You are currently browsing the tag archive for the ‘kota’ tag.
Semangat, harapan, dan kebahagiaan adalah pencapaian yang ingin dituju dalam hidup. Daya, upaya, dan cita menjadi faktor yang mengiringi upaya pencapaian itu. Semua pribadi akan selalu mengalami hal yang sama. Siapapun dia, dan dari golongan manapun dia berasal. Namun yang menjadi pembeda adalah kualitas diri yang dimiliki untuk selalu setia dalam perjalanan hidup.
Catatan ini ingin memberi banyak contoh mengenai kesetian perjuangan dalam hidup yang dialami oleh banyak pribadi. Memang semua hampir melihat pada gambaran wong cilik. namun bukan berarti perjuangan hidup tidak dimiliki oleh pribadi yang berkecukupan. Namun dari semangat wong cilik ini gue mendapatkan banyak inspirasi sekaligus semangat. Karena bagi para wong cilik ini tidak ada pilihan lain. Jika tidak berjuang demi hidup, maka: mereka nggak akan makan hari ini! Read the rest of this entry »
Malam itu seperti biasa, gue naik KRL dari stasiun Palmerah menuju Serpong. Kebetulan gue kebagian jadwal KRL seharga 6.000 perak. Memang harga tiket cukup terjangkau, apalagi dengan fasilitas kereta yang full AC, nyaman, cepat dan tepat waktu. Gue pun beranjak naik ke gerbong, nggak lama ssetelah KRL datang. Sepintas, suasana terpapar seperti biasa. Penuh tapi nyaman, nggak ada yang jualan, dan hawa dingin terasa saat berada di dalam gerbong yang ber-AC. Gue pun mulai membaca koran yang gue beli tadi pagi, sambil sesekali baca BBM dari istri gue.
Gak lama, gue mulai sadar, kalo cukup banyak penumpang (khususnya wanita) yang mengenakan masker di dalam kereta. Mungkin di tiap gerbong ada sekitar 10 orang yang pakai masker. Hati kecil gue mulai usil. Sebenarnya apa niat mereka mengenakan masker di dalam gerbong yang sebenarnya cukup nyaman ini? Perasaan nggak ada aroma yang nggak sedap, nggak ada asap rokok, dan nggak ada barang-barang bawaan penumpangg lain yang menimbulkan bau nggak sedap.
Gue jadi ngerasa geli sendiri. Lalu gue mulai menganalisa walau ngawur. Mungkin saja para penumpang yang mengenakan masker memang sedang sakit dan berhati mulia karena nggak pingin orang lain di gerbong yang sama ikut tertular penyakitnya. Bisa aja kan kalo mereka mengidap flu berat, TBC atau apalah… Tapi masak yang sakit dan memerlukan masker mencapai hampir 10% dari seluruh jumlah penumpang? Read the rest of this entry »
Tiap hari gue menggunakan KRL atau komuter Line sebagai alat transportasi menuju kantor. KRL Jabodetabek melayani penumpang dari dan ke Jakarta, Tangerang, Serpong, Bekasi, Depok dan Bogor. Semua terbagi dalam 4 jalur utama. Jakarta-Tangerang, Jakarta-Serpong, Jakarta-Bekasi, dan Jakarta Bogor/Depok atau sebaliknya. Untuk jadwal lengkapnya silahkan lihat di Situs remi PT Kereta Api Indonesia.
Setiap hari gue berangkat dari stasiun Serpong menuju Tanah Abang dan turun di st.Palmerah, begitu juga pulangnya. Kalo dari Karawaci rumah orang tua, gue naik KRL dari st. Tangerang menuju Tanah Abang begitu sebaliknya. Gue mulai menggunakan KL semenjak 3 tahun lalu. Kenapa gue memilih transportasi menggunakan KRL? Banyak alasan. Diantaranya karena cepat, nggak macet, murah, nyaman dan aman. Tapi soal banyak alasan tadi juga tergantung dari kita. Bagaimana kita bisa memanfaatkan media transportasi KRL dengan baik, agar kita pun bisa merasa perjalanan menuju tujuan menjadi menyenangkan.
