You are currently browsing the tag archive for the ‘bebas’ tag.
Hidup gue ya berarti apa yang gue punya. Baik, jelek, lucu, sedih, bangga, galau sampe nyungsep, ya semua milik gue. Itu semua kadang banyak yang bilang soal pilihan. Tapi nggak jarang, itu semua memang harus gue hadapin buat bikin hidup makin berwarna. Gue nggak mau nulis soal hal klise, tapi gue mau jujur aja memahami hidup, terutama hidup yang gue jalanin.
Gue pernah merasakan banyak berkat Tuhan. Dari memiliki keluarga yang harmonis, karier yang lumayan, punya banyak teman yang saling dukung, materi yang sedang saja tapi sangat mencukupi buat gue, kehidupan keluarga baru bareng istri, dan banyak kesempatan buat berkarya lewat banyak media. Ada banyak lagi berkat yang gue rasakan, tapi nggak bakalan bisa cukup halaman ini buat mencantumkan semua list-nya.
Gue juga pernah mengalami banyak ujian. Dari sakit gue yang cukup parah, peristiwa kecelakaan yang pernah gue alamin, kerugian materi yang walau nggak banyak tapi berasa, konflik yang terjadi dengan individu lain, sampe kesulitan saat meniti karier. Ada banyak lagi, dan gue juga yakin halaman ini juga nggak akan cukup memuatnya satu demi satu. Read the rest of this entry »
Bagi gue kesabaran adalah hal yang sederhana walau susah. Cara gampang gue dalam melatih kesabaran ada banyak, walau nggak semua asik dijalanin. Selama gue bisa menahan diri, nggak berpikiran sempit, dan melangkah dengan cara pandang baru, itu udah cukup.
Apapun bentuknya dan bagaimanapun caranya, ya hanya gue yang bisa memilih. Termasuk jika ada banyak hal berat yang harus gue jalanin karena keputusan gue melatih kesabaran. Ini beberapa cara gue diantaranya:
Catatan harian istriku, 13 Oktober 2011
Ada kelompok orang yang pantas dikasihani karena kemiskinan den derita-deritanya. Sementara kelompok yang lain perlu dikasihani karena kesombongan, keangkuhan, kejahatan, kebohongan, dan dosa-dosa lain yang mereka lakukan.
Kelompok pertama ketika dikasihani akan sadar (semoga) dan berjuang untuk terbetas dari derita dan kemiskinan mereka, walau perubahan kadang memerlukan proses yang panjang dan melelahkan. Read the rest of this entry »
Sebuah catatan harian istriku, Oktober 2011
Energi semesta hanya ada satu dan bukan dua jenis. Komunitas negatif memakai energi itu secara negatif. Begitu pula yang positif memakainya untuk tujuan positif. Energi itudikendalikan oleh pikiran. Bila pikiran serba negatif, jadilah ia kekuatan negatif. Lewat ‘positive thinking’ jadilah ia kekuatan positif.
So, mengapa memilih negatif jika kita bisa berpikir positif?
Tanggal 14 September kemarin, istriku berulang tahun. Dan tepat pada hari istimewa itu, kami berdua genap 1 bulan menikah. Well, ini sebuah momen bahagia sekaligus menjadi sebuah tugas (kalau boleh ditulis begitu) untuk selalu menjaga, membimbing dan mencitai Ririe.
Persoalan menikah, kadang sering dianggap hal yang biasa dan sepele. Walau diadakan pesta yang luar biasa pada saat pernikahan, namun yang jauh lebih penting, kehidupan yang sebenarnya baru akan dijalan dalam beberapa bulan hingga hitungan tahun ke depan.
Dalam menjalani waktu-waktu awal Pernikahan, kadang tidak akan habis pembicaraan mengenai indahnya cinta, serta banyak hal-hal yang berbau romantisme dan kekuatan hati. Hari-hari baru yang gue alamin selalu saja menawarkan kisah baru, yang kali ini jutru terasa semakin istimewa. Read the rest of this entry »
Ini istilah gue sendiri aja. Sebenarnya terinspirasi juga dari yang dilakuin sama Liz Gilbert (julia Robert) dalam film Eat Pray Love. Ketika menemui banyak kejenuhan dan masalah dalam hidup, Liz memutuskan untuk melakukan apa sesuai dengan kata hatinya; yaitu untuk ‘berkelana’ di tiga tempat; Italia, India dan Bali (tetep aja Bali dan bukan Indonesia yang disebut, hehehe)
Dan ketika memasuki awal perjalanannya itu, Liz menikmati saat-saat dimana dia telepas dari semua rutinitas yang setiap hari dia hadapi. Bukan untuk melakukan hal lain, misalnya liburan atau pergi berbelanja, atau menghabiskan waktu bareng keluarga. Yang dia nikmatin hanya diam, santai dan tidak melakukan apa-apa. Dia menikmati keadaan dimana dia tidak (harus) melakukan apapun. Makanya gue sebut ‘the beauty of doing nothing’. Read the rest of this entry »
Sibuk. Sana-sini minta cepet dikerjain. Itu yang gue alamin beberpa hari ini dikantor. Deadline menjadi teman sehari-hari yang kadang menjadi begitu menjengkelkan. Dan sebisa mungkin semuanya memang ingin gue selesaikan dalam waktu yang secepat mungkin. Karena gue sendiri udah mulai kepayahan juga membagi fokus gue sama banyak hal di saat bersamaan.
