Gue bersyukur, karena dengan begitu kita udah mulai belajar disiplin lah. Lagunya Iwan Fals yang pernah bilang kalo kereta selalu terlambat sampe sejam, kayaknya udah nggak berlaku, apalagi buat Kereta Rel Listrik (KRL).

Sambil senyam-senyum kecil,  gue mampir ke kantin yang ada di stasiun, dan membuka sebungkus nasi uduk yang masih anget. Sarapan dulu aja kali, ya…

________________

Udah hampir satu setengah tahun terakhir ini gue mengandalkan KRL sebagai alat transportasi Jakarta-Tangerang. Kebetulan memang lokasi rumah gue gak jauh dari stasiun Serpong. 15 menit naek motor lah. Dan nggak terasa udah cukup lama juga gue mengandalkan transportasi massal yang satu ini. Secepat gue berkenalan dengan KRL saat harus pindah kantor ke Jakarta, secepat itu pula (mungkin dalam bulan pertama) gue udah jatuh cinta sama KRL…

Seiring berjalannya waktu, cinta itu makin bertambah :) karena gue udah ngalamain banyak hal di KRL, dari yang nyenengin sampai yang menyebalkan. Dari yang bisa dapat teman-teman baru, sampe yang salah naek kereta dan harus merelakan diri dibawa sampai ke Depok, meskipun tujuan gue seharusnya ke Serpong!

Do dan Don’t’s jika kita akan berpergian menggunakan KRL.

Hanya ingin sharing berdasarkan pengalaman pribadi… karena buat gue memilih alat transportasi KRL banyak banget lebihnya ketimbang kurangnya. Selain cepat dan bebas macet, manajemen KRL Jabodetabek juga makin berbenah, sehingga kereta makin nyaman, beberapa stasiun mulai direnovasi, yang semuanya berujung pada kenikmatan menggunakan KRL. Selain itu, KRL menurut gue merupakan alat transportasi yang cukup relatif murah, terlebih ada tiga pilihan jenis kereta: ekonomi, ekonomi AC, dan ekspress. Satu hal lagi, dan yang nggak boleh dilupakan: KRL ramah lingkungan! Ya dong, seperti bisa kita lihat target dari penumpang KRL pada 2009 yang mencapai 2,1 juta penumpang  (kompas.com), berarti banyak banget emisi dan bahan bakar yang bisa ‘dihemat’ oleh para pengguna KRL kan?…

Untuk membuat perjalanan di KRL menjadi nyaman dan menyenangkan, ada dua faktor utama. Yang pertama, dari kita sendiri. Maksudnya bagaimana dan apa yang bisa kita lakukan untuk membuat perjalanan di KRL jadi menyenangkan. Sedangkan yang kedua adalah faktor dari manajemen PT KA Jabodetabek. Bagaimana kebijakan, solusi, dan perubahan selalu diberikan kepada seluruh pengguna KRL lewat fasilitas yang lebih baik, sistem yang lebih tertata, serta pengadaan dan perawatan dari keretanya itu sendiri.

Tapi gue gak akan bahas mengenai apa yang seharusnya bisa dilakukan PT KA Jabodetabek. Itu udah bukan porsi gue, ah… Biar aja kita serahkan ke yang ahlinya aja. Gue hanya akan sharing dari kacamata gue, yang sehari-hari ber-KRL ria, dan ini juga berdasarkan pengalaman dan pandangan pribadi. Jadi bisa aja beda sama pendapat teman-teman sesama pengguna KRL…

Please Do at KRL!

Pertama, sebelum berangkat jangan lupa: koran, buku, majalah, diktat, modul, atau materi bacaan apapun dibawa. Gak perlu banyak-banyak. Cukup satu buku yang kita memang belum habis membaca dan satu buah majalah / surat kabar terbaru. KRL cukup nyaman untuk dijadikan ruang membaca. Tapi seandainya gak bawa pun, di stasiun banyak kok lapak Koran dan majalah yang menyediakan beragam bacaan. Makanya nggak salah juga kalo banyak mahasiswa UI Depok kembali melihat (atau baru melihat!) modul-modul kuliah mereka di KRL pagi hari saat berangkat ujian…

