You are currently browsing the tag archive for the ‘masalah’ tag.
Malam itu gue melihat banyak hal di TV. Sekumpulan banyak orang cerdik pandai berkumpul menjadi satu. Mereka bukan hanya sekedar berkumpul ngopi bareng atau main remi bareng. Mereka berkumpul dengan tujuan dan maksud yang jelas. Mereka ingin berbuat sesuatu demi bangsa dan rakyat di negeri ini.
Acara yang gue tonton bertajuk sidang Paripurna MPR yang salah satu agendanya memutuskan hal penting berkaitan dengan kebijakan penyesuaian harga BBM. Acara yang berlangsung hampir seharian dan memuncak pada malamnya yang gue tonton lewat siaran langsung selama hampir lebih dari 4 jam itu ternyata menguras banyak energi gue.
Gue emang nggak ahli soal ilmu ketatanegaraan apalagi soal urusan teknis pemerintahan dan lembaga kenegaraan. Dan gue yakin, para dewan yang duduk dan bersidang pun juga bukan tipe manusia yang sembarangan. Mereka pintar, berkualitas, cerdik, dan berpikiran maju ke depan. So, dengan siaran langsung ini gue bisa berharap mendapatkan banyak hal positif atau pembelajaran yang jujur, apalagi buat gue yang masih awam soal hal-hal yang berbau politik. Tapi gue tetep nonton karena terdorong rasa penasaran, kalo boleh dibilang begitu….
Gue berusaha nggak ambil pusing soal stigma yang berkembang soal para dewan yang terhormat. Gue hanya ingin melihat, mengamati sekaligus belajar. Ternyata, 4 jam di depan TV yang gue habiskan sungguh memiliki kesan yang sangat mendalam. Ketegangan, keseriusan, dan senyum tawa sangat jauh melebihi dari yang gue dapatkan saat gue menonton film drama korea… Read the rest of this entry »
Sepakbola menimbulkan banyak kegembiraan. Saat menikmati sepakbola, selalu muncul antusiasme dan sukacita. Permainan yang melibatkan 22 orang di lapangan ini memang menjadi sebuah bentuk hiburan yang paling nyata. Entah menikmatinya lewat televisi ataupun menonton langsung di stadion. Sepakbola juga bisa menjadi alat pemersatu bagi banyak orang. Terlepas dari latar belakang budaya, sosial dan ekonomi yang berbeda bukan menjadi alasan untuk menikmati permainan ini dengan hati yang lapang dan bahagia. Ini tidak hanya berlaku di sebagian tempat, tapi juga berlaku di seluruh dunia.
Namun belakangan hari ini saya terhenyak. Beberapa hari yang lalu terjadi peristiwa yang membuat hati miris. Sepakbola kembali makan korban. Kali ini hampir 75 orang lebih meninggal dunia saat hadir di stadion di negara Mesir. Sudah banyak peristiwa semacam ini yang terjadi di dunia sepakbola, dan sebagian karena alasan yang sama, kerusuhan penonton atau standar keamanan dan bangunan stadion yang tidak memadai.
Banyak dari penonton sepakbola yang membawa kebencian saat menonton sepakbola. Terlebih jika yang dihadapi adalah tim rival utama. Niat utama mereka tidak lagi datang ke stadion untuk menikmati pertandingan, tapi untuk mencari keributan. Ini berlaku di Jakarta, Beijing, Roma, London hingga ke Afrika Selatan. Semua niat kekerasan sudah menjadi doktrin, dan tidak ada seorang pun yang sanggup mencegah apalagi menghalangi. Keributan antar penonton, penonton dengan pemain, antar pemain, pemain dengan wasit, serta pemain dan penonton dengan aparat keamanan menjadi kasus yang sangat biasa kita dengar. Read the rest of this entry »
Malam itu seperti biasa, gue naik KRL dari stasiun Palmerah menuju Serpong. Kebetulan gue kebagian jadwal KRL seharga 6.000 perak. Memang harga tiket cukup terjangkau, apalagi dengan fasilitas kereta yang full AC, nyaman, cepat dan tepat waktu. Gue pun beranjak naik ke gerbong, nggak lama ssetelah KRL datang. Sepintas, suasana terpapar seperti biasa. Penuh tapi nyaman, nggak ada yang jualan, dan hawa dingin terasa saat berada di dalam gerbong yang ber-AC. Gue pun mulai membaca koran yang gue beli tadi pagi, sambil sesekali baca BBM dari istri gue.