Di sini, gue punya beberapa tips penting kalau kita memutuskan menggunakan KRL saat berpergian menuju ke Jakarta, Depok, Tangerang, Serpong, Bekasi dan Bogor. Tips ini murni dari pengalaman gue, dan bukan yang tercantum di buku ataupun catatan resmi perkeretaapian. Ini murni sharing pengalaman pribadi aja. So, check this out: Read the rest of this entry »
Malam tadi, seperti biasa gue naik Kereta Rel Listrik (KRL) Jabodetabek sepulang dari kantor. Gue biasa naik KRL Komuter dari stasiun Dukuh Atas Sudirman menuju stasiun Serpong. Tapi, hari ini gue menyempatkan diri menuju stasiun Tanah Abang karena jadwal paling dekat adalah KRL Ekonomi dan adanya hanya dari stasiun Tanah Abang.
Jadwal KRL ekonomi berangkat dari Tanah Abang pukul 18.15 sore. Makanya setelah gue sampe stasiun Sudirman jam 17.50, gue lantas nyambung ke Tanah Abang menggunakan KRL Komuter Cisadane yang menuju Tangerang, dan melewati stasiun Tanah Abang. Read the rest of this entry »
Malam ini gue beranjak dari ibukota, menuju satu kota: Jogja. Sebuah bentuk perjalanan yang pastinya akan indah. Kenapa indah? Karena selain gue emang cinta sama Jogja, perjalanan kali ini pun ditemani oleh 2 orang yang selalu setia memberi gue cinta. Bokap dan pacar gue Ririe.
Gue memutuskan untuk naik kereta Taksaka II jurusan Jogja yang berangkat dari stasiun Gambir pada jam 20.45 malem. Tau ndak, perjalanan di minggu sore itu sangat lancar menuju stasiun. Emang sih, karena hari itu kebetulan libur. Tapi, jarak antara dari rumah gue sampai stasiun Gambir yang hanya menghabiskan waktu 40 menit jelas membuat gue cukup terkesima. Yah, maklum lah, gue sebenarnya udah terbiasa ngadepin macet. Makanya, gue sangat bersyukur kalo perjalanan jadi begitu cepat dan gue bisa nyampe Gambir dengan selamat. Read the rest of this entry »
Memesan, berarti punya tujuan. Pesan makanan berarti karena ingin makan. Pesan tiket pastinya karena pingin nonton. Pesan barang di web on-line, karena emang ketemu yang dicari. Semua dengan tujuan: ingin mendapatkan apa yang kita inginkan.
Kenapa harus memesan? Ada dua alasan; 1. Karena memang begitu prosedurnya, 2.biar kebagian tempat/tidak kehabisan. Semua penjelasan di atas bukti bahwa perihal pesan-memesan merupakan sesuatu yang wajar, lumrah, lazim, bahkan prosedural. Tapi kenapa gue mesti sebel ya, kalo inget hal ini?
Read the rest of this entry »
Menjadi seorang ‘Kolektor Sampah’. Istilah ini gue dapet dari salah seorang seorang dosen gue di ADVY beberapa tahun lalu. Memang ini ada kaitannya sama bidang ilmu yang saat itu gue pelajari, yaitu desain grafis. Intinya, sebagai seorang desainer (grafis), kita harus menjadi kolektor sampah. Sampah di sini adalah banyak hal yang bisa menjadi sumber inspirasi dalam menggali ide-ide kreatif. Entah itu kliping contoh Print Ad, contoh desain brosur, buku, poster (dan apapun jenisnya), serta segala macam barang/media yang memang memiliki nilai estetis secara visual.
