You are currently browsing the tag archive for the ‘Yogyakarta’ tag.
Sepulang dari Jogja, gue menemukan banyak hal menarik. Salah satu diantaranya adalah mengenai apa yang bisa gue beli sebagai oleh-oleh alias cinderamata. Salah satunya adalah Dagadu.
Seperti dicantumkan pada website resmi Dagadu di www.dagadu.co.id, ada banyak hal menarik yang melatarbelakangi berdirinya sebuah perusahaan yang bergerak di bidang usaha cinderamata dimana usaha awalnya adalah berjualan kaos oblong yang kemudian berkembang juga ke barang-barang lain yang sangat menarik sebagai oleh-oleh khas Jogja.
Ini sebagian yang saya sadur dari website Dagadu mengenai latar belakang dan perjalanan usaha dari Dagadu. (Sebelumnya saya dengan rendah hati mohon ijin kepada pihak Dagadu untuk mencantumkan informasi ini dalam blog saya…) Read the rest of this entry »
Malam ini gue beranjak dari ibukota, menuju satu kota: Jogja. Sebuah bentuk perjalanan yang pastinya akan indah. Kenapa indah? Karena selain gue emang cinta sama Jogja, perjalanan kali ini pun ditemani oleh 2 orang yang selalu setia memberi gue cinta. Bokap dan pacar gue Ririe.
Gue memutuskan untuk naik kereta Taksaka II jurusan Jogja yang berangkat dari stasiun Gambir pada jam 20.45 malem. Tau ndak, perjalanan di minggu sore itu sangat lancar menuju stasiun. Emang sih, karena hari itu kebetulan libur. Tapi, jarak antara dari rumah gue sampai stasiun Gambir yang hanya menghabiskan waktu 40 menit jelas membuat gue cukup terkesima. Yah, maklum lah, gue sebenarnya udah terbiasa ngadepin macet. Makanya, gue sangat bersyukur kalo perjalanan jadi begitu cepat dan gue bisa nyampe Gambir dengan selamat. Read the rest of this entry »
Menjadi seorang ‘Kolektor Sampah’. Istilah ini gue dapet dari salah seorang seorang dosen gue di ADVY beberapa tahun lalu. Memang ini ada kaitannya sama bidang ilmu yang saat itu gue pelajari, yaitu desain grafis. Intinya, sebagai seorang desainer (grafis), kita harus menjadi kolektor sampah. Sampah di sini adalah banyak hal yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam menggali ide-ide kreatif. Entah itu kliping contoh Print Ad, contoh desain brosur, buku, poster (dan apapun jenisnya), serta segala macam barang/media yang memang memiliki nilai estetis secara visual.
Jogja beberapa tahun lalu mungkin agak sedikit berbeda dengan Jakarta saat ini. Mungkin saat ini, hal yang berhubungan dengan mengumpulkan ‘sampah’ yang estetis itu bisa dengan mudah kita temui pada galeri, toko barang antik, atau melalui internet sekalipun. Tapi memang, kegiatan ’mengumpulkan’ yang gue lakukan dengan mencari ke sana-sini dimana beberapa diantaranya adalah hasil pemberian, merupakan sebuah bentuk keasikan tersendiri. Dan gue nggak peduli kalo yang gue kumpulin itu sebenarnya hanyalah sampah! Read the rest of this entry »
Kembali ke masa kuliah dulu. Saat perut mulai lapar, gue biasa melangkahkan kaki menuju angkringan di pinggir jalan deket patangpuluhan. Sekedar untuk melepas lelah, mengisi perut sambil mengisi malam yang kadang sering bikin jenuh.
Angkringan bagi gue menjadi semacam tempat relaksasi, tempat pelarian dari segala kepenatan gue waktu itu sama tugas kampus yang kayaknya nggak ada habis-habisnya. Di sini gue bisa ketemu temen-temen sekampus, bisa makan minum bareng, bisa ngobrol ngalor ngidul, yang membuat otak gue jadi seger lagi…
___________________________________
Jika ingin melihat sejarahnya, angkringan berasal dari kata bahasa Jawa “angkring” yang artinya duduk santai, biasanya dengan melipat satu kaki ke kursi. Angkringan adalah semacam warung makan yang berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan kain terpal plastik dengan warna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli, angkringan beroperasi mulai sore hari sampai dini hari. Namun kini ada juga yang mulai buka siang hari. Pada malam hari, angkringan mengandalkan penerangan tradisional senthir dibantu terangnya lampu jalan.
Makanan khas yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telor puyuh, kripik dan lain-lain. Nasi kucing (dalam bahasa Jawa disebut “sega kucing“) bukanlah suatu menu tertentu, tetapi lebih pada cara penyajian nasi bungkus yang banyak ditemukan pada angkringan. Dinamakan “nasi kucing” karena disajikan dalam porsi yang (sangat) sedikit, seperti menu untuk pakan kucing. Bagi kaum laki-laki mungkin bisa menghabiskan 3-5 bungkus. Minuman yang dijual pun beraneka macam seperti teh, es jeruk, kopi, wedang tape, wedang jahe, susu, atau campuran beberapa yang anda suka. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Tapi sekarang kalau dirasa-rasa, harga hidangan angkringan udah lumayan ‘mengikuti pasar’. Tetapi tetap saja angkringan banyak penggemar. Read the rest of this entry »
Pagi Masih Gelap
Kursi reyot pinggir jalan tersenyumsenyum simpul.
Merekareka, berterbangan bersama cerita lucu, obrolan tengah pagi, satu dua motor berboncengan mesra yang lewat, nada lagu sayup dari radio usang, kang Giman dan sampah angkringan yang makin menggunung-seperti juga utang akhir bulan-, motormotor parkiran yang mati bosan menunggu sang tuan yang sedang diskusi cabul.
Masih gelap, saat trotoar meredam bising, berkuasa atas malam, menyapa tiap pantat yang setia mendekap sampai keduanya merasa bosan sendiri.
Wirobrajan masih gelap, saat kesepian masih harus mengambil alih malam dari tangan yang belum juga kenyang, padahal ribuan daun pisang dan pecahan tepung sudah jadi bangkai. Saat bibir makin hitam, tembakau yang tak henti berjejal masuk, bersama ceritacerita yang juga berjejal keluar.
Aku melacurkan malam, hingga saat terang lalu pulang.
Yogyakarta (Jogja) bukan sekedar nama kota buat gue. Walau hanya sesaat, tapi 3 tahun saat kuliah dulu di Jogja membawa banyak banget kenangan. Kisah ini berawal dari suatu siang, saat gue mampir ke Mirota Batik, sebuah toko 2 lantai di daerah Malioboro, yang terkenal sebagai salah satu pusat kerajinan dan batik di Jogja. Read the rest of this entry »






















Komentar Terbaru