TERINGAT beberapa tahun lalu, ketika tiga keping dvd dari The Godfather Trilogy baru aja selesai gue tonton. Sampai sekarang mungkin udah belasan kali gue tonton itu film; yang paling sering sih film pertama dan kedua. Dan setiap gue nonton lagi, selalu aja gue kebawa emosi… (bukan mau ngajak berantem loh…)

Buat gue, ini bukan film biasa. Emang dasarnya karena gue suka Italia. Alasan yang pertama karena bahasanya. Bahasa Italia menurut gue kedengeran ‘spontan’, gak basa-basi, bahkan gue anggap bahasa Italia punya ritme pengucapan yang sangat dinamis. Alasan lainnya karena Inter Milan. Ga usah ragu lagi deh, ini klub terbaik di Italia dan dunia! Dari jaman Ambrosiana Inter, gue udah suka! (padahal gue belum lahir). Selain itu gue suka Italia karena budaya dan seninya…. arghhh…. pingin banget jalan-jalan ke sana. Makanya gue terkesima sama bukunya Gama Harjono, seorang petualang yang menulis buku bagus banget “Ciao Italia”. Kalo di Indonesia, kita punya Jogja yang eksotik, kalo di Italia semua kotanya eksotik!! (ngehayal lagi kapan bisa ke sana…)

The Godfather Trilogy ini sebenarnya film buatan amerika alias holywood, yang mengangkat tema kehidupan dari keluarga mafia. Bahasa Italianya mafioso. Aslinya nih film diangkat dari novel karya Mario Puzzo dengan judul yang sama. The Godfather Trilogy jelas beda dengan film Life is Beautiful-nya Roberto Benigni yang jelas-jelas, asli film italia. Tapi jujur, The Godfather Trilogy mungkin jadi salah satu film yang sangat berhasil mengemas jalan cerita menjadi sangat Italia, dan benar-benar bikin (gue khususnya) makin jatuh cinta sama Italia walaupun lewat inspirasi kehidupan dunia mafia… Sejuta jempol buat sang sutradara Francis Ford Coppola!

Gue gak akan bahas panjang lebar soal teknis dari film ini, karena nih film udah beken banget… Gue cuma pingin banget sharing soal nilai-nilai kehidupan yang ada di film ini, walaupun banyak ironi yang terpapar, karena namanya juga film dengan latar belakang kehidupan mafia… gak jauh dari yang namanya kekerasan, kekuasaan, balas dendam, darah…

Yang pertama, ternyata para mafioso itu sangat cinta keluarga. Bagaimanapun, keluarga adalah bagian penting yang tidak terpisahkan dalam kehidupan mereka. Kejahatan apapun yang mereka lakukan, terkadang dilakukan atas nama keluarga. Dan gak ada deh ceritanya mereka melakukan hal-hal yang bikin malu keluarga… Salah satu ucapan Godfather yang mantaf: “loe ngabisin akhir pekan loe bareng keluarga kan? kalo enggak, loe nggak pantes disebut  pria sejati…”

Yang kedua, mereka sangat menjunjung tinggi nilai pertemanan dan persahabatan. Apapun yang diminta si teman, akan dilakukan. Mereka menganggap teman2 mereka adalah ‘fellow traveler’; rekan seperjalanan. Ini mungkin karena latar belakang rata-rata para mafioso yang merupakan imigran dari Italia yang harus berjuang matian-matian di negeri impian saat itu: Amerika. New York. Jadi ketika butuh bantuan, syaratnya gak susah: mintalah dengan hormat sebagai seorang teman dan keluarga, pasti akan dipenuhi. Sebaliknya, jika para mafioso ini butuh bantuan, suatu saat mereka juga akan datang sebagai teman, dan dengan keyakinan bahwa mereka juga mendapatkan bantuan yang sama. Bukan pamrih, tapi ini adalah kewajiban moral yang nggak tertulis sebagai satu bagian anggota keluarga besar dan pertemanan…

Yang ketiga, jangan pernah bicara bisnis saat makan malam bersama keluarga. Mereka memiliki batas yang jelas antara bisnis dan keluarga. Bahkan para mama, yang merupakan para istri, tidak terlalu ingin mencampuri masalah bisnis keluarganya. Yang terpenting, kehormatan keluarga dijaga, kebersamaan juga tetap ada dalam keluarga, itu aja. Mereka anti mencampuradukkan urusan keluarga dengan bisnis. Momen-momen tradisi Katolik di keluarga seperti permandian bayi dan penerimaan komuni pertama; apalagi pernikahan, gak bakalan bisa dikalahkan sama yang namanya kepentingan bisnis. Setidaknya kehadiran mereka merupakan harga mati, tidak bisa diwakilkan untuk momen istimewa yang terjadi di keluarga.

Yang keempat, prinsip dalam berbisnis itu tetep harus ada. Walau judulnya sama aja, mafia, yang berarti bisnisnya identik dengan sesuatu yang nggak legal, tapi mereka ternyata juga pilih-pilih. Beberapa keluarga mafia bersikeras tidak melakukan bisnis narkoba, karena selain resiko besar kejatuhan, juga karena mereka anggap narkoba merupakan sesuatu yang (mungkin) mereka anggap memiliki skala merusak yang besar. Yah setidaknya, mereka masih liat-liat kalo berbisnis… intinya sebenarnya balik lagi bahwa mereka memegang nilai-nilai moral dan kecintaan pada keluarga yang kuat. Walaupun alasan ini pun masih bisa dibantah.

Yang kelima, mereka cukup religius. Dan di sini banyak ironi-ironi yang seringkali muncul… Mereka bisa saja tidak pernah melewati misa jumat pertama di gereja, dan pada saat yang bersamaan mereka juga rutin melakukan propaganda pada lawan-lawan mereka. Bahkan di salah satu scene dari film, diceritakan sang kakek menjadi Bapa Baptis untuk si cucu, sambil secara bersamaan ia memerintahkan untuk menghabisi ayah dari si bocah, yang berarti mantunya, gara-gara dianggap sudah tidak mampu lagi menjaga nama baik keluarga dan sebagai kepala keluarga sudah melakukan perbuatan yang tidak pantas yaitu melakukan kekerasan pada si istri. Sekali lagi terbukti: kalo nggak bisa menghabiskan waktu bareng keluarga aja dianggap bukan pria sejati, apalagi sampe melakukan kekerasan dalam keluarga! Makanya bagi The Godfather, pria kayak gitu pantesnya dihabisin aja…

Itu mungkin beberapa nilai yang selalu aja bikin gue kagum, ditengah penggambaran kehidupan mafia yang penuh intrik dan kekerasan. Jadi walaupun quote yang terkenal dari film itu berbunyi : “i’ll give him an offer he can’t refuse…” yang jelas-jelas menunjukan power dari The Godfather dalam mengintimidasi lawannya,  tapi di sisi lain, nilai-nilai moral , kecintaan  keluarga, dan loyalitas, merupakan bentuk lain penggambaran keseharian dari para mafia ini.

Jadi, iseng-iseng ngehayal, seandainya gue punya anak lelaki nanti, gue akan kasih nama dia: Vito. Pokoknya ada Vito-nya. Ini merupakan nama kecil dari The Godfather, Don Vito Corleone. Maksudnya sih, biar entarnya anak gue tuh bakal sayang sayang keluarga, punya prinsip, dan bisa jadi pria sejati. Bukan berarti gue pingin dia jadi mafia…  apalagi jadi mafia peradilan!🙂🙂

kunjungi www.thegodfather.com untuk info lengkap mengenai film ini…