Gak lama, gue mulai sadar, kalo cukup banyak penumpang (khususnya wanita) yang mengenakan masker di dalam kereta. Mungkin di tiap gerbong ada sekitar 10 orang yang pakai masker. Hati kecil gue mulai usil. Sebenarnya apa niat mereka mengenakan masker di dalam gerbong yang sebenarnya cukup nyaman ini? Perasaan nggak ada aroma yang nggak sedap, nggak ada asap rokok, dan nggak ada barang-barang bawaan penumpangg lain yang menimbulkan bau nggak sedap.
Gue jadi ngerasa geli sendiri. Lalu gue mulai menganalisa walau ngawur. Mungkin saja para penumpang yang mengenakan masker memang sedang sakit dan berhati mulia karena nggak pingin orang lain di gerbong yang sama ikut tertular penyakitnya. Bisa aja kan kalo mereka mengidap flu berat, TBC atau apalah… Tapi masak yang sakit dan memerlukan masker mencapai hampir 10% dari seluruh jumlah penumpang? Read the rest of this entry »
Saat ini sepakbola sudah mendunia, bahkan menjadi topik bahasan yang menyita waktu banyak media, banyak pribadi maupun kelompok. Sepakbola merupakan sebuah permainan biasa yang dalam perkembangannya menjadi sebuah gaya hidup, kultur, sikap, ideologi hingga ke arah fanatisme layaknya sebuah agama.
Sepakbola memang tidak pernah lepas dari sejarah, baik itu peristiwa yang membahagiakan di masa lampau, peristiwa sejarah, politik, hingga ke pertumpahan darah yang semuanya secara ironi melandasi filosofi kecintaan akan permainan yang melibatkan 22 orang di lapangan ini.
Walau saat ini sepakbola sudah menjadi konsumsi global dan tiada lagi batas yang menghalangi sebagai sebuah bentuk kebudayaan, namun tidak dipungkiri, aroma sejarah selalu menjadi nafas tersendiri yang dibawa serta olef para pelaku sepakbola baik pengurus klub maupun pencinta sepakbola. Jika efek yang ditimbulkan positif, ini tentu tidak menjadi masalah. Tapi sebaliknya, jika kebencian tetap tumbuh di hati para tifosi pada tim maupun pendukung yang berseberangan, ini akan menjadi masalah yang tidak akan ada solusi pemecahannya. Read the rest of this entry »
Sebuah catatan harian istriku – 16 Oktober 2011
Kadang, kegundahan yang melanda sangat sulit untuk diusir. Cemas datang, dan perut mulas. Ada baiknya untuk dicatat namun tidak dimasukkan ke dalam buku catatan harian. Karena dalam setiap buku harian, aku harus berusaha mencatat seuatu yang membahagiakan, agar setiap kata manis yang terbaca selalu menjadikan aku untuk mengulangi dan melakukannya lagi…
Sering terbaca kata pahit yang menjadikan duka dan tidak bisa ku lupa. Kata manis dan pahit berpadu menjadi satu di dalam hidupku. Ada baiknya setia hal dalam hidup menjadi sebuah bahan permenungan dan ini bisa kulakukan dimana saja termasuk saat berdiam diri di kloset. Read the rest of this entry »
Jakarta hujan. Dan seringkali datang menjelang sore. Panas di tengah hari, mulai gelap gulita karena mendung di sekitar jam 3 sore, dan akhirnya hujan tumpah ruah sekitar jam 4 sore hingga malam… Seringkali seperti itu. Dan setiap sore menjelang malam, gue selalu saja membenamkan diri untuk tetap berada di kantor sampai hujan benar-benar reda. Dan pemandangan hujan deras, angin kencang, dan kota Jakarta yang seakan-akan ‘ditelan’ badai selalu aja gue lihat dari kaca kantor gue di lantai 21. Agak serem juga… Tapi lama2 jadi agak terbiasa juga menyaksikan perubahan cuaca yang super ektrim…
