You are currently browsing the tag archive for the ‘anak’ tag.
Ada dua sinetron yang membuat gue akan selalu menunggu kehadirannya di layar TV jaman dulu. Keluarga Cemara dan Si Doel Anak Sekolahan (SDAS). Keduanya memberi banyak inspirasi sekaligus hiburan dengan cara yang berbeda. Keluarga Cemara menjadikan kepahitan hidup sebagai sebuah kekuatan untuk bersyukur, sedangkan SDAS mengangkat kepolosan dan kejujuran sebagai sebuah pembelajaran dalam hidup.
Untuk kali ini gue ingin kangen-kangenan sama Keluarga Cemara. Kisah ini hadir dalam layar kaca beberapa tahun lalu -gue lupa kapan tepatnya, dan diangkat dari novel karangan Arswendo Atmowiloto. Sinetron ini bertutur tentang keseharian sebuah keluarga kecil yang terdiri dari Abah (Adi Kurdi) sebagai kepala keluarga, Emak (Lia Warokka) sebagai si ibu, Euis (Ceria HD) sebagai si sulung, Cemara (Anisa Fujianti) sebagai anak kedua dan Agil (Pudji Lestari) sebagai si bungsu.
Sinetron Keluarga Cemara adalah bentuk penggambaran kehidupan sederhana sebuah keluarga di sebuah desa kecil di pelosok Sukabumi, dimana dikisahkan, bahwa sebelumnya mereka tinggal di Jakarta. Dahulu, Abah adalah seorang pengusaha sukses, namun difitnah, dan seluruh harta kekayaannya terpaksa disita. Hanya Euis dari ketiga anaknya yang sempat merasakan kehidupan serba mewah di kota, sebelum akhirnya mereka ‘jatuh miskin’ dan harus tinggal di desa. Read the rest of this entry »
Jika Alice memiliki keyakinan akan 6 hal yang sebenarnya mustahil terjadi di dunia nyata, maka gak salah gue juga kadang boleh memiliki keyakinan akan hal-hal yang sebenarnya kata orang juga mustahil. Gue kayaknya perlu deh masuk dan bermain di wonderland untuk menikmati sebuah dunia dimana segala sesuatunya bisa hadir secara nyata, dimana sebelumnya cuma hadir dalam mimpi-mimpi gue.
Mungkin bukan seperti Alice yang memiliki keyakinan bahwa binatang bisa berbicara, dan ada tempat dimana dia bisa bertemu kelinci bermantel bulu atau kucing yang selalu tersenyum. Tapi setidaknya gue harus memiliki sebuah angan-angan sendiri akan sebuah dunia impian yang bisa aja gue miliki sejak masa kecil, dan yang tidak seorang pun bisa protes… Read the rest of this entry »
Ini ceritanya pas lagi ada sale. Gue baru aja beli celana jeans, harganya 199.000. Mata gue lebih tertarik sama celana itu daripada sama susunan angka yang tertera di papan harga yang digantung di atas display. Bagi gue harga itu tetap aja dua ratus ribu perak, walaupun jumlahnya masih kurang seribu. Tapi ada juga temen gue yang berpendapat beda, “eh lumayan lagi… kalo kita beli sepuluh item, kan berarti kita bisa dapat sepuluh ribu. Lumayan kan bisa dapet 2 roti di breadtalk!” Gue cuma menimpali, “Halah! Emang gue mau belanja celana sepuluh buat apaan!?”
Adalagi kejadian yang lain di sebuah mini market. Gue lagi ngantri di kasir dan di depan gue ada seorang ibu yang belanjaannya hampir 3 plastik banyaknya. Setelah membayar, dan si ibu menerima kembalian, ia lantas ngedumel pelan… “selalu deh, kembalian 500 perak dikasihnya permen! Kalo gak punya recehan mending gak usah buka toko aja…” Dalam hati, gue cuma bergumam, “Yah bu, cuma gopek ini… begitu aja kok itung-itungan banget sih…”
Setiap kali gue membayangkan masa kecil, setiap kali itu juga serasa ingin kembali. Nggak secara jasmani, tapi secara sifat psikologis aja… Karena gue selalu merasa bahwa segala sesuatu yang dirasain anak kecil selalu bisa membuat gue yang melihatnya aja, tersenyum. Hidup menjadi begitu sederhana, dan antusiasme selalu aja ada, kecuali kalo lagi ngantuk,.. ya iya lah!
Masa kecil gue cukup bahagia. Itu kata orang-orang terdekat gue di keluarga. Gue cukup bandel, walau kadang penakut. Gue juga dikenal rada pinter dan kreatif walau agak pendiem… Banyak banget kenangan masa kecil gue yang enak dan yang ga enak. Tapi gue hanya ingin kembali ke saat-saat mengasikkan dimana gue bisa menjadi pribadi yang jujur, polos, dan nggak takut apapun. Beda sama sekarang, hehehe























Komentar Terbaru