Kedua, sama dengan bahan bacaan, bahan kudapan dan cemilan juga boleh aja disiapin dari rumah. Apalagi yang sering kesiangan model kayak gue. Menikmati sarapan di KRL (roti/kue sampai nasi uduk) sah-sah aja asal nggak mengganggu kenyamanan penumpang lain. Kan nggak lucu kalo ada orang di sebelah kita yang ketumpahan kuah sayur asem gara-gara kita ribet saat nekat makan nasi timbel lengkap buat sarapan! Hehehe

Ketiga, cari jadwal perjalanan kereta di internet dan usahakan untuk di-print lalu dimasukkan ke dalam dompet. Hal ini jelas sangat berguna jika kita sedang ada di lokasi tertentu, dan kita ingin mencari lokasi stasiun terdekat, jadwal keberangkatan, sampe tarif KRL.  Bisa aja sih browsing di jalan pake HP atau BB, tapi tetep aja, melihat catatan dalam dompet itu cara yang paling praktis, khususnya untuk mengantisipasi mepetnya waktu saat kita harus ‘mengejar’ kereta. Waktu 1 atau 5 menit sangat berharga, sob!…

Keempat, pahami benar jadwal yang kita lewati setiap harinya. Tapi memang lama-kelamaan kita akan hapal dengan sendirinya. Jadi kita bisa mengatur waktu khususnya di perjalanan menuju stasiun agar kita nggak kalah langkah sama KRL. Minimal, perhitungkan jarak yang harus ditempuh jika kita berjalan kaki menuju stasiun, atau kalo kita harus naek angkot dulu, lama gak nunggunya, dsb. (Just reminder, tingkat keterlambatan KRL hanya 10-15 % secara keseluruhan loh…)

Kelima, hapalkan juga jadwal KRL arah tujuan lain. Saat ini KRL Jabodetabek memiliki 5 tujuan ke luar Jakarta, yaitu Tangerang, Serpong, Bekasi, Depok, dan Bogor. Tujuannya kita sedikit banyak tahu jadwal lain adalah untuk ‘menyambung jrusan’. Istilahnya adalah kita naik kereta jurusan lain sebagai ‘kereta transit’ apabila kita berada di lokasi stasiun yang tidak dilewati KRL yang kita tuju. Misalnya kita akan naik kereta ekonomi AC-Ciujung tujuan Serpong yang hanya sampai stasiun Tanah Abang. Berarti jika kita kerja di daerah Sudirman, kita bisa saja menuju stasiun Sudirman, untuk kemudian ‘menumpang’ kereta jurusan Bekasi yang akan singgah di stasiun Tanah Abang terlebih dahulu. Istilahya nebeng alias penumpang gratisan🙂

Keenam, kalo punya penyakit pinggang yang akut, atau penyakit yang memang membuat kita tidak tahan berdiri lama, ada baiknya membeli kursi lipat sederhana yang biasa dijual di stasiun, karena akan berguna seandainya kita tidak kebagian tempat duduk. Kursi lipat ini bentuknya kecil dan praktis seperti kursi untuk para pemancing, dan bisa dimasukkan ke dalam tas jika tidak dipakai. Nah, untuk yang satu ini, ada kewajibannya juga, yaitu untuk memilih tempat yang tidak mengganggu mobilitas penumpang lain di gerbong. Saran terbaik adalah di gerbong paling belakang atau paling depan, karena tersedia area lebih yang cukup luas, atau di area pintu yang tidak akan terbuka selama perjalanan. (tergantung arah keberangkatan kereta; misalkan jika dari arah Serpong, maka bisa dipastikan pintu sisi kiri tidak akan terbuka. Karena penumpang selalu naik dari arah kanan KRL).

Ketujuh, jika tidak sedang sibuk membaca, nggak ada salahnya mengobrol dengan sesama penumpang di sebelah kita. Keuntungannya banyak. Kita bisa menambah teman, menambah relasi, sampe bisa aja nemuin jodoh J. Gue juga punya beberapa kenalan di KRL, yang kebetulan juga berkantor di daerah Gatot Subroto (waktu itu gue masih di Bidakara). Dan asiknya kita bisa naek taksi bareng-bareng loh… Dengan asumsi tarif taksi dari stasiun Palmerah ke Pancoran 20.000 an, dan jika kita berempat kita hanya membayar 5000. (tanpa harus berjalan cukup jauh, nunggu bis, kepanasan, dsb…) Atau jika sedang di dalam kereta, pentingnya ngobrol dengan penumpang sebelah adalah untuk tindakan preventif aja kalo kita tipe orang yang gampang ketiduran… maksudnya, sebelum ketiduran sempetin aja secara tersirat ngomong tujuan kita… misalnya, “eh, mbak turun di mana? Pondok Ranji ya? Sama dong… aku juga… kerja dimana?… bla bla bla…” yang penting dia kan tau kita mau ke Pondok Ranji, jadi kalo ketiduran dan kita sudah sampai stasiun tujuan ntar ada yang ngebangunin… (jangan sampai terlewat atau malah kebawa lagi ke Tanah Abang!) hehehehe