Jakarta hujan. Berarti akan ada banyak kisah dan cerita. Dan selalu tentang hiruk pikuk lalu lintas yang makin ‘nggak jelas’, genangan (yang kalo banyak istilahnya: banjir!) yang seringkali menjadi sesuatu yang akrab dengan warga ibukota, dan banyak hal lain yang seakan saling berhubungan satu sama lain hanya karena satu alasan: hujan! Read the rest of this entry »
Meringis, ketawa dipaksakan, celingak-celinguk, mondar-mandir, bangun-duduk-berdiri-melangkah, mendelik, menelan ludah…
Sepintas raut muka, mimik, serta gestur kelihatan lucu. Tingkah polah yang serba salah, kadang memang mengundang tawa. Dan mungkin mimik itu yang sering gue ‘perlihatkan’ ke orang di sekeliling gue. Mungkin aja gue jadi ‘bahan tontonan’ karena berperan cukup baik dalam sebuah adegan dagelan ketika gue sedang merasa khawatir…
Pinginnya sih mau enjoy aja jalanin sesuatu, tapi kadang kekhawatiran membuat tindak-tanduk gue menjadi ‘nyebelin’. Mungkin buat diri gue sendiri, mungkin buat orang-orang terdekat yang ada di sekitar gue, dan bisa juga buat orang lain yang sebenarnya gak ada hubungannya apa-apa. Segala hal yang gue lakuin jadi serba salah, serba ‘grasa-grusu’ dan mungkin bisa membuat orang lain menertawakan diri gue; layaknya menonton sebuah dagelan… Read the rest of this entry »
Memutar kembali kenangan di jaman gue SD, SMP dan mungkin sampai SMA. Keseharian yang gue lewatin di daerah kota Tangerang, sebuah kota yang selalu saja terlihat hiruk pikuk. ‘Digadang-gadang’ sebagai kota ‘penyangga’ bagi ibukota Jakarta, membuat denyut nadi kehidupan Tangerang cukup berasa. Layaknya Jakarta, Tangerang merupakan kota dengan penduduk yang sangat heterogen. Orang dari berbagai suku, agama dan latar belakang tumplek blek di sini. Tidak ada satu suku dan budaya yang mendominasi membuat Tangerang tumbuh menjadi kota yang kadang sering kehilangan ciri khas-nya.
Bahkan sampai jaman kuliah di Jogja, gue selalu aja bingung kalo temen-temen gue nitip oleh-oleh. Gue bingung mau beliin apa. Karena gue nggak bisa nemuin oleh-oleh khas dari Tangerang. Makanan, misalnya. Apa Tangerang punya makanan tradisional yang menjadi ciri khas? Begitu juga dengan tempat-tempat yang menjadi landmark kota. Susah banget buat nemuin atau sekedar ‘menentukan’ tempat-tempat istimewa yang memiliki ciri khas dan keunikan sehingga bisa dijual di brosur pariwisata, misalnya. Tangerang ya kayak gitu itu. Kota dengan masyarakat dan budaya yang berbaur jadi satu. Penilaian tentang kota Tangerang yang gue tahu sejak dulu ya, paling seputar kota Industri (karena banyak pabrik), kota penjara (karena banyak lapas), atau bisa juga dihubungkan dengan masyarakat Cina Benteng-nya. Selebihnya, beneran susah untuk mencari hal yang benar-benar istimewa di Tangerang.
Karena itu, mungkin jadi agak ‘aneh’ kalo di tulisan ini gue ingin menarik kenangan gue sekaligus untuk bercerita mengenai kisah yang dulu lewati tentang dua buah jalan yang bernama jalan Kisamaun dan jalan Ki Asnawi. Kedua jalan ini memang menjadi pusat perniagaan di Tangerang. Letak keduanya bersebelahan di pusat kota Tangerang. Read the rest of this entry »
Minggu pagi gue udah terbangun karena kebetulan aja suara TV di sebelah kamar mengagetkan gue. Ada acara berita pagi di salah satu stasiun TV. Gue beranjak hanya untuk bergabung dengan bude gue yang kebetulan pagi itu kelihatan serius banget merhatiin layar kaca sambil sesekali geleng-geleng kepala.