Jogja beberapa tahun lalu mungkin agak sedikit berbeda dengan Jakarta saat ini. Mungkin saat ini, hal yang berhubungan dengan mengumpulkan ‘sampah’ yang estetis itu bisa dengan mudah kita temui pada galeri, toko barang antik, atau melalui internet sekalipun. Tapi memang, kegiatan ’mengumpulkan’ yang gue lakukan dengan mencari ke sana-sini dimana beberapa diantaranya adalah hasil pemberian, merupakan sebuah bentuk keasikan tersendiri. Dan gue nggak peduli kalo yang gue kumpulin itu sebenarnya hanyalah sampah! Read the rest of this entry »
Jakarta hujan. Dan seringkali datang menjelang sore. Panas di tengah hari, mulai gelap gulita karena mendung di sekitar jam 3 sore, dan akhirnya hujan tumpah ruah sekitar jam 4 sore hingga malam… Seringkali seperti itu. Dan setiap sore menjelang malam, gue selalu saja membenamkan diri untuk tetap berada di kantor sampai hujan benar-benar reda. Dan pemandangan hujan deras, angin kencang, dan kota Jakarta yang seakan-akan ‘ditelan’ badai selalu aja gue lihat dari kaca kantor gue di lantai 21. Agak serem juga… Tapi lama2 jadi agak terbiasa juga menyaksikan perubahan cuaca yang super ektrim…
Jakarta hujan. Berarti akan ada banyak kisah dan cerita. Dan selalu tentang hiruk pikuk lalu lintas yang makin ‘nggak jelas’, genangan (yang kalo banyak istilahnya: banjir!) yang seringkali menjadi sesuatu yang akrab dengan warga ibukota, dan banyak hal lain yang seakan saling berhubungan satu sama lain hanya karena satu alasan: hujan! Read the rest of this entry »
Memutar kembali kenangan di jaman gue SD, SMP dan mungkin sampai SMA. Keseharian yang gue lewatin di daerah kota Tangerang, sebuah kota yang selalu saja terlihat hiruk pikuk. ‘Digadang-gadang’ sebagai kota ‘penyangga’ bagi ibukota Jakarta, membuat denyut nadi kehidupan Tangerang cukup berasa. Layaknya Jakarta, Tangerang merupakan kota dengan penduduk yang sangat heterogen. Orang dari berbagai suku, agama dan latar belakang tumplek blek di sini. Tidak ada satu suku dan budaya yang mendominasi membuat Tangerang tumbuh menjadi kota yang kadang sering kehilangan ciri khas-nya.
Bahkan sampai jaman kuliah di Jogja, gue selalu aja bingung kalo temen-temen gue nitip oleh-oleh. Gue bingung mau beliin apa. Karena gue nggak bisa nemuin oleh-oleh khas dari Tangerang. Makanan, misalnya. Apa Tangerang punya makanan tradisional yang menjadi ciri khas? Begitu juga dengan tempat-tempat yang menjadi landmark kota. Susah banget buat nemuin atau sekedar ‘menentukan’ tempat-tempat istimewa yang memiliki ciri khas dan keunikan sehingga bisa dijual di brosur pariwisata, misalnya. Tangerang ya kayak gitu itu. Kota dengan masyarakat dan budaya yang berbaur jadi satu. Penilaian tentang kota Tangerang yang gue tahu sejak dulu ya, paling seputar kota Industri (karena banyak pabrik), kota penjara (karena banyak lapas), atau bisa juga dihubungkan dengan masyarakat Cina Benteng-nya. Selebihnya, beneran susah untuk mencari hal yang benar-benar istimewa di Tangerang.
Karena itu, mungkin jadi agak ‘aneh’ kalo di tulisan ini gue ingin menarik kenangan gue sekaligus untuk bercerita mengenai kisah yang dulu lewati tentang dua buah jalan yang bernama jalan Kisamaun dan jalan Ki Asnawi. Kedua jalan ini memang menjadi pusat perniagaan di Tangerang. Letak keduanya bersebelahan di pusat kota Tangerang. Read the rest of this entry »
Minggu pagi gue udah terbangun karena kebetulan aja suara TV di sebelah kamar mengagetkan gue. Ada acara berita pagi di salah satu stasiun TV. Gue beranjak hanya untuk bergabung dengan bude gue yang kebetulan pagi itu kelihatan serius banget merhatiin layar kaca sambil sesekali geleng-geleng kepala.