Apa memang ya, kalo kaum lelaki itu nggak akan bisa membagi fokusnya pada dua hal atau lebih pada waktu bersamaan? Beda dengan kaum perempuan yang bisa aja melakukan banyak hal dalam satu kesempatan. Teori ini emang udah lama gue dengar, tapi tiba-tiba aja terbesit belakangan ini pas kebetulan gue dihadapkan pada situasi yang menuntut gue fokus pada banyak hal pada waktu yang bersamaan!
Dan seringkali, gue kadang heran aja melhat temen cewek gue yang kebetulan juga bisa aja nyantai ketika dihadapkan pada banyak hal yang menuntut fokus dan perhatian ekstra pada saat yang bersamaan. Dia bisa aja tuh, sibuk sama deadline kerjaan, sibuk sama urusan anak, sibuk sama urusan suami, dan bahkan masih bisa-bisanya ngontrol bisnis sambilannya. Dan kerennya, kadang semua dilakukan pada saat bersamaan, dan semua bisa dijalanin dengan enak! Ngerjain laporan kerja, telpon anak, ngobrol sama suami, liat laporan keuangan bisnis sambilan, semua bisa dikerjakan bebarengan tanpa ada kendala berarti… Hmmm jadi makin yakin gue sama teori di atas… Read the rest of this entry »
259.200 jam! Itu waktu yang udah gue habiskan dalam hidup gue hingga saat ini. Waktu yang nggak sebentar, tapi waktu yang juga masih panjang tersisa (aminn). Anggaplah kalo 1/3nya gue habisin buat tidur -walau dalam kenyataannya setiap hari gue seringkali hanya tidur 4 jam-an-, berarti gue udah menghabiskan sekitar 86.400 jaman lebih! Angka-angka yang lumayan banyak dan pastinya juga memberi banyak.
Awareness! awareness! kata-kata itu mungkin sering hadir dalam benak gue. Bukan kesadaran untuk segala sesuatu yang belum sempat gue jalanin, tapi justru untuk segala sesuatu yang udah gue lewatin. Banyak, nggak terhitung, walau semua bisa aja disadari kehadirannya kalau sekedar mau memutar kembali semua yang udah gue laluin. Read the rest of this entry »
Limit berarti sebuah batasan. Dan batasan di sini bisa juga berarti daya tahan dan kesanggupan yang dimiliki setiap orang termasuk ya gue sendiri tentunya. Saat gue dihadapkan pada sebuah pilihan atau tawaran untuk menikmati sesuatu apapun itu, tentunya secara bijak gue harus sadar akan kemampuan dan limit yang gue punya. Terutama jika keadaan yang akan gue masukin itu erat kaitannya dengan hal yang menyenangkan yang kadang susah buat mengerem setiap keinginan dan godaan yang terus muncul.
Misal aja gue diajak hang out untuk bersenang-senang. Dan biasalah, selama bersenang-senang pasti gue dan teman-teman akan melakukan banyak hal yang menyenangkan. Disinilah saatnya gue harus benar-benar memperhitungkan limit gue, baik soal keuangan maupun soal daya tahan tubuh gue. jangan sampai aja, gue pulang hang out malah ‘bokek total’ gara nggak bisa ngontrol pengeluaran, atau gue malah sakit gara-gara kebanyakan ‘makan angin’ dan kebanyakan dapet asupan yang gak sehat ke perut gue! hehehe Read the rest of this entry »
Seringkali gue berada dalam satu keadaan dimana gue mau berubah. Berubah karena gue merasa sudah lelah sama semua yang gue jalanin. Rutinitas yang ‘biasa’, aktivitas yang membosankan, hingga ke banyak kebiasaan jelek yang mungkin aja nggak merugikan orang lain, tapi justru sebenarnya bikin hidup gue makin nggak jelas arahnya.
Intinya sih gue ingin melakukan sebuah perubahan yang gue mulai dari hal-hal kecil yang akan gue lakukan. Dan itu jadi semacam ikrar. Gue mau kebiasaan lama dan hidup lama gue digantikan dengan kebiasaan dan cara hidup yang baru. Dan pada awalnya ini nggak menjadi kesulitan yang berarti, karena pada dasarnya niat udah terpupuk dengan mantap, jadi jalan seakan terbuka dengan sendirinya.