Kedelapan, sedikit pesan moral aja. Sebaiknya, kita mengutamakan ibu hamil, wanita dengan anak kecil, orang tua, dan penyandang cacat untuk mendapatkan tempat duduk. Banyak juga loh yang gak terlalu aware soal hal ini. Mereka pura-pura sibuk baca, atau pura-pura tidur (ketiduran bener trus nggak ada yang bangunin baru rasa!). Kalo menurut gue sih ada satu lagi yang seharusnya dapet prioritas untuk gue tawarin tempat duduk, yaitu cewek cakep yang wajahnya kelihatan lelaaaah banget sepulang kerja… hehehehe

Please Don’t at KRL!

Pertama, jangan ngobrol dengan suara keras, apalagi sampe tertawa terbahak dan berguling-guling di lantai !?? bisa-bisa dianggap orang aneh kita! Yang pastinya adalah jangan sampai menggangu penumpang sebelah. Bisa aja mereka mau tidur karena lelah, atau lagi serius baca novel (yang udah 3 bulan dia bawa terus di tas tapi gak selesai-selesai dibaca!)

Kedua, jangan mengotori gerbong kereta. Jika tidak tersedia tempat sampah, simpan aja dulu sampah bekas makanan atau minimal di kantong platik atau tas, untuk kita buang nantinya di stasiun. Bisa aja kan besoknya kita naek gerbong yang sama. Jadi kalo kereta bersih, makin pulas lah tidur kita…

Ketiga, jangan coba-coba nggak beli tiket! Urusannya bakal kena denda bos! Jadi semepet apapun waktu kita saat ‘mengejar’ kereta, usahakan beli tiket. Mudah-mudahan petugas stasiun masih bisa ‘menahan’ kereta untuk menunggu sebentar saat melihat kita berlarian bersimpah peluh dari loket menuju ke kereta…🙂

Keempat, jangan sok tau soal jadwal kereta. Jika kurang yakin liat catatan atau bertanya kepada petugas di stasiun. Jangan sampe pengalaman gue terulang. Maksudnya mau pulang cepet, malah gue terlambat pulang 2 jam, karena saat gue salah naik kereta!

Kelima, jangan memaksakan tempat untuk duduk. Normalnya satu baris tempat duduk panjang adalah untuk 7 penumpang. Bisa saja diduduki 8 penumpang jika kebetulan masih ada ruang cukup. Tapi jika terlalu sempit, tidak perlu memaksakan untuk duduk apabila sudah ada 7 penumpang. Karena pasti penumpang lain akan makin terbatas ruang geraknya karena kehadiran kita yang ‘nyempil’…

Keenam, jangan memaksakan diri dan cari bahaya. Karena kebetulan kita sampai stasiun mepet waktunya, kita memaksakan untuk naik KRL, padahal kereta udah akan jalan, atau kita berlari tanpa liat-liat lagi. Ini berbahaya karena kita tidak menyadari kereta yang datang dari arah berlawanan, atau yang paling kecilnya adalah, kita kepeleset, jatuh, diliatin orang banyak… malu kan??🙂

Nah, kalo udah mulai terbiasa naik KRL, yakin deh, kita jadi agak males untuk memilih alat transportasi umum yang lain… Perjalanan menjadi menyenangkan, dan pastinya sesampainya di rumah pun kita masih cukup fresh, jadi nggak keliatan banget kalo abis kerja keras di kantor hari ini…🙂

Naek kereta listrik,  nyes… nyes… nyes… siapa hendak turut?…. Ayo ber-KRL ria!!

Kunjungi: www.krl.co.id untuk informasi lengkapnya!!