You are currently browsing the tag archive for the ‘kuliner’ tag.

Memutar kembali kenangan di jaman gue SD, SMP dan mungkin sampai SMA. Keseharian yang gue lewatin di daerah kota Tangerang, sebuah kota yang selalu saja terlihat hiruk pikuk. ‘Digadang-gadang’ sebagai kota ‘penyangga’ bagi ibukota Jakarta, membuat denyut nadi kehidupan Tangerang cukup berasa. Layaknya Jakarta, Tangerang merupakan kota dengan penduduk yang sangat heterogen. Orang dari berbagai suku, agama dan latar belakang tumplek blek di sini. Tidak ada satu suku dan budaya yang mendominasi membuat Tangerang tumbuh menjadi kota yang kadang sering kehilangan ciri khas-nya.

Bahkan sampai jaman kuliah di Jogja, gue selalu aja bingung kalo temen-temen gue nitip oleh-oleh. Gue bingung mau beliin apa. Karena gue nggak bisa nemuin oleh-oleh khas dari Tangerang. Makanan, misalnya. Apa Tangerang punya makanan tradisional yang menjadi ciri khas? Begitu juga dengan tempat-tempat yang menjadi landmark kota. Susah banget buat nemuin atau sekedar ‘menentukan’ tempat-tempat istimewa yang memiliki ciri khas dan keunikan sehingga bisa dijual di brosur pariwisata, misalnya. Tangerang ya kayak gitu itu. Kota dengan masyarakat dan budaya yang berbaur jadi satu. Penilaian tentang kota Tangerang yang gue tahu sejak dulu ya, paling seputar kota Industri (karena banyak pabrik), kota penjara (karena banyak lapas), atau bisa juga dihubungkan dengan masyarakat Cina Benteng-nya. Selebihnya, beneran susah untuk mencari hal yang benar-benar istimewa di Tangerang.

Karena itu, mungkin jadi agak ‘aneh’ kalo di tulisan ini gue ingin menarik kenangan gue sekaligus untuk bercerita mengenai kisah yang dulu lewati tentang dua buah jalan yang bernama jalan Kisamaun dan jalan Ki Asnawi. Kedua jalan ini memang menjadi pusat perniagaan di Tangerang. Letak keduanya bersebelahan di pusat kota Tangerang. Read the rest of this entry »

Ada banyak hal yang gue suka dan gue benci dalam hidup ini. Dan sekali lagi ini soal selera, dan memang nggak ada yang bisa menyalahkan seseorang soal selera. Cuma memang jika seleranya bagus kadang orang memberikan ‘credit’ lebih untuk itu. Tapi seandainya selera gue ancur pun, gue tetap nggak peduli. Karena semua yang gue suka dan dan gue benci bener2 nggak ada hubungannya sama orang lain, walau kadang gue nggak memungkiri kalo ada juga pengaruh dari orang lain yang membuat gue suka atau benci sama beberapa hal. Tapi yang pasti, ini nggak sepenuhnya menjadi gambaran diri gue loh ya… :)

Semua orang termasuk gue punya kebebasan untuk menentukan apa aja yang disuka dan dibensi. Dan itu hak preogratif, bahkan jadi hak asasi manusia yang nggak bisa diganggu gugat! Seandainya semua orang bisa menghargai apapun yang diyakini oleh orang lain, gue sih yakin aja kalo nggak bakal ada yang namanya perselihan hanya karena berbeda pandangan soal segala sesuatu yang disuka. Dan apapun alasannya gue bisa suka atau benci akan sesuatu, sebenarnya juga nggak perlu buat gue jelaskan. Karena mungkin aja alasa-alasan itu menjadi sesuatu yang nggak penting…

Iseng bikin list ah, ini hal yang gue suka dan yang gue benci dalam hidup ini: Read the rest of this entry »

Sebuah analisa kritis (mungkin juga ngawur) tentang kebiasaan makan malam bersama di komplek gue :)

Kaum pria di komplek gue termasuk pemakan segala. Selama kurang lebih 3 tahunan gue tinggal di Griya Serpong Asri yang terletak di Cisauk- pinggiran kota Tangerang ini, nggak terhitung ada berapa banyak kambing, ayam, bebek, ikan laut maupun air tawar sampai entog yang udah tercatat menjadi menu khas tengah malam…

Kebanyakan yang tinggal di komplek gue ini memang keluarga muda. Mungkin karena itu pula kita masih mamiliki semangat yang lumayan tinggi untuk berkumpul, berbagi dan untuk melakukan segala sesuatunya secara bersama-sama. Dan itu tanpa perlu paksaan atau himbauan dari pengurus RT. Segala sesuatu dijalankan secara bebarengan dan dengan semangat kebersamaan yang tinggi.