Tapi jeleknya gue, kadang gue juga pingin orang lain merasakan apa yang gue rasakan. Setiap gue mengalami sebuah perubahan yang positif, sadar atau nggak sadar gue juga pingin mereka merasakan kebahagiaan yang gue alamin. Gue jadi kayak tenaga pemasar yang sibuk ‘persentasi’ ke sana ke sini, terutama ke orang-orang terdekat dan teman-teman gue bahwa ada sesuatu yang seandainya mereka mau lakuin, niscaya mereka juga bisa ngerasain kebahagiaan seperti yang gue alamin. Read the rest of this entry »
Dalam menghadapi sebuah relasi dengan orang lain, tanpa sengaja gue menemukan banyak hal yang sangat menarik. Kenapa menarik? Karena dari situ gue ternyata bisa mengenali banyak karakter, sifat, pembawaan, dan berbagai label yang mungkin saja sudah melekat di orang itu sejak dahulu kala…
Dan layaknya sebuah relasi, nggak semua hal yang gue temukan merupakan sebuah bentuk koneksivitas yang lancar. Maksud gue, dalam relasi yang gue bangun itu seringkali ada kesalahpahaman, ketidakcocokan, hingga yang mungkin aja bisa berujung pada hilangnya relasi yang udah gue bina selama jangka waktu yang nggak sebentar.
Memang, selama ini gue selalu berusaha untuk menjaga semua relasi yang gue miliki dengan siapapun itu. Tidak hanya dengan mereka yang masih hitungan keluarga atau saudara, tapi juga teman dan pribadi lain yang gue kenal dimanapun mereka. Kekuatan sebuah relasi memang sangat relatif, tapi juga bisa dengan jelas diukur. Yang pasti dan utama adalah seberapa dekat gue dengan orang-orang yang gue kenal itu. Semakin dekat gue dengan mereka, maka semakin kuat-lah bentuk relasi yang gue miliki. Setidaknya itu ukuran yang gue pakai selama ini. Read the rest of this entry »
Kesetiakawanan Asia Afrika
Mei Hwa perawan 16 tahun
Farouk perjaka 16 tahun
Mei Hwa masuk kamar jam 24.00
Farouk masuk kamar jam 24.00
Mei Hwa buka blouse
Farouk buka hemd
Mei Hwa buka rok
Farouk buka celana
Mei hwa buka BH
Farouk buka singlet
Farouk buka celana dalam
Mei Hwa telanjang bulat
Farouk telanjang bulat
Mei Hwa pakai daster
Farouk pakai kamerjas
Mei Hwa naik ranjang
Farouk naik ranjang
Lantas mereka tidurlah
Mei Hwa di Taipeh
Farouk di Kairo
-Remy Sylado-
Menggelitik, apa adanya, nggak jelas, bebas, semaunya, tanpa arah, merupakan sebagian ciri khas dari ‘puisi mbeling’. Puisi? masak tulisan ‘seperti di atas’ disebut ‘puisi’? Bukannya puisi itu merupakan kumpulan kata-kata indah, penuh makna, penuh permainan bahasa yang memikat dan sebagainya? Maka dari itu, tulisan di atas disebut sebagi puisi ‘mbeling’. ‘Mbeling’ dalam bahasa jawa yang berarti ‘nakal/susah diatur’.
Puisi Mbeling dicetuskan sebagai salah satu bentuk dari gerakan ‘mbeling’ yang dicetuskan oleh Remy Sylado pada 1971. Suatu gerakan yang dimaksudkan untuk mendobrak sikap rezim orde baru yang feodal dan munafik saat itu. Tapi dalam perkembangannya, gue lebih tertarik untuk membaca penuturan dari Sapardi Djoko Damono, seorang penyair besar Indonesia mengenai puisi mbeling ini:
“Puisi rupanya telah menjadi bentuk sastra yang menarik minat orang-orang muda, terutama dalam masa perkembangannya sebagai sastrawan. Sajak-sajak yang dikirimkan ke majalah-majalah yang berprestasi tidak dapat segera dimuat… Sementara beberapa penyair mendapatkan tempat yang semakin kukuh dalam perkembangan puisi Indonesia, kaum muda yang baru mulai menulis itu merasakan semacam tekanan. Mereka merasa tidak bisa cepat tampil karena terhalang oleh tokoh-tokoh yang sudah ‘mapan’… Tambahan lagi kebanyakan mereka menetapkan kepenyairan berdasarkan dimuat atau tidaknya sajak-sajaknya dalam majalah sastra satu-satunya, Horison.”
Puisi mbeling bagi gue menjadi sebuah bentuk cara untuk sebebasnya berekspresi sekaligus untuk melawan segala bentuk kemapanan teknis. Siapapun boleh menulis puisi, sajak, tanpa harus mengindahkan aturan bahasa atau rima yang berlaku. Tema maupun bahasan bisa dituturkan dengan bebas. Dan semua sah-sah aja, karena sedari awal mereka udah mengkategorikan karya mereka sebagai karya ‘mbeling’ yang nakal dan nggak berpatokan pada aturan… Read the rest of this entry »























Komentar Terbaru