Sambil mengambil koran hari itu yang tergeletak di atas kursi, gue pun bergabung. Tanpa bicara apapun gue pun larut dalam tayangan di TV. Serius merhatiin. Berita yang bertutur tentang kejadian yang terjadi di sekitar gue, sekitar kota, dalam seharian kemarin. Satu berita gue tonton, gue masih agak ngantuk. Dua berita, mulai serius. Tiga berita, gue mulai enek, dan pada berita yang keempat akhirnya gue beneran malah jadi BT. Sumpah, gak ada satupun berita yang enak dan bikin hati jadi ayem saat menontonnya. Semua tentang pembunuhan, kerusuhan saat demo, perampokan,…
Jadi bertanya-tanya aja, apa memang semua berita itu syaratnya harus yang bermuatan ‘kejahatan’ atau sesuatu yang ‘nggak menyenangkan’? Apakah berita identik dengan sebuah ‘masalah’. Mungkin ini ada hubungannya sama nilai jual suatu berita. Muatan yang bikin kontroversi (tapi faktual) niscaya akan lebih menarik perhatian. Makanya, asli, pagi itu gue merasa terjebak aja saat nonton berita pagi di TV. Gue merasa kalo gue nggak dikasih pilihan aja buat nemuin cara nikmatin pagi. Yang ada gue seakan-akan diwanti-wanti; ingat! hidup itu keras, hidup itu kejam, so hati-hati! Halah! Read the rest of this entry »
Dedicated for all Inter Club Indonesia Regional Tangerang family…
Bukan di Giuseppe Meazza, ataupun di Artemio Franchi. Bukan pula di Malpensa atau di Piazza Duomo. Tapi pesta itu dirayakan di sebuah bangunan lantai paling atas di daerah Karawaci Tangerang hingga berlanjut ke daerah pusat kota Tangerang. Ya ini adalah pesta menyambut keberhasilan Internazionale meraih Scudetto yang ke-lima kalinya berturut-turut sekaligus yang ke 18 kalinya sepanjang sejarah seri A di Italia bergulir.
Ada banyak alasan mengapa perayaan malam hingga dini hari itu menjadi begitu istimewa. Sejak pertama berdiri pada Januari 2010, Inter Club Indonesia Regional Tangerang akhirnya berkesempatan merayakan bersama-sama seluruh anggotanya sebuah perayaan gelar juara. Walau perayaan sejenis sudah dilakukan pada saat Inter memenangkan Copa Italia 2 minggu lalu, namun perayaan kali ini tetap yang paling istimewa; setidaknya itu yang ada di benak sekitar 80-100an Interisti yang hadir malam itu dari berbagai penjuru kota Tangerang… Read the rest of this entry »
Sebuah analisa kritis (mungkin juga ngawur) tentang kebiasaan makan malam bersama di komplek gue
Kaum pria di komplek gue termasuk pemakan segala. Selama kurang lebih 3 tahunan gue tinggal di Griya Serpong Asri yang terletak di Cisauk- pinggiran kota Tangerang ini, nggak terhitung ada berapa banyak kambing, ayam, bebek, ikan laut maupun air tawar sampai entog yang udah tercatat menjadi menu khas tengah malam…
Kebanyakan yang tinggal di komplek gue ini memang keluarga muda. Mungkin karena itu pula kita masih mamiliki semangat yang lumayan tinggi untuk berkumpul, berbagi dan untuk melakukan segala sesuatunya secara bersama-sama. Dan itu tanpa perlu paksaan atau himbauan dari pengurus RT. Segala sesuatu dijalankan secara bebarengan dan dengan semangat kebersamaan yang tinggi.
Kebiasaan makan tengah malam ini memang yang kelihatan sangat menonjol di komplek gue dibandingkan dengan kegiatan lain yang dilakukan bersama; khususnya di lingkungan RT dimana gue bertempat tinggal. Dan kalo mau dirunut dan dicari tahu, ada banyak alasan yang membuat kebiasaan ini setidaknya masih ‘lestari’ berjalan hingga hari ini sejak tiga tahun yang lalu… Read the rest of this entry »
























Komentar Terbaru