Teringat akan sebuah buku dari Anthony De Mello berjudul Burung Berkicau, ketika salah satu kisah di dalamnya bercerita mengenai rumput ilalang…

Saduran bebasnya:

Seorang pemilik taman bunga yang indah mulai merasa terganggu dengan kehadiran rumput ilalang yang dianggap mengurangi keindahan. Dia berusaha dengan segala macam cara. Dipangkas, dikasih obat anti kesuburan, dibakar, sampe pergi ke Departemen Pertanian (atau instansi terkait) buat cari tahu bagaimana supaya rumput ilalang itu gak tumbuh lagi…. Hatinya kalut!! BT!!

Hari demi hari, bulan demi bulan, ia terus mencari cara. Tapi ternyata semuanya gagal…

Hingga pada satu titik, setelah semua upaya gagal, dia akhirnya berusaha untuk membiarkan rumput ilalang itu tumbuh dan memperkaya keragaman yang ada di taman bunganya…

Dia berusaha untuk melihat dari sisi lain, bahwa keberadaan rumput ilalang itu merupakan suatu ‘keharusan’, dan mungkin bisa memberi manfaat walau sampe saat itu dia belum tau apa kegunaannya rumput ilalang buat dia!

Tapi dia tidak berusaha untuk memusnahkan rumput ilalang itu. Dia hanya berusaha untuk menikmati kehadirannya, walau dengan persepsi yang sama sekali aneh dan gak biasa!

Dia hanya ingin membiarkan segala sesuatu berjalan apa adanya.

Dan sejak saat itu, hatinya kembali  tersenyum, dan ketenangan kembali memeluk jiwanya. Sesederhana itu….

________

Gue bisa aja jadi rumput ilalang. Dan bisa aja gue menganggap siapapun atau apaupun yang ada diluar sana adalah rumput ilalang. Segala sesuatu yang eksis di muka bumi ini bisa saja digambarkan sebagai rumput ilalang!!

Gue, pemuda biasa yang ngaku peduli sama global warming tapi cuma banyak omong kosong doang bisa aja dianggap rumput ilalang oleh para aktivis greenpeace….  Tapi para aktivis greenpeace ini bisa jadi juga  dianggap rumput ilalang oleh para petinggi negara G-8, yang walau ngelahirin banyak emisi yang bikin dunia jadi sesek nafas, tapi merasa bisa ngidupin sekian juta rakyatnya tanpa kekurangan.

Atau anak-anak jalanan yang bermain di pinggiran rel juga bisa dianggap rumput ilalang oleh sebagian anak-anak lain yang kebetulan beruntung bisa bawa bekal tiap hari ke sekolah… Tapi di sisi lain, anak-anak pinter ini bisa jadi rumput ilalang bagi orangtuanya, para guru, atau insan pendidik yang menomorsatukan moral, kedisiplinan, prestasi dan kebanggaan. (mudah2an gak ada lagi anak sekolah yang bunuh diri…)

Atau keberadaan suku Tamil, jengkol, durian, agama minoritas, kepercayaan pagan, bencong di lampu merah, anak autis, remaja borju yang tengil, kaum socialite, bos di kantor yang sok tau, pemaen film bokep, tokoh agama, ….. semua bisa saja menjadi rumput ilalang dalam sistem kehidupan dan sosial yang mungkin udah ada (dan tertata rapi) sejak jaman Plato dahulu kala!

Kita harus mulai ngeh’  sepertinya kalo kita semua hidup dalam sebuah taman kehidupan, dimana yang berkuasa atas taman kehidupan ini-lah yang memberi kita air kesegaran setiap harinya.

Seperti layaknya petani yang bisa menerima kehadiran rumput ilalang. Lalu kenapa kita juga mesti repot??

Jadi ngapain iseng! mau di sebelah kita tumbuh jenis tanaman kayak apa kek… mau singkong, pohon jengkol, atau bunga bakung… biarin aja tumbuh apa adanya… seperti  kita yang pastinya punya tetangga sebelah dengan beragam model dan tipe; mau kiri, mau kanan, mau komunis, mau marxis, mau liberal, atau yang percaya sama Allah, Yesus, Budha, Shinto, Dewa Dewi, sampe yang percaya sama pohon gede di tengah kuburan sekalipun… biarin aja… 

Lalu jika ada orang di sekitar kita yang  kerja jadi orang kantoran yang walau rapi jali setiap hari tapi punya banyak utang di warung nasi, trus ada yang berusaha  jadi pelawak tapi nggak pernah lucu,  atau jadi calo tanah, pemusik gagal, pemimpi sejati, tukang demo, yah biarin aja. Terserah…..

Selama keberadaan semua bisa menambah warna, memberi makna pada hidup, dan menyemikan benih yang baik dan buah yang bermanfaat, gak usah diapa-apain. Biarkan aja tumbuh apa adanya… Seandainya nggak menghasilkan apa-apa pun, nggak ada salahnya merasakan dan menghargai keberadaanya. Toh, kita juga nggak akan pernah tau entarnya gimana…

Kali aja someday, somewhere, yang kita anggap ‘rumput ilalang’ itu malah bisa jadi pembawa kesuburan bagi seluruh taman. Mereka bisa saja menjadi Avatar, juru selamat, atau yang juluran tangannya justru berada paling dekat untuk diraih saat kita mulai tenggelam di samudra kehidupan….

Yuk mareee…, gak usah sok jadi tuhan kalo emang bukan. Gak perlu sok mengadili kalo bukan hakim (hakim aja pastinya punya aturan yang jelas). Gak perlu perlu jadi orang yang paling sok tau dan yang paling benar sedunia (dan akhirat!)….

Biarkan sang petani yang mengatur dan mengelola setiap jengkal dari taman kehidupan. Karena dia yang punya tanah. Dia yang tahu kapan saat menanam dan menuai. Biarkan taman kehidupan tumbuh subur dengan aneka warna tanaman bunga, buah, sampe yang kagak ada manfaatnya menurut kita! (karena bisa aja kita salah…)

Toh taman kehidupan cukup luas, semua bisa tumbuh bareng di sini. Dan pastinya kita semua cuma numpang nempel di tanah… kalo emang  saat rentang waktu tugas kita untuk memperindah taman udah selesai, pastinya kita akan dicabut juga dari taman kehidupan ini dan digantikan dengan tanaman yang lain…

________

Hujan pun kembali datang tanpa perlu diminta, sinar matahari kembali hadir tanpa perlu dipanggil, dan Sang Pemberi Hidup akan selalu memberi kebutuhan bagi setiap kita di atas muka bumi ini tanpa pernah memilih-milih…

________

(sekali lagi: didedikasikan buat Gus Dur, yang selalu mencintai taman kehidupan dan yang selalu berusaha untuk nggak ribet dan ‘repot’ selama hidupnya…🙂 )