Kebiasaan makan tengah malam ini memang yang kelihatan sangat menonjol di komplek gue dibandingkan dengan kegiatan lain yang dilakukan bersama; khususnya di lingkungan RT dimana gue bertempat tinggal. Dan kalo mau dirunut dan dicari tahu, ada banyak alasan yang membuat kebiasaan ini setidaknya masih ‘lestari’ berjalan hingga hari ini sejak tiga tahun yang lalu… Read the rest of this entry »

Seafood udah jadi makanan favorit sejuta umat. Dan biasanya hidangan laut ini banyak banget ragamnya termasuk juga dari cara memasaknya. Mau ala Chinesse, ala Indonesia atau ala Barat. Pokoknya selama bahan makanan diambil dari binatang laut apapun, maka masuk kategori seafood-lah makanan itu…

Gue juga jadi salah satu penggemar seafood. Gue paling suka sama ikan bakar dan udang. Ikan jenis apapun gue suka, walau memang favorit gue adalah ikan kerapu. Kalo udah makan ikan kerapu bakar dan udang saus tiram, berasa nikmat banget!… Jadi lupa ama orang sebelah, hehehe

Hingga suatu hari gue membaca sebuah flyer kecil dari WWF (World Wildlife Fund) yang mengajak gue untuk lebih bijak saat memilih masakan seafood. Bijak? Iya. Ternyata WWF telah melakukan sebuah penelitian untuk kemudian membuat daftar jenis binatang laut yang ‘aman’ untuk dikosumsi. Read the rest of this entry »

Kembali ke masa kuliah dulu. Saat perut mulai lapar, gue biasa melangkahkan kaki menuju angkringan di pinggir jalan deket patangpuluhan. Sekedar untuk melepas lelah, mengisi perut sambil mengisi malam yang kadang sering bikin jenuh.

Angkringan bagi gue menjadi semacam tempat relaksasi, tempat pelarian dari segala kepenatan gue waktu itu sama tugas kampus yang kayaknya nggak ada habis-habisnya. Di sini gue bisa ketemu temen-temen sekampus, bisa makan minum bareng, bisa ngobrol ngalor ngidul, yang membuat otak gue jadi seger lagi…
___________________________________

Jika ingin melihat sejarahnya, angkringan berasal dari kata bahasa Jawa “angkring” yang artinya duduk santai, biasanya dengan melipat satu kaki ke kursi. Angkringan adalah semacam warung makan yang berupa gerobag kayu yang ditutupi dengan kain terpal plastik dengan warna khas, biru atau oranye menyolok. Dengan kapasitas sekitar 8 orang pembeli, angkringan beroperasi mulai sore hari sampai dini hari. Namun kini ada juga yang mulai buka siang hari. Pada malam hari, angkringan mengandalkan penerangan tradisional senthir dibantu terangnya lampu jalan.

Makanan khas yang dijual meliputi nasi kucing, gorengan, sate usus (ayam), sate telor puyuh, kripik dan lain-lain. Nasi kucing (dalam bahasa Jawa disebut “sega kucing“) bukanlah suatu menu tertentu, tetapi lebih pada cara penyajian nasi bungkus yang banyak ditemukan pada angkringan. Dinamakan “nasi kucing” karena disajikan dalam porsi yang (sangat) sedikit, seperti menu untuk pakan kucing. Bagi kaum laki-laki mungkin bisa menghabiskan 3-5 bungkus. Minuman yang dijual pun beraneka macam seperti teh, es jeruk, kopi, wedang tape, wedang jahe, susu, atau campuran beberapa yang anda suka. Semua dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Tapi sekarang kalau dirasa-rasa, harga hidangan angkringan udah lumayan ‘mengikuti pasar’. Tetapi tetap saja angkringan banyak penggemar. Read the rest of this entry »

Boen Tek Bio, klenteng pertama di Tangerang.

Dari Pasar Lama hingga Cisauk…

Gue paling suka jalan-jalan ke daerah pecinan di pasar lama tangerang. Alasannya apalagi kalo bukan banyak tempat makan yang enak… Kisaran jalan Kisamaun dan sekitarnya memang menjadi tempat yang sangat khas suasana pecinan. Mulai makanan, toko peralatan sembahyang cina, toko obat, semuanya ada. Sayang, bangunan di sana udah nggak banyak yang ‘asli’. Hanya ada beberapa aja yang masih mempertahankan bentuk aslinya.

Dulu, bareng temen, gue sering masuk-masuk ke dalam pasar yang bisa kita temukan setelah kita masuk ke dalam sebuah gang sempit. Pasar itu terletak bersebelahan dengan klenteng Boen Tek Bio, yang didirikan tahun 1684 dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang.* Gang yang sempit dan banyaknya pedagang yang menjual keperluan sembahyang membuat suasana dalam gang ini bener-bener berasa kayak di daerah shanghai di tahun 50an hehehe… Read the rest of this entry »

B U O N G I O R N O !

Antonius HarmokoPEMANIS BUATAN merupakan kumpulan catatan yang berupa celoteh, ungkapan hati, hingga omong kosong akan segala sesuatu yang hadir di benak gue. Bebas, jujur, dan mungkin terkadang kurang ajar…

SEMOGA kumpulan catatan ini bisa dibaca dan dimengerti juga dengan kejujuran dan hati yang ‘bebas’ sehingga syukur-syukur bisa menjadi pemanis hidup; minimal buat gue sendiri...

NAMUN, karena gue percaya bahwa setiap kehidupan itu baik adanya, maka pemanis yang ada dalam kumpulan catatan ini hanyalah sebatas ‘pemanis yang sengaja dibuat’ alias bersifat sementara dalam setiap kandungannya...

Kategori Catatan (selengkapnya lihat di halaman: ARSIP CATATAN)

Tanggal Gue Menulis…

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

"Bersabdalah saja, maka aku akan sembuh…”

Home sweet home

Peta Wisata Yogyakarta

Gitu aja kok repot!

Mimin Pinguin!

Kisah dibalik nama Vito

Kenangan seru tahun 90an

Musik Indonesia tahun 90an

Musik Kenangan tahun 80an

Burung Berkicau

Garuda di Dadaku

Forza La'Beneamata!

Komunitas

INTER CLUB INDONESIA Regional TANGERANG ID:0510 0811 6470

Alumni SMP Strada Slamet Riyadi Angk.92

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.