Sambil mengambil koran hari itu yang tergeletak di atas kursi, gue pun bergabung. Tanpa bicara apapun gue pun larut dalam tayangan di TV. Serius merhatiin. Berita yang bertutur tentang kejadian yang terjadi di sekitar gue, sekitar kota, dalam seharian kemarin. Satu berita gue tonton, gue masih agak ngantuk. Dua berita, mulai serius. Tiga berita, gue mulai enek, dan pada berita yang keempat akhirnya gue beneran malah jadi BT. Sumpah, gak ada satupun berita yang enak dan bikin hati jadi ayem saat menontonnya. Semua tentang pembunuhan, kerusuhan saat demo, perampokan,…
Jadi bertanya-tanya aja, apa memang semua berita itu syaratnya harus yang bermuatan ‘kejahatan’ atau sesuatu yang ‘nggak menyenangkan’? Apakah berita identik dengan sebuah ‘masalah’. Mungkin ini ada hubungannya sama nilai jual suatu berita. Muatan yang bikin kontroversi (tapi faktual) niscaya akan lebih menarik perhatian. Makanya, asli, pagi itu gue merasa terjebak aja saat nonton berita pagi di TV. Gue merasa kalo gue nggak dikasih pilihan aja buat nemuin cara nikmatin pagi. Yang ada gue seakan-akan diwanti-wanti; ingat! hidup itu keras, hidup itu kejam, so hati-hati! Halah! Read the rest of this entry »
Semalem gue ngobrol banyak sama temen gue. Serunya, temen gue nih sama-sama tipe melankolis sama kayak gue… Intinya, dia punya sebuah masalah yang butuh sebuah upaya penyelesaian dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dan tau sendiri, kalo bagi tipe orang melankolis kayak gue atau temen gue itu, pengambilan keputusan untuk sebuah masalah dalam waktu singkat seringkali menjadi sesuatu yang susah, dan nggak jarang malah menimbulkan masalah yang baru! Memang, nggak semua seperti itu, dan sejak lama gue juga udah belajar dan berlatih agar tidak memberi ruang terlalu banyak buat perasaan gue. Tapi kadang gue sering lupa juga, hehehe
Kalo emang sungguh mau keluar dari masalah, gue sadar kalo gue seringkali mesti melakukan hal yang kalo menurut gue ya, bukan gue banget. Gue harus mengambil tindakan yang kadang bertentangan sama kata hati gue; atau mungkin lebih tepatnya sama perasaan gue. Ini berdasarkan pengalaman gue loh, dan bukan asal ngomong. Karena kadang gue harus melakukan sesuatu yang agak ‘tegas’ dan seringkali bertentangan banget sama perasaan, ketika gue dihadapkan pada pencarian sebuah solusi yang tepat. Kalo istilah temen gue malem itu sih, “wah kali ini loe ngajarin gue buat jadi orang jahat!”. Gue sih cuma bilang, ” Itu loe yang ngomong ‘jahat’ ya, dan bukan gue… Tapi, sebenarnya, nggak ada lagi kok yang perlu loe tambahin lagi buat semua yang udah loe lakuin. Semua udah cukup. Loe emang mesti ‘tegas’ kali ini bro! Susah kan loe!? Tapi pasti bisa!…” Read the rest of this entry »
Padahal Piala Dunia udah selesai. Dan jam tidur gue udah kembali nambah. Gue juga selalu rutin olahraga yang secara otomatis bikin badan gue lelah, dan bisa bikin lebih cepet tidur. Tapi kenapa ya, selalu aja gue susah buat bangun pagi. Kesiangan lagi, kesiangan lagi! Padahal gue sempet terjaga jam 6 pagi, tapi kenapa gue nggak bisa gitu, langsung beranjak dari kasur empuk gue. Apa cuaca dingin yang selalu hadir di lingkungan tempat tinggal gue, atau ada sesuatu yang nggak bikin gue nggak bersemangat di kantor ya?
Setelah gue runut-runut, sebenarnya alasannya cuma satu. Gue udah mulai terbiasa! Terbiasa bangun telat, maksudnya! Hehehe Udah bebeberapa bulan terakhir, siklus tidur gue memang mulai berubah. Jam bangun gue pun akhirnya mulai ‘mundur teratur’. Dan ini mungkin yang menyebabkan metabolisme tubuh pun mulai ‘terbiasa’ dengan keadaan ini. Jadinya, ya, kalo gue biasa bangun agak siang, yah jam segitu juga akhirnya gue akan bangun setiap paginya. Padahal udah berbagai cara gue jalanin, dari minta dibangunin, pasang alarm, sampe minta di telpon! Tetep aja… Read the rest of this entry »
Limit berarti sebuah batasan. Dan batasan di sini bisa juga berarti daya tahan dan kesanggupan yang dimiliki setiap orang termasuk ya gue sendiri tentunya. Saat gue dihadapkan pada sebuah pilihan atau tawaran untuk menikmati sesuatu apapun itu, tentunya secara bijak gue harus sadar akan kemampuan dan limit yang gue punya. Terutama jika keadaan yang akan gue masukin itu erat kaitannya dengan hal yang menyenangkan yang kadang susah buat mengerem setiap keinginan dan godaan yang terus muncul.
Misal aja gue diajak hang out untuk bersenang-senang. Dan biasalah, selama bersenang-senang pasti gue dan teman-teman akan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Disinilah saatnya gue harus benar-benar memperhitungkan limit gue, baik soal keuangan maupun soal daya tahan tubuh gue. jangan sampai aja, gue pulang hang out malah ‘bokek total’ gara nggak bisa ngontrol pengeluaran, atau gue malah sakit gara-gara kebanyakan ‘makan angin’ dan kebanyakan dapet asupan yang gak sehat ke perut gue! hehehe Read the rest of this entry »





















Komentar Terbaru