You are currently browsing the tag archive for the ‘Burung Berkicau’ tag.
Jangan Berubah
Aku sudah lama mudah naik darah. Aku serba kuatir, mudah tersinggung dan egois sekali. Setiap orang mengatakan bahwa aku harus berubah. Dan setiap orang terus-menerus menekankan, betapa mudah aku menjadi marah.
Aku sakit hati terhadap mereka, biarpun sebetulnya aku menyetujui nasehat mereka. Aku memang ingin berubah, tetapi aku tidak berdaya untuk berubah, betapapun aku telah berusaha.
Aku merasa paling tersinggung ketika sahabat karibku juga mengatakan, bahwa aku mudah naik pitam. Ia juga terus-menerus mendesak supaya aku berubah. Aku mengakui bahwa ia benar, meskipun aku tidak bisa membencinya. Aku merasa sama sekali tak berdaya dan terpasung.
Namun pada suatu hari ia berkata kepadaku: ‘Jangan berubah! Tetaplah seperti itu saja. Sungguh, tidak jadi soal, apakah engkau berubah atau tidak. Aku mencintaimu sebagaimana kau ada. Aku tidak bisa tidak mencintaimu.’
Kata-kata itu berbunyi merdu dalam telingaku: ‘Jangan berubah. Jangan berubah. Jangan berubah … Aku mencintaimu.’ Dan aku menjadi tenang.
Aku mulai bergairah. Dan, oh, sungguh mengherankan, aku berubah! Sekarang aku tahu, bahwa aku tidak dapat benar-benar berubah, sebelum aku menemukan orang yang tetap akan mencintaiku, entah aku berubah atau tidak.
Engkau mencintaiku seperti itu, Tuhan?
(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)
___________________________________
Gue sengaja menuliskan salah satu tulisan dari Anthony de Mello, untuk sekedar memberikan semangat buat gue. Hari Rabu kemarin merupakan hari dimana mulai masuk masa Pra Paskah. Dalam tradisi Katolik, masa Pra Paskah merupakan masa dimana kita menyatakan pertobatan melalui puasa, pantang, bermati raga, melakukan silih atas dosa, serta untuk menyangkal diri. Selama 40 hari kita menjadikan momentum Pra Paskah untuk kembali menjadi ‘pribadi baru’ sampai nanti ketika Paskah kita mengenangkan kembali sebuah karya penyelamatan lewat peristiwa kematian dan kebangkitan Tuhan.
Soal puasa dan pantang atau bermati raga mungkin bisa gue jalanin. Lalu melakukan silih juga yah bisa gue lakuin. Tapi satu yang agak susah adalah untuk menyangkal diri. Gue seringkali ‘gagal’ melulu untuk melakukan hal yang satu ini. Menyangkal setiap keinginan-keinginan diri yang tidak baik, menyangkal setiap nafsu, amarah, dan keinginan badan yang udah pasti rapuh atau bersifat sementara. Read the rest of this entry »

Apapun akhirnya kesimpulan yang kita miliki terhadap buah pemikirannya lewat buku ini, adalah sebuah bentuk kebebasan pribadi.
“Mintalah hati yang damai, walau dalam keadaan apa pun juga.” — Anthony de Mello.
Buku Burung Berkicau gue temukan pertama kali pada tahun 1992. Dan saat gue beli sudah mencapai cetakan ke sepuluh. Anthony de Mello yang menulis buku ini merupakan seorang imam Jesuit dan dianggap cukup ‘kontroversial’ lewat tulisan-tulisannya. Read the rest of this entry »
Teringat akan sebuah buku dari Anthony De Mello berjudul Burung Berkicau, ketika salah satu kisah di dalamnya bercerita mengenai rumput ilalang… Read the rest of this entry »





















Komentar